Menuju konten utama
Esai Diajeng

Sisi Lain Rumah: Sense of Belonging & Makna Tempat untuk Pulang

Dari keluarga, teman terdekat, pasangan, hewan peliharaan, hingga dunia idola fandom, semua bisa jadi "rumah" bagi siapa pun yang merasa aman di dalamnya.

Sisi Lain Rumah: Sense of Belonging & Makna Tempat untuk Pulang
Header Diajeng Tempat Pulang. foto/istockphoto

diajeng.id - Pulang tidak selalu bertujuan ke bangunan yang disebut rumah.

Pulang bisa saja ke tempat mana pun yang kita anggap nyaman, bahkan ke sosok-sosok yang kita sayangi. Meskipun tidak memiliki struktur yang berbentuk rumah, sosok manusia atau komunitas tertentu bisa jadi rumah atau tempat pulang yang paling aman.

Dalam padanan kata bahasa Inggris, rumah memiliki dua arti, yaitu “house” dan “home”. Dalam jurnal The Cambridge Encyclopedia of Anthropology (2019), Farhan Samanani dan Johannes Lenhard menjelaskan, “Istilah ‘house’ merujuk pada bentuk fisik dan sering bersifat umum dari tempat tinggal suatu masyarakat tertentu. [...] Sebaliknya, konsep ‘home’ menekankan perasaan subjektif untuk terhubung dengan dunia.”

Dalam konsep "home", rumah tidak sekadar dibayangkan bentuk fisik atau materialnya. Alih-alih merenungkan arsitektur rumah, kita lebih terpikir tentang perasaan yang datang darinya.

“Home” mencakup proses kita dalam menghubungkan kenangan, emosi, dan praktik hidup sehari-hari. Perasaan yang muncul dari situlah yang lantas bisa kita maknai sebagai rumah untuk tempat berpulang bagi hati kita.

“Sense of Belonging”: Fondasi Rumah Kita

Tidak semua “home” adalah rumah, tidak semua rumah adalah “home”. Bagi banyak orang, “home” terletak pada orang-orang terdekatnya atau pihak-pihak yang senantiasa mendukung atau menjadi "support system".

Luisa T. Schneider dalam riset tentang tunawisma di Leipzig, Jerman yang terbit di jurnal Housing Studies (2020) mendapati bahwa objek penelitiannya memiliki perspektif serupa. Para tunawisma sudah kehilangan rumah, sehingga mereka mengembangkan perspektif tersendiri terhadap sesuatu yang bisa disebut sebagai rumah.

“Jalanan membuatmu membentuk keluarga pilihan. Kami adalah komunitas. Kami tidak mengecualikan siapa pun, kami membuat ruang untuk orang baru. [...] Jika kamu mau pergi, pergilah. Jika kamu ingin kembali, jalanan masih sama, berarti kamu telah pulang,” tutur tunawisma bernama Fin (36).

Kendati tidak memiliki rumah, mereka membentuk “home” lewat kebersamaan dengan sesama tunawisma. “Home” dirasakan sebagai sebuah ekosistem yang memungkinkan mereka untuk merasa dirawat oleh orang lain.

Tunawisma rentan merasakan penelantaran dari orang sekitarnya. Oleh karena itu, ruang yang membuat mereka tidak merasa telantar adalah “home” sesungguhnya.

Mengapa "Sense of Belonging" Penting?

“Homemaking” atau proses dalam menjadikan sesuatu sebagai rumah lekat dengan perasaan “sense of belonging”. Dalam arti sederhananya, “sense of belonging” merujuk pada perasaan diterima dan dihargai yang menjadikan kita bagian dari suatu lingkungan.

“Sense of belonging” sebetulnya mirip dengan perasaan diperhatikan dan dirawat, yang berkaitan dengan keterikatan kita dengan orang di sekitar.

Perasaan tersebut dirasakan secara universal oleh manusia. Dalam penelitian berjudul “Sense of Belonging, Meaningful Daily Life Participation, and Well-Being: Integrated Investigation” (2023),’ dikatakan bahwa “sense of belonging” merupakan kebutuhan dasar manusia.

Aspek yang mendukung kemunculan perasaan ini salah satunya adalah otonomi atau kemampuan diri sendiri untuk memilih.

Dengan adanya kebebasan memilih, kita tidak terikat untuk menentukan komunitas mana yang akan menjadi tempat berpulang kita serta seberapa besar partisipasi kita untuk mendapatkan “sense of belonging”.

Di dalam komunitas, resiprositas atau perasaan timbal-balik sangatlah penting. Resiprositas berarti kita saling percaya dan mendukung sampai terbentuknya perasaan merasa diterima tersebut.

Ekosistem sehat dalam suatu komunitas menjadi salah satu pendukung. Lingkungan yang tidak toksik mendorong kita merasa terikat dan menjadi bagian di dalamnya.

Penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara “sense of belonging” dengan kesejahteraan mental. Orang-orang yang memiliki “sense of belonging” terhadap sesuatu cenderung memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi.

Di tengah dunia yang tidak pasti, “sense of belonging” dapat menjadi menjadi jangkar atau pegangan yang membantu kita merasa aman dan tetap terhubung dengan identitas diri.

Dari lensa medis, “sense of belonging” bahkan bisa berkorelasi dengan kesehatan tubuh, baik secara mental maupun fisik.

Jan Bonhoeffer M.D. dalam artikelnya di Psychology Today menjelaskan bahwa perasaan keterikatan membantu melepaskan hormon oksitosin yang berperan memperkuat kepercayaan dan mengurangi perasaan stres dalam tubuh.

Jadi, dari mana pun sumber “sense of belonging” yang kamu yakini, perasaan ini selalu penting untuk dijaga. Dari keluarga, teman terdekat, pasangan, hewan peliharaan, hingga dunia idola atau fandom, semua bisa dijadikan "rumah" untuk berpulang bagi siapa pun yang merasa nyaman dan aman berada di dalamnya.

Kalau kamu, apa atau siapa “rumah” yang membuatmu nyaman?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih