diajeng.id - Dalam dunia parenting yang penuh lika-liku, dinamis, dan sangat personal, nyaris tak ada ketentuan baku tentang apa yang "seharusnya" atau "idealnya" kita lakukan sebagai orang tua.
Satu hal bisa jadi sangat esensial bagi orang tua dengan latar belakang tertentu, dan satu hal lagi bisa jadi tidak relevan sama sekali bagi lainnya.
Salah satu diskusi hangat terkait parenting berkaitan dengan durasi kehadiran orang tua untuk anak. Apakah waktu bersama yang panjang lebih baik, atau kualitas kebersamaan lebih penting daripada durasinya?
Pertanyaan tentang berapa lama seharusnya orang tua menemani anak sempat ramai diperbincangkan setelah pengusaha perempