Menuju konten utama
Jakarta Biennale 2026: Kebal

Pameran PannaLab: Merekam Tradisi Keluarga dan Jejak Kekerabatan

Pameran bertajuk Satu, Dua, Tiga. Sayang Semuanya oleh PannaFoto Institute berlangsung di PannaLab, Pekayon, Bekasi sampai 30 Oktober 2026.

Pameran PannaLab: Merekam Tradisi Keluarga dan Jejak Kekerabatan
Pameran PannaFoto Insitute, bagian dari aktivasi ruang Jakarta Biennale 2026: KEBAL, berlangsung 16-30 Oktober 2026 di PannaLab, Pekayon, Bekasi. (FOTO/Arrazani Hafidza)

diajeng.id - Bagaimana jika relasi, pengalaman, dan dinamika hidup keluarga perkotaan Jakarta dieksplorasi oleh para seniman di sudut ruang yang intim dan akrab? Hasilnya dapat kita selami dalam pameran bertajuk Satu, Dua, Tiga. Sayang Semuanya oleh PannaFoto Institute yang berlangsung di PannaLab, Pekayon, Bekasi pada 16-30 Oktober 2026.

PannaLab, mencakup ruang kreatif, perpustakaan buku foto, dan kedai kopi ini, adalah satu satu ruang yang diaktivasi dalam Ruang Tamu, bagian dari Jakarta Biennale 2026: Kebal. Ruang Tamu berupaya mengaktivasi ruang-ruang komunitas dan kolektif di beberapa lokasi di Jakarta.

Dalam spirit tersebut, PannaLab merangkul seniman untuk merawat ingatan terdekat dalam kesehariannya, dari kehangatan keluarga, kebudayaan yang diwariskan, pertanyaan tentang eksistensialisme, hingga realitas sebagai diaspora di luar negeri.

Anggy Sabrita, fotografer sekaligus panitia penyelenggara pameran, menjelaskan bahwa pameran ini mengajak pengunjung melihat bagaimana manusia saling terhubung melalui berbagai pengalaman yang mereka miliki.

Salah satu karya yang ditampilkan dalam pameran ini bertajuk Nyorog Sunyi, sebuah kolaborasi tiga seniman Andika Budiman, Eka Nickmatulhuda, dan Fransiskus A. Djoyosantyo (Djoyo) dengan warga Rawa Belong, Jakarta Barat.

Melalui karya fotografi, video, dan zine, mereka berusaha menggali kembali ingatan masyarakat tentang tradisi nyorog serta cerita keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Padahal, kalau nggak ada nyorog, keluarga Betawi nggak ada. Karena nggak ada kisah cinta itu,” tutur Eka Nickmatulhuda pada Diajeng Tirto saat ditemui pada hari pembukaan pameran (16/10).

Eka merupakan fotografer dokumenter yang berasal dari keluarga Betawi di Jakarta Barat. Setelah lebih dari sepuluh tahun bekerja sebagai pewarta Tempo, Eka memutuskan untuk bekerja secara independen. Saat ini, Eka juga menjadi kontributor untuk Project Multatuli dan sejumlah organisasi nonpemerintah (NGO) serta media internasional.

Bagi Eka, nyorog bukan sekadar tradisi menghantarkan makanan untuk kerabat atau tetangga. Praktiknya mustahil dilepaskan dari kisah percintaan dalam masyarakat Betawi, cikal bakal yang membentuk sebuah keluarga.

Ketertarikan Eka mengangkat tradisi nyorog bermula dari diskusi bersama temannya yang turut mendorong untuk mengeksplorasi kebudayaan Betawi melalui praktik sehari-hari.

Eka menurutkan, berdasarkan narasumber para orang tua yang Eka temui selama proses riset, nyorog juga merupakan sebuah cara bagi laki-laki untuk menyampaikan ketertarikannya kepada perempuan dengan mengirimkan makanan sebagai hantaran.

Di masa lalu, ketika permukiman masyarakat Betawi masih berjauhan dan kesempatan bagi laki-laki dan perempuan untuk bertemu cenderung terbatas, nyorog menjadi salah satu cara untuk memulai hubungan. Meski begitu, perempuan tetap memiliki pilihan untuk menerima atau menolak hantaran tersebut.

Bersama Andika dan Djoyo, Eka kemudian mengembangkan gagasan tersebut menjadi karya Nyorog Sunyi. Melalui karya ini, mereka berusaha menelusuri kemunculan tradisi tersebut, bagaimana praktiknya perlahan menghilang, serta apa yang masih bisa diingat dari cerita di baliknya.

PannaLab Bekasi

Karya Nyorog Sunyi, kolaborasi antara seniman dengan warga Rawa Belong. (FOTO/Arrazani Hafidza)

Ketiga seniman menghadirkan ingatan tentang keluarga melalui medium yang berbeda. Eka, misalnya, menampilkan bangku dan meja yang menggambarkan tempat laki-laki duduk ketika hendak berkenalan dengan keluarga perempuan.

“Di sini bukan hanya display keluargaku ya, ada display keluarganya Djoyo, keluarganya Andika. Karena kami setelah residensi jadi lebih dekat, sepertinya bisa eksplor ingatan kita secara kolektif.”

Eka juga menghadirkan video yang menampilkan keluarganya, sehingga cerita tentang nyorog dapat dipahami melalui pengalaman personal dan kehidupan keluarga yang menjadi bagian dari kesehariannya.

Andika menggunakan zine sebagai medium cerita tentang dinamika keluarganya. Di dalam sebuah peti kayu, kita dapat menemukan susunan zine tersusun dengan ilustrasi yang beragam. Andika juga menyediakan meja, alat tulis, dan kertas kosong untuk pengunjung yang ingin menuangkan isi hatinya melalui kreasi zine.

PannaLab Bekasi

Sudut di PannaLab untuk pengunjung yang ingin membuat kreasi zine, bagian dari karya pameran Nyorog Sunyi. (FOTO/Arrazani Hafidza)

Sementara Djoyo menghadirkan karya fotografi yang dipadukan dengan sapuan cat air. “Melalui residensi di Rawa Belong tempat Eka inilah kita berusaha juga menangkap, bagaimana anak-anak Rawa Belong mengingat ingatan soal keluarga?” ujar Djoyo yang mengajak anak-anak Rawa Belong untuk ikut memotret bersamanya.

“Jadi, sejarah yang dituliskan dan disebarluaskan di internet hanya satu versi. Nah, aku di sini memberi versi yang berbeda. Nyorog itu kisah cinta. Nyorog itu love story yang cute,” ujar Eka.

Di mata Eka, kebudayaan Betawi kerap dikenal melalui bentuk-bentuk yang bersifat pertunjukan atau mudah dikenali secara visual. Padahal, ada pula tradisi yang tecermin dari hubungan antarmanusia sehari-hari.

Tradisi nyorog, menurut Eka, juga menjadi pengingat bahwa sejarah keluarga tidak terbentuk begitu saja. Ada pertemuan, ketertarikan, dan kisah cinta yang mendahuluinya.

Melalui Nyorog Sunyi, ketiga seniman mengajak kita untuk tidak sekadar mengapresiasi nyorog sebagai tradisi masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan ingatan kolektif keluarga Betawi yang jejaknya masih dapat ditelusuri hingga kini.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Arrazani Hafidza

diajeng.id - Binar
Kontributor: Arrazani Hafidza
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih