diajeng.id - Baru-baru ini diberitakan seorang perempuan (YTT) mengalami penyekapan dan penyiksaan di Bandung, Jawa Barat selama tiga tahun. Pelaku merupakan kekasihnya sendiri, Taufik Hidayat (TH) yang tega menyiksa Y.
Saat ditemukan, Y sudah dalam kondisi yang memprihatinkan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Ada banyak luka serius di tubuh, wajah, hingga infeksi mata.
Kondisi yang dialami Y ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan lebih kompleks tentang isu-isu kekerasan dalam relasi personal dan pentingnya kita memahami mengapa pergi dari relasi abusif tidaklah semudah yang dibayangkan.
Bagi sebagian orang, memutuskan untuk meninggalkan pasangan yang sudah tega menyakiti mungkin terkesan simpel: tinggal pergi saja, jangan sampai ada kontak, masalah pun beres.
Ketika korban memilih tetap bertahan, tidak seharusnya kita menyalahkan pilihan tersebut. Kita justru harus belajar memahami bagaimana kekerasan bisa bekerja dan mengapa keluar dari relasi abusif lebih sulit daripada yang terlihat di luar.
Riset Ilmiah Terkait Korban Sulit Pergi dari Pelaku Abusif
Hasil penelitian yang dilakukan Nancy R. Rhodes dalam artikel Why Do Battered Woman Stay?: Three Decades of Research yang dipublikasikan pada 1998 silam menunjukkan bahwa tidak ada satu teori pun yang mampu memberikan jawaban sederhana mengapa korban masih tetap bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan atau abusif.
Penelitian dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bahkan menemukan fakta bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang kompleks dan perempuan korban kekerasan juga berasal dari berbagai latar belakang.
Alasan bertahan di relasi abusif pun beragam.
Namun, keputusan untuk bertahan atau meninggalkan hubungan yang abusif sangat sering dipengaruhi oleh respons lingkungan sekitar, terutama apakah mereka memperoleh dukungan, empati, dan rasa aman untuk keluar dari relasi yang menyakitkan tersebut.
Mengapa Korban Bertahan di Hubungan Abusif?
Ada beberapa alasan mengapa korban masih tetap bertahan ketika berada dalam relasi yang penuh kekerasan dari pasangannya.
Yang paling umum terjadi karena korban merasa ketakutan. Korban biasanya mendapat ancaman kekerasan fisik jika mereka mencoba untuk pergi. Situs Florida State University (FSU) menyebutkan, ada banyak kasus korban yang bertahan karena mereka merasa takut akan keselamatan diri dan orang-orang yang berusaha membantunya.
Alasan selanjutnya, karena pelaku sering berjanji bahwa tidak akan mengulangi lagi perbuatannya dan korban percaya dengan janji perubahan yang disampaikan itu.
Korban juga merasa masih memiliki kontrol pada pasangan selama keduanya masih menjalin hubungan. Korban merasa lebih aman karena sudah memahami pola perilaku, suasana hati, dan pemicu kemarahan pasangan, sehingga mereka berusaha menghindari konflik yang lebih besar.
Tidak sedikit korban yang menganggap diri mereka bertanggung jawab untuk menyelamatkan atau memperbaiki pasangannya.
Di saat yang sama, kekerasan yang terus-menerus dapat mengikis harga diri korban hingga mereka mulai percaya bahwa mereka memang pantas diperlakukan buruk atau tidak akan menemukan kehidupan yang lebih baik di luar hubungan itu.
Bagi korban yang memiliki anak, ada ketakutan ketika pergi dari pasangan akan menimbulkan kekhawatiran untuk membesarkan anak seorang diri dan jadi orang tua tunggal, mereka juga sering menghadapi ancaman kehilangan hak asuh atau intimidasi lain dari pelaku.
Di sisi lain, perasaan cinta yang pernah tumbuh dalam hubungan tersebut juga tidak serta-merta hilang. Banyak korban sebenarnya tidak ingin hubungan berakhir, melainkan berharap kekerasan itu yang berhenti dan pasangan mereka berubah menjadi sosok yang dulu mereka cintai atau harapkan.
Faktor ekonomi pun memainkan peran yang besar.
Ketika korban bergantung secara finansial pada pelaku atau tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk memulai hidup baru, pilihan untuk pergi terasa sangat sulit.
Biaya tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, hingga tanggung jawab terhadap anak dapat membuat korban merasa terjebak dalam situasi yang tampaknya tidak memiliki jalan keluar.
Memahami kenapa ada orang bertahan dalam relasi abusif bukan berarti kita membenarkan atau menjustifikasi kekerasan yang terjadi. Penting untuk kita sadari bahwa keputusan pergi jauh lebih rumit daripada yang terlihat dari luar.
Alih-alih bertanya "kenapa dia tidak langsung pergi saja?", mungkin lebih tepat untuk berpikir ulang tentang "apa yang membuat dia merasa begitu sulit untuk pergi?"
Bagi kamu atau siapa pun yang sedang menjalani hubungan serius, penting untuk mengetahui tanda-tanda kekerasan sedari dini.
Kalau pasanganmu mulai menunjukkan perilaku mengontrol, merendahkan, mengintimidasi, memanipulasi, mengisolasi dirimu dari teman dan keluarga, atau melakukan kekerasan baik fisik maupun verbal, jangan mengartikannya sebagai bentuk perhatian atau cinta.
Yang terpenting, jangan bertahan atau melanjutkan relasi toksik tersebut dengan dalih "aku bisa mengubahnya". Perubahan hanya bisa terjadi jika pelaku sendiri menyadari kesalahannya dan bersedia bertanggung jawab atas perilakunya.
Cinta yang sehat tidak dibangun di atas rasa takut, ancaman, atau luka yang terus berulang. Tidak ada seorang pun yang harus membuktikan cintanya dengan bertahan dalam kekerasan.
Simak juga artikel lainnya seputar relationship di sini.
Editor: Sekar Kinasih