Menuju konten utama

Mengakui Privilege di Tengah Derasnya Narasi Kerja Keras

Sudahkah menyadari privilege yang kita miliki? Tanpa kesadaran itu, ketidaksetaraan bisa terus langgeng tanpa kita sadari peran kita di dalamnya.

Mengakui Privilege di Tengah Derasnya Narasi Kerja Keras
Header diajeng Humble with Privilege. tirto.id/Quita

diajeng.id - Kita harus berani dan jujur mengakui bahwa kita semua punya garis start berbeda-beda.

Ada yang lahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi mapan sehingga anak-anak mereka dibesarkan dengan segala kemudahan akses terhadap pendidikan dan aset-aset kekayaan.

Ada pula keluarga yang secara ekonomi kurang mapan, tetapi dibesarkan oleh orang tua dengan wawasan dan kesadaran pendidikan tinggi sehingga anak-anak mereka dapat berprestasi.

Di sisi lain, ada orang-orang yang lahir dalam lingkaran kemiskinan berulang. Keluarga di desa-desa menikahkan anaknya saat remaja, kemudian mendorongnya bekerja sedini mungkin sampai tidak bisa menyelesaikan pendidikan formal.

Ketika pola ini terus berulang dari generasi ke generasi, ketimpangan bukan lagi soal pilihan pribadi, melainkan warisan dari masalah struktural, tentang kualitas gizi, kesempatan kerja, hingga akses pendidikan.

Dari sinilah kita belajar bahwa perbedaan titik awal adalah realitas yang mustahil diabaikan.

Apa Itu Privilege?

Privilege secara sederhana adalah keuntungan atau akses yang diberikan oleh struktur sosial, identitas, atau kondisi hidup kita, alih-alih diperoleh melalui usaha pribadi.

Contohnya meliputi akses lebih mudah ke pendidikan, pekerjaan, keamanan, atau kebebasan berekspresi.

Sadar bahwa kita memiliki privilege sering kali terasa menakutkan, tidak nyaman, dan memaksa kita melihat diri sendiri secara jujur.

Namun, kalau kita menolak untuk mengecek atau menyadari privilege, kita berisiko terjebak di dalam sistem yang mempertahankan ketidaksetaraan.

Mengakui privilege atau istilahnya “checking your privilege” mendorong kita untuk mempertanyakan faktor-faktor seperti ekonomi, ras, gender, atau akses ke pendidikan dan peluang yang memungkinkan kita menikmati berbagai keuntungan dan kemudahan dalam hidup.

Apabila kita memahami betul privilege yang dimiliki, kita akan tahu bagaimana hak-hak istimewa tersebut memengaruhi pandangan kita terhadap dunia dan orang lain. Kita pun belajar memahami realitas yang tidak selalu sama dengan pengalaman kita sendiri.

Mengakui privilege bukanlah tentang mencari rasa bersalah atau merasa diserang secara moral.

Dengan paham privilege diri, kita mengakui bahwa kemudahan yang kita alami bukan semata-mata hasil kerja keras sendiri, tetapi juga karena berbagai kesempatan yang tersedia bagi kita lebih awal atau lebih luas daripada orang lain.

Kesadaran ini membuka ruang empati, kemampuan untuk melihat dan memahami pengalaman orang lain tanpa defensif, sehingga memperkuat hubungan antarmanusia yang lebih konstruktif dan adil.

Psychology Today menekankan bahwa refleksi tentang privilege ini tidak bermaksud untuk menggerus atau mengerdilkan posisi kita.

Sebaliknya, kesadaran privilege dapat memperkaya kemampuan kita untuk berempati, memperluas perspektif, dan menjalin relasi yang lebih terbuka serta adil.

Pengakuan atas privilege bukanlah sekadar pernyataan teoritis, tetapi langkah awal yang menguatkan empati, memperluas relasi antarmanusia, dan menjadikan kita pribadi yang lebih sadar akan peran struktur sosial dalam kehidupan.

Dalam konteks ini, privilege bukanlah sesuatu yang layak untuk dipamerkan. Kesadaran akan privilege penting untuk mendorong tanggung jawab terhadap sesama yang memiliki tantangan berbeda.

Cara Membicarakan tentang Privilege Diri

Dalam artikel di Global Citizen berjudul "Why It's Important to Think About Privilege — and Why It's Hard", dijelaskan bahwa percakapan dan diskusi tentang privilege itu penting sekaligus sulit.

Alasannya sederhana, karena diskusi ini sering memicu defensif atau kesalahpahaman.

