Menuju konten utama

Penyebab Bronkopneumonia pada Anak & Cara Mencegah

Berikut ini adalah penyejelasan mengenai penyebab bronkopneumonia pada anak, cara mencegah, dan akibat koplikasi.

Penyebab Bronkopneumonia pada Anak & Cara Mencegah
Ilustrasi bronkopnemonia pada anak. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Salah satu bentuk pneumonia yang cukup sering terjadi pada anak adalah bronkopneumonia. Penyebab bronkopneumonia pada anak adalah peradangan yang menyerang bronkus dan jaringan paru-paru akibat infeksi bakteri, virus, maupun jamur.

Infeksi saluran pernapasan ini umumnya dialami oleh anak usia di bawah 2 tahun. Bahkan, bronkopneumonia kerap menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit infeksi pada anak usia kurang dari 5 tahun.

Gejala Bronkopneumonia pada Anak

Tanda dan gejala bronkopneumonia pada anak dapat berbeda-beda, mulai dari kondisi yang tergolong ringan hingga yang cukup serius. Keluhannya juga sering kali menyerupai penyakit paru lain, seperti bronkitis atau bronkiolitis.

Berikut beberapa gejala umum bronkopneumonia yang sering muncul pada anak.

  • Demam
  • Napas berbunyi
  • Kehilangan nafsu makan
  • Sesak napas atau napas menjadi cepat
  • Wajah terlihat pucat
  • Batuk berdahak
  • Gelisah
  • Nyeri dada
  • Bibir dan kuku menjadi kebiruan
  • Menggigil
  • Rewel atau sulit tidur
  • Muntah

Cara Mencegah Bronkopneumonia pada Anak

Bronkopneumonia pada anak memang bisa berbahaya, tetapi kabar baiknya, kondisi ini tetap dapat dicegah dengan langkah-langkah yang tepat. Pencegahan sejak dini sangat penting, terutama pada anak usia balita yang daya tahan tubuhnya masih berkembang.

Dengan menjaga kebersihan, melengkapi imunisasi, serta memperhatikan asupan gizi si kecil, risiko terjadinya bronkopneumonia dapat ditekan secara signifikan.

1. Terapi oksigen

Jika anak mengalami kesulitan bernapas atau kadar oksigen dalam darahnya menurun, dokter akan memberikan terapi oksigen. Tindakan ini bertujuan membantu anak bernapas lebih lega dan memastikan kebutuhan oksigennya tetap terpenuhi.

2. Pemberian obat sesuai penyebab dan gejala

Bronkopneumonia dengan gejala ringan akibat infeksi virus umumnya dapat membaik dalam beberapa hari hingga minggu. Namun, bila disebabkan oleh bakteri, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik. Sementara itu, infeksi yang dipicu oleh jamur ditangani dengan obat antijamur sesuai anjuran medis.

Untuk meredakan keluhan yang muncul, dokter juga bisa memberikan obat penurun demam, pereda nyeri, maupun obat batuk agar kondisi anak lebih nyaman dan proses pemulihan berjalan lebih cepat.

3. Pemberian cairan dan nutrisi

Anak yang menderita bronkopneumonia kerap mengalami penurunan nafsu makan sehingga berisiko mengalami dehidrasi. Karena itu, dokter dapat memberikan terapi cairan melalui infus guna menjaga keseimbangan cairan tubuhnya.

Selain dari infus, anak juga perlu tetap mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih yang cukup serta makan secara teratur agar daya tahan tubuhnya tetap terjaga selama masa pemulihan.

Akibat Bronkopneumonia pada Anak

Bronkopneumonia pada anak yang tidak ditangani dengan tepat dapat memicu berbagai komplikasi serius. Akibat yang muncul ini bukan sekadar gejala biasa, melainkan merupakan dampak lanjutan dari perburukan infeksi di saluran pernapasan dan paru-paru.

Komplikasi bronkopneumonia pada anak adalah ketika infeksi menyebar atau tidak terkendali. kondisi tersebut bisa memengaruhi fungsi organ lain dan membahayakan kesehatan anak secara keseluruhan.

1. Gagal napas

Pada kasus bronkopneumonia yang berat, anak dapat mengalami kesulitan bernapas hingga kebutuhan oksigen tidak terpenuhi. Kondisi ini berisiko berkembang menjadi gagal napas.

Jika tidak segera ditangani, organ-organ tubuh dapat berhenti berfungsi dan pernapasan bisa terhenti sepenuhnya. Dalam situasi seperti ini, anak memerlukan bantuan alat ventilator untuk menunjang proses pernapasan.

2. Efusi pleura

Efusi pleura terjadi ketika cairan menumpuk di ruang antara paru-paru dan dinding dada. Penanganannya dapat dilakukan dengan mengeluarkan cairan menggunakan jarum (thoracentesis) atau selang khusus (chest tube).

Pada kondisi yang lebih berat, tindakan operasi mungkin diperlukan untuk mengatasi penumpukan cairan tersebut.

3. Infeksi aliran darah

Infeksi ini muncul ketika bakteri menyebar ke dalam aliran darah dan menyerang organ-organ lain. Kondisi yang dikenal sebagai sepsis ini berbahaya karena dapat memicu kegagalan fungsi organ jika tidak segera diatasi.

4. Abses paru

Abses paru terjadi akibat terbentuknya kantong berisi nanah di dalam jaringan paru-paru. Umumnya, kondisi ini ditangani dengan pemberian antibiotik. Namun, dalam beberapa kasus, tindakan pembedahan diperlukan untuk mengeluarkan nanah tersebut.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Risa Fajar Kusuma & Dhita Koesno