diajeng.id - Waktu ngobrol sama orang lain, apa kamu pernah merasakan nyaman, tetapi pada waktu sama tidak peduli apa bakal bisa membaur atau diterima oleh kelompok maupun komunitas mana pun?
Kalau kamu jawab iya, kamu mungkin termasuk orang dengan kepribadian otrovert. Bukan introvert, ekstrovert, atau ambivert.
Istilah "otrovert" diperkenalkan pada tahun 2025 oleh psikiater asal Amerika Serikat, Dr. Rami Kaminski, MD, dalam bukunya The Gift of Not Belonging.
Apabila introvert mengarahkan pandangan ke dalam diri dan ekstrovert ke luar, orang otrovert mengarahkan pandangannya ke arah yang berbeda; arah yang jarang dihadapi orang-orang lain pada umumnya.
"Ini adalah gagasan yang dianggap relevan oleh orang-orang dalam diri mereka sendiri," ujar peneliti psikologi kesehatan, Dr. Alivia Murdock-Frazier dilansir Cleveland Clinic.
Apa itu Kepribadian Otrovert?
Otrovert menggambarkan individu mandiri yang mampu bersosialisasi dengan baik. Namun begitu, dia tidak berupaya harus diakui orang lain. Dia tidak merasa perlu atau harus bisa bergabung dengan kelompok tertentu.
Menariknya, Dr. Kaminski berpendapat bahwa setiap orang sebenarnya dilahirkan sebagai otrovert. Namun, kondisi sosial dan pengaruh bahasa memaksa sebagian besar dari kita mencari rasa aman di dalam kelompok.
Bagi sebagian kecil orang yang menolak pengondisian budaya ini, mereka tetap menjadi non-belongers atau para "outsider abadi".
Penting dicatat bahwa otherness (ke-lain-an) bukanlah gangguan mental, kognitif, maupun emosional, melainkan murni sebuah sifat kepribadian.
Apa Tanda-Tanda Kamu Otrovert?
Meskipun konsep ini masih sangat baru dan belum didukung banyak penelitian klinis, ada beberapa karakteristik utama yang sering kali muncul pada diri seorang otrovert.
Salah satunya, seperti dinukil The Otherness Institute, adalah fenomena bluetooth. Layaknya perangkat bluetooh, mayoritas manusia juga akan mencari koneksi dan berpasangan dengan orang lain.
Tanda selanjutnya dari seorang otrovert, mereka lebih menyukai hubungan interpersonal mendalam satu lawan satu daripada dinamika kelompok besar. Mereka bisa menghabiskan tiga jam mendiskusikan satu ide dengan seseorang, lalu bisa tidak saling berbicara selama berminggu-minggu tanpa merasa tersinggung satu sama lain.
Mereka juga bisa tampil seperti ekstrovert di hadapan banyak orang. Seorang otrovert sering kali bertindak sebagai "pseudo-ekstrovert". Di depan publik, mereka bisa terlihat sangat ramah, pandai bergaul, bahkan memimpin dalam situasi sosial. Di balik itu semua, mereka tetap merasa menjadi "orang luar" yang mandiri.
Selain itu, otrovert juga sangat mandiri dalam mengambil keputusan. Mereka jarang meminta saran dari orang lain dan lebih memilih membuat keputusan sendiri secara otonom.
Perbedaannya dengan Introvert, Ekstrovert, dan Ambivert
Untuk memahami otrovert dengan lebih jelas, kita bisa mencoba bandingkan dengan tipe-tipe kepribadian yang lainnya.
Introvert, menurut Cleveland Clinic, merupakan pribadi yang membuat batasan secara sosial. Bagi mereka, bersosialisasi dapat menguras energi, dan mereka membutuhkan waktu menyendiri untuk memulihkan energi.
Sebaliknya, otrovert tidak selalu mencari kesunyian atau menghindari keramaian. Mereka tetap bisa menikmati keramaian dalam acara kumpul-kumpul atau sosialiasi, tetapi mereka tidak merasa harus dikelilingi orang banyak.
Ekstrovert adalah kebalikan dari introvert. Mereka bisa mendapatkan energi dengan berada di sekitar orang lain atau kelompok. Baik introvert maupun ekstrovert pada dasarnya bersifat komunal dan terikat pada kelompok.
Sementara ambivert merujuk pada tipe kepribadian yang berada tepat di tengah-tengah spektrum, menyeimbangkan kedua sifat introvert dan ekstrovert.
Berbeda dari ketiganya, otrovert tidak didefinisikan oleh dari mana mereka menarik energi sosial.
Sisi Positif Kepribadian Otrovert: Sebuah Hadiah Istimewa
Menjadi orang dengan kepribadian otrovert bisa terasa berat, bahkan mungkin sering disalahpahami oleh orang lain. Di satu sisi, kepribadian ini menyimpan potensi yang luar biasa besar.
Salah satunya, orang-orang otrovert cenderung mengembangkan pemikiran yang mandiri lantaran mereka tidak bergantung pada validasi kelompok. Mereka juga mampu melahirkan ide-ide orisinal karena tidak terbebani keharusan menyesuaikan diri dengan norma kelompok.
Melansir situs The Guardian, potensi lainnya seorang otrovert, adalah kebal terhadap "Hive Mind". Sejarah dipenuhi oleh para pemikir otrovert yang mampu melihat bahaya dari fanatisme kelompok sebelum orang lain menyadarinya.
Tokoh-tokoh besar seperti Albert Einstein, Frida Kahlo, Franz Kafka, dan George Orwell adalah beberapa nama yang bisa dikelompokkan sebagai otrovert.
Tipe otrovert menunjukkan bahwa kita tidak harus selalu "membaur" untuk bisa berkontribusi. Kalau kamu merasa dirimu sebagai outsider, ingatlah bahwa itu bukan keanehan atau kekurangan.
Dengan caramu sendiri yang orisinal dan autentik, nikmatilah hidupmu.
Simak juga artikel lainnya seputar kepribadian manusia di sini.
Editor: Sekar Kinasih