Menuju konten utama

Patriarki dalam Hubungan: Kenali Tanda-Tandanya

Patriarki turut membentuk ekspektasi tentang peran gender, kekuasaan, dan emosi dalam hubungan. Lalu apa saja tanda-tandanya? Simak di artikel ini.

Patriarki dalam Hubungan: Kenali Tanda-Tandanya
Ilustrasi patriarki dalam relasi. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Patriarki kerap dikaitkan dengan sistem sosial yang menempatkan laki-laki pada posisi lebih dominan dibandingkan perempuan. Namun, pengaruhnya tidak hanya terlihat dalam dunia kerja, politik, atau kehidupan bermasyarakat.

Patriarki juga dapat hadir dalam hubungan romantis, memengaruhi cara pasangan berkomunikasi, membagi tanggung jawab, hingga menentukan kebutuhan siapa yang lebih diprioritaskan.

Dalam artikel "How Does Patriarchy Affect Relationships?", Relational Life Foundation menjelaskan bahwa patriarki turut membentuk ekspektasi tentang peran gender, kekuasaan, dan emosi dalam hubungan.

Laki-laki sering didorong untuk selalu kuat dan tidak menunjukkan kerentanan, sementara perempuan kerap diharapkan menjaga keharmonisan serta mendahulukan kebutuhan orang lain. Jika terus dibiarkan, pola ini dapat menghambat hubungan yang setara dan saling terhubung.

Apa Itu Patriarki dalam Hubungan?

Patriarki dalam hubungan adalah pola relasi ketika kekuasaan dan tanggung jawab tidak dibagi secara setara, melainkan mengikuti anggapan tentang bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya bersikap.

Dalam pola ini, satu pihak dapat merasa lebih berhak memimpin atau menentukan keputusan, sedangkan pihak lainnya terbiasa mengalah dan menyesuaikan diri.

Bridget Harilaou, dalam tulisannya di Medium berjudul "Patriarchy in Your Love Life", menyoroti bagaimana perempuan sering menanggung lebih banyak pekerjaan rumah tangga, pengasuhan anak, serta beban emosional.

Pengorbanan tersebut kerap dianggap sebagai pilihan pribadi, padahal dapat dipengaruhi oleh norma gender yang sudah mengakar di masyarakat.

Ciri-Ciri Patriarki dalam Hubungan

Beberapa tanda patriarki dalam hubungan yang dapat dikenali akan dibahas di bawah ini.

Pertama yang paling terlihat adalah, keputusan penting yang lebih banyak ditentukan oleh satu pihak. Pihak yang mendominasi selalu merasa bahwa ia adalah orang yang paling berhak menentukan segala hal, sementara pendapat pasangannya, khususnya jika tidak searah, akan kurang dipertimbangkan.

Tanda selanjutnya, terlihat ada pembagian tanggung jawab rumah tangga yang tidak seimbang. Salah satu pasangan, diharapkan mengurus pekerjaan domestik, pengasuhan, dan kebutuhan emosional keluarga, bahkan ketika keduanya sama-sama bekerja. Akibatnya, beban fisik dan mental tidak terbagi secara adil.

Lalu tanda ketiga, emosi dan kebutuhan pribadi sulit disampaikan secara terbuka. Laki-laki mungkin merasa harus menyembunyikan kesedihan atau ketakutan agar tetap terlihat kuat. Sebaliknya, perempuan bisa terbiasa menahan pendapat demi menjaga hubungan tetap harmonis.

Keempat, terdapat sikap mengontrol yang dianggap sebagai bentuk kepemimpinan, sedangkan keberatan atau upaya menetapkan batas dipandang sebagai pembangkangan. Dalam bentuk yang lebih serius, keyakinan bahwa satu pihak berhak menguasai pihak lain juga dapat digunakan untuk membenarkan perilaku kasar atau kekerasan.

Melalui situs resminya, Psikolog dan relationship coach Dr. Gloria Lee, dalam artikel "How Patriarchy Sabotages Relationships", juga membahas dampak norma patriarkal terhadap komunikasi, keintiman, serta pembagian kerja domestik dan emosional. Meski begitu, tanda-tanda tersebut perlu dilihat dari pola yang berulang, bukan hanya satu kejadian yang berdiri sendiri.

Dampak Patriarki dalam Hubungan

Hubungan patriarkal tentu dapat memicu kesalahpahaman, konflik, rasa kesal yang menumpuk, hingga jarak emosional. Ketika satu pihak terus mengalah dan pihak lain sulit terbuka atau menerima masukan, kebutuhan keduanya berisiko tidak terpenuhi.

Dalam kondisi tertentu, ketimpangan kuasa juga dapat memperbesar risiko kontrol berlebihan dan kekerasan.

Patriarki tidak hanya membatasi perempuan, tetapi juga dapat membuat laki-laki merasa harus menekan emosi dan memenuhi standar maskulinitas yang kaku.

Untuk membangun hubungan yang lebih sehat, pasangan perlu membicarakan kebutuhan secara terbuka, membagi tanggung jawab dengan adil, dan mengambil keputusan bersama. Sebab, hubungan yang setara bukan tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan bagaimana kedua pihak merasa dihargai, aman, dan didengar.

Artikel lainnya terkait relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih