Menuju konten utama

Dari The Met sampai ARTJOG: Dilema Etika Penyelenggaraan Seni

Pada 2019, The Met di New York dan Museum Tate di London berhenti menerima donasi dari keluarga Sackler, pemilik pabrik farmasi problematik Purdue Pharma.

Dari The Met sampai ARTJOG: Dilema Etika Penyelenggaraan Seni
Header Diajeng Etika di Balik Estetika Pameran Seni. foto/istockphoto

diajeng.id - Festival, pameran, dan pasar seni rupa kontemporer ARTJOG 2026 bertajuk Ars Longa: Generatio dibuka dengan cerita yang tidak biasa.

Kritisisme membanjiri penyelenggaraan peristiwa seni tahunan di Yogyakarta tersebut, terkhusus menyoroti keterlibatan Didit Hediprasetyo, putra dari Presiden Prabowo Subianto, sebagai salah satu pendukung acara.

Keterlibatannya melalui Didit Hediprasetyo Foundation (DHF) melahirkan diskusi serius tentang risiko intervensi ruang kemerdekaan seni.

Ragam instalasi seni di ARTJOG yang ditujukan sebagai kritik terhadap kondisi politik saat ini—terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) sampai Aksi Kamisan—juga membuat beberapa pihak merasa keterlibatan keluarga presiden tersebut menyiratkan ironi.

Meski penyelenggara kemudian membatalkan agenda sambutan pembukaan oleh Didit dan menurunkan logo yayasannya dari materi publikasi acara, tidak sedikit yang tetap menyayangkan salah satu peristiwa besar dalam rangkaian “Lebaran Seni” tersebut.

Kegaduhan ini sebenarnya bukan kali pertama. Pada ART|JOG|9 bertema Universal Influence tahun 2016, protes dilayangkan oleh sejumlah komunitas seniman dan aktivis lingkungan pada penyelenggara karena melibatkan PT Freeport Indonesia sebagai salah satu sponsor.

Menurut pengkritik, penyelenggara dipandang tidak peka terhadap persoalan dan penindasan yang dialami warga Papua dengan kehadiran perusahaan eksplorasi tambang tersebut selama sekian puluh tahun.

Etika Perhelatan Seni dan Kritik Publik

Gesekan ketegangan antara etika dan idealisme kreatif ini nyatanya bisa kita temukan di berbagai perhelatan seni dan institusi seni di berbagai tempat.

Pada 2019 lalu, seratus pegawai dari museum seni kontemporer yang berdiri sejak 1930 di New York, Whitney Museum of American Art, pernah melayangkan surat agar wakil direksi museum, Warren Kanders, mengundurkan diri.

Safariland, pabrik milik Kanders yang memproduksi alat-alat taktis untuk polisi dan militer, ternyata membuat gas air mata yang digunakan oleh aparat pada para imigran yang datang dengan tangan kosong, termasuk anak-anak, di perbatasan Meksiko-AS.

Fakta ini tersebar luas di kalangan pemerhati seni. Sekitar 120 seniman, termasuk akademisi dan aktivis, turut meminta Kanders segera undur diri.

Seniman menyoroti bahwa keterlibatan Kanders bertentangan dengan visi dan misi Museum Whitney. Museum Whitney sebagai institusi seni progresif tidak seharusnya berafiliasi dengan Kanders, pengusaha yang dapat untung dari penjualan senjata untuk menindas umat manusia.

Masih di New York, The Metropolitan Museum of Art atau The Met memutuskan untuk berhenti menerima donasi dari keluarga Sackler pada 2019.

Di satu sisi, keluarga kaya raya ini telah berkontribusi dalam perkembangan The Met selama nyaris setengah abad. Nama Sackler pun didedikasikan pada tujuh galeri di The Met, yang pada 2021 akhirnya dihapus semua.

Selain The Met, jaringan museum bergengsi Tate di Inggris Raya, termasuk museum kontemporer Tate Modern dan museum karya seni klasik Tate Britain di London, juga berhenti menerima donasi dari keluarga Sackler pada 2019. Tiga tahun kemudian, judul galeri dan penanda arah yang menyematkan nama keluarga Sackler dihapus di seluruh jaringan museum Tate.

Keputusan The Met dan Tate memutus relasi dengan keluarga Sackler dilandasi oleh peran perusahaan farmasi mereka, Purdue Pharma, dalam memproduksi OxyContin, obat pereda nyeri yang menjadi salah satu pemicu utama epidemi opioid di Amerika Serikat.

Sejak dipasarkan secara masif pada 1996, penggunaan opioid yang risiko candunya tinggi ini meningkat drastis sampai menimbulkan lonjakan kasus overdosis serta kematian. Namun begitu, petinggi Purdue bergeming dan terus meraup keuntungan besar-besaran dari penjualan OxyContin.

Purdue Pharma akhirnya bangkrut, resmi berhenti beroperasi tahun ini, dan harus membayar 7,4 miliar dolar AS (sekitar Rp120 triliun) untuk menyelesaikan berbagai tuntutan hukum terkait krisis opioid yang mereka timbulkan.

Di Australia, Luca Belgiorno-Nettis selaku ketua Sydney Biennale dan pemimpin perusahaan Transfield Holdings yang mensponsori festival seni tersebut, undur diri dari posisinya di Biennale pada 2014 setelah protes berkepanjangan dan ancaman boikot dari para seniman.

Transfield Holdings dan anak perusahaannya, Transfield Services, adalah kontraktor yang mengelola pusat-pusat detensi di Negeri Kanguru. Pemerintah Australia meregulasikan migran dan pencari suaka di pusat-pusat detensi, termasuk yang dikelola oleh perusahaan milik keluarga Belgiorno-Nettis. Mirisnya, banyak laporan kekerasan terhadap para migran di pusat-pusat detensi.

Belgiorno-Nettis selaku bos Transfiled Holdings dikritik sudah ikut melanggengkan praktik tidak etis dan tidak manusiawi. Para seniman Biennale pun menolak Belgiorno-Nettis sebagai bagian dari spirit seni Biennale yang menjunjung tinggi kemanusiaan.

Menariknya, Sydney Biennale didirikan oleh keluarga Belgiorno-Nettis pada 1973 dan bertahan sekian dekade berkat dukungan sponsor dari mereka.

Dilema Keberlangsungan Peristiwa Seni

Jika berpegang pada idealisme, seni tidak seharusnya tercemar oleh intervensi maupun afiliasi dengan pihak-pihak yang prinsipnya berseberangan dengan esensi penciptaan karya itu sendiri.

Pada waktu sama, segala bentuk proses kreatif—termasuk juga penyelenggaraan pameran seni itu sendiri—bukanlah peristiwa yang “murah”. Mencari dukungan dari orang-orang kaya dan perusahaan besar jadi salah satu upaya realistis untuk membantu kelancaran proses-proses kreatif.

Dunia seni tengah dihadapkan pada dilema, mungkinkah mempertahankan keberlangsungan finansial tanpa mengorbankan nilai dan integritas yang dijunjung oleh komunitas seniman?

Di era yang semakin kritis dan terbuka, publik mulai lebih peka dan sadar terhadap isu-isu Hak Asasi Manusia (HAM), eksploitasi lingkungan, dan etika bisnis. Artinya, sumber pendanaan untuk peristiwa-peristiwa seni semakin sulit dilihat sebagai realitas yang netral atau apolitis.

Menurutmu sendiri, bagaimana sebaiknya kita memandang peran sponsor-sponsor di berbagai perhelatan dan institusi seni?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina & Sekar Kinasih

diajeng.id - Binar
Penulis: Maria Gratia Rosarina & Sekar Kinasih
Editor: Sekar Kinasih