Banyak orang merasa diskusi tentang privilege langsung menempatkan mereka sebagai pihak “lebih beruntung” atau “tidak paham perjuangan hidup”. Padahal, bukan itu tujuannya.

Beberapa pendekatan yang direkomendasikan untuk berdiskusi tentang privilege antara lain:

1. Mulai dengan Empati dan Pengalaman Nyata

Sebelum menilai privilege orang lain, dengarkan dulu pengalaman mereka sendiri tentang tantangan yang mereka hadapi. Di sinilah mulai terbuka ruang dialog yang lebih jujur dan tidak defensif.

2. Pahami bahwa Privilege Bersifat Relatif dan Kompleks

Setiap orang bisa punya bentuk privilege sekaligus keterbatasan dalam aspek lain dari hidupnya.

Mengakui privilege bukan berarti posisi kita berada di atas segalanya, tetapi melihat bagaimana faktor yang lebih luas memengaruhi posisi sosial kita.

3. Sadar bahwa Ketidakadilan Sistemik Merugikan Semua Pihak

Privilege bukan hanya soal keuntungan pribadi. Dengan menyadari privilege, kita belajar bagaimana struktur sosial berperan menopang ketimpangan yang menghambat kesejahteraan bersama.

4. Hindari Rasa Bersalah atau Defensif

Fokus pada refleksi dan tindakan, merasa bersalah tidak membantu perubahan.

Yang lebih berguna adalah bagaimana kita menggunakan kesadaran privilege untuk mendorong percakapan yang membuka jalan bagi keadilan sosial.

5. Alihkan Fokus ke Tindakan Nyata dan Pengurangan Ketimpangan

Diskusi privilege akan lebih bermakna bila dihubungkan dengan langkah konkret untuk mengurangi ketidaksetaraan, misalnya dengan memperluas akses, mengubah kebijakan, atau membangun solidaritas.

Kesadaran akan privilege pada akhirnya bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal.

Menyadari punya privilege tidak berhenti pada pengakuan intelektual bahwa kita memiliki keuntungan tertentu.

Pengakuan ini justru menuntun kita pada pertanyaan yang lebih dalam, bagaimana kita hidup dengan kesadaran itu?

Jika privilege tidak dimaksudkan untuk dipamerkan, maka ia perlu dikelola dengan kebijaksanaan hati.

Maka kerendahan hati menjadi fondasi penting agar kelebihan yang kita miliki tidak menjauhkan kita dari orang lain, tetapi justru mendekatkan dan menguatkan relasi yang lebih manusiawi.

Tips Menjadi Pribadi yang Rendah Hati dan Membumi

Menjadi pribadi yang rendah hati dan membumi bukan sekadar idealisme. Ini adalah keterampilan yang bisa dilatih dan membawa banyak manfaat dalam kehidupan sosial dan emosional.

Science of People menyebutkan sejumlah strategi praktis yang bisa dilakukan siapa saja untuk menumbuhkan kerendahan hati sebagai kebiasaan hidup sehari-hari:

  • Minta saran atau bantuan orang lain ketika perlu, karena ini menunjukkan pengakuan bahwa kita tidak memiliki semua jawaban.
  • Rayakan dan beri ruang bagi orang lain, misalnya dengan mengakui dan menguatkan kekuatan mereka alih-alih selalu menonjolkan diri.
  • Mengakui kesalahan dan memaafkan, termasuk kemampuan untuk meminta maaf dan memberi pengampunan tanpa defensif.
  • Mengasah seni mendengarkan dan menerima umpan balik tanpa merasa terancam, karena ini memperluas empati dan pemahaman.
  • Praktikkan rasa syukur, cara ini akan mengingatkan kita bahwa hidup adalah anugerah dan bukan sekadar prestasi pribadi.
  • Beramal, bersedekah, dan bersikap murah hati, sehingga perhatian dan dukungan terhadap sesama menjadi bagian nyata dari hidup.
  • Keluar dari zona nyaman, karena keterbukaan terhadap pengalaman baru membuat kita semakin sadar akan keterbatasan diri.
Semua langkah di atas menegaskan bahwa rendah hati bukan berarti merendahkan diri.

Menjadi pribadi yang membumi adalah upaya melihat diri sendiri secara jujur, menghargai orang lain, dan menjadikan relasi yang lebih baik sebagai tujuan dalam hidup, terutama dalam konteks pengakuan privilege yang kita miliki.

Artikel menarik lainnya terkait tulisan ini juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait LATEST WP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih