diajeng.id - Memiliki pasangan dengan kesamaan minat, karakter, dan etos kerja adalah prinsip yang banyak diamini banyak orang.
Nyatanya, kita adalah individu yang berangkat dari latar belakang berbeda-beda, sehingga pada satu titik, kita harus siap dengan realitas bahwa pasangan yang kita gadang-gadang memiliki kesamaan dengan kita pun bisa jadi "berbeda" dan "berjarak" di beberapa aspek.
Sebelumnya, kita sudah mendengar tentangswag-gap (perbedaan gaya dan penampilan pada pasangan) serta intelligence gap (perbedaan tingkat kecerdasan atau cara berpikir pasangan yang disebut-sebut lebih menguras energi dibanding age gap atau perbedaan usia).
Kini, ada pula "wellness gap". Istilah ini merujuk pada ketimpangan atau jurang perbedaan antara pasangan dalam hal kesadaran, kebiasaan, dan prioritas untuk menjaga kebugaran serta gaya hidup sehat.
Fenomena ini, seperti dijelaskan laman GQ Magazine, tecermin dalam situasi ketika satu pihak konsisten berlatih lari untuk persiapan maraton atau rutin ikut kelas yoga dan pilates, sementara pasangannya lebih memilih maraton menonton serial televisi di sofa, minum soft drink manis-manis, atau nongkrong di kafe.
Mengapa Wellness Gap Bisa Terjadi?
Pesatnya pertumbuhan industri kesehatan global yang bernilai triliunan dolar telah mengubah aktivitas olahraga dan exercise dari sekadar hobi menjadi identitas dan gaya hidup.
Ketika dinamika pergeseran tersebut muncul dalam suatu relasi, konsep perawatan diri (self-care) bagi satu orang bisa saja dianggap seperti penderitaan bagi pasangannya.
Perbedaan cara memanfaatkan waktu luang dan mengeluarkan anggaran ini pun berisiko memicu gesekan moral atau rasa saling menghakimi.
Dampak wellness gap dirasakan Louis (39). Mantan kekasihnya saat itu semakin sering menghabiskan waktu gym. Awalnya, mereka memang berolahraga bersama, akan tetapi seiring berjalannya waktu tercipta jarak antara keduanya. Sang kekasih sangat antusias sehingga menjadikan aktivitas di gym sebagai identitas inti dirinya.
"Aku sendiri enggak pernah terlalu tertarik dengan hal itu (ke gym)," ujar Louis.
Pada satu-satunya hari libur bersama dalam seminggu, sang kekasih lebih memilih pergi ke gym sendirian daripada mengunjungi pameran seni bersama Louis. Lambat laun, hubungan mereka merenggang sampai akhirnya putus.
Pengalaman serupa dialami Esme Gordon-Craig (24), yang mengakhiri hubungannya karena merasa tertekan dengan obsesi pasangannya pada aplikasi pelacak lari Strava.
Perbedaan ini membuatnya merasa tidak sepadan dan bersalah.
"Sebagian besar temanku merasa heran Strava merupakan alasanku mengakhiri hubungan dengannya. Lari, khususnya, telah menjadi tren sosial yang begitu populer, sehingga sulit untuk menjelaskannya sebagai hal negatif kepada orang lain saat ini," jelas Esme.
Di media sosial, dinamika ini juga melahirkan istilah populer seperti "almond boyfriend" untuk menggambarkan pasangan yang terlalu ekstrem dalam mengatur porsi nutrisi dan kebiasaannya menjaga kebugaran.
Menghadapi Pasangan dengan Kebiasaan Makan Tidak Sehat
Kemudian, bagaimana jika kita berada dalam posisi ingin hidup lebih sehat, tetapi pasangan belum siap?
Ahli gizi terdaftar Wendy Lopez, melalui artikel SELF "You Want to Eat Healthier. Your Partner Does Not. Here's How to Handle That", membagikan sejumlah langkah bijak.
Langkah pertama, menurut Wendy, kamu perlu menghormati dan memahami bahwa pasanganmu adalah individu yang memiliki kesiapan dan keinginan tersendiri terhadap pola makannya. Memaksa atau mempermalukan pasangan agar mengikuti pola makan sehat bukanlah pendekatan jangka panjang yang baik bagi relasi.
Langkah kedua, tetap konsisten pada diri sendiri. Jangan mengorbankan pilihan sehat yang sudah kamu pilih hanya karena pasangan tidak mengikutinya, tetapi juga jangan memaksakan kehendak padanya.
Selanjutnya, kamu juga perlu mencari dukungan atau bentuk komunitas sehat. Bebaskan pasanganmu dari tekanan untuk memenuhi seluruh ekspektasi diri kamu. Cara terbaik adalah dengan berbagi antusiasme dan tujuan hidup sehat ini bersama teman, rekan kerja, atau komunitas yang sefrekuensi denganmu.
Selain itu, kamu juga bisa menciptakan momen romantis bersama yang mengakomodasi pilihan berbeda ini. Cari titik temu seputar makanan, seperti belanja bahan makanan bersama, memasak hidangan yang disukai berdua, atau memilih restoran yang menyediakan variasi menu untuk kedua pihak.
Menyikapi Pasangan yang Tidak Tertarik Menjaga Kebugaran
Selain masalah makanan, kebiasaan latihan fisik juga sering memicu ketegangan. Alison Heilig dari Fit Bottomed Girls membagi beberapa saran tentang menjalani relasi dengan pasangan yang tidak tertarik menjaga kebugaran.
Saran pertama, tidak perlu mengomel. Menegur pasangan berulang kali layaknya orang tua hanya akan membuat mereka menutup diri.
Kedua, jadilah teladan positif. Tunjukkan energi dan manfaat positif dari gaya hidup sehatmu tanpa perlu menggurui. Contoh praktis sehari-hari biasanya lebih menginspirasi daripada hanya ucapan dan kata-kata yang keluar langsung.
Berikutnya, pahami rasa insecure pasangan. Ketika salah satu pihak menjadi lebih bugar dan percaya diri, pasangan yang kurang aktif bisa saja merasa terancam atau takut kehilangan. Memberikan rasa aman (reassurance) dan kasih sayang sangat penting untuk meredakan kekhawatiran tersebut.
Kemudian, cobalah berkompromi dan mencari kegiatan bersama. Jika pasangan tidak suka olahraga berat seperti lari, ajaklah melakukan aktivitas ringan yang nyaman bagi kedua pihak, seperti jalan santai di sore hari sambil ngobrol-ngobrol.
Masih menukil GQ Magazine, terapis hubungan Jeff Guenther menekankan bahwa pasangan sebenarnya tidak berkonflik lantaran aktivitas wellness itu sendiri, melainkan karena kehilangan waktu berkualitas (quality time) bersama.
Wellness gap tidak harus menjadi akhir dari sebuah hubungan. Dengan menerapkan komunikasi yang terbuka, tetap menghormati pola makan pasangan, serta komitmen untuk tetap menghabiskan quality time bersama, ketimpangan ini dapat dikelola tanpa sampai mengorbankan relasi maupun kesehatan pribadi.
Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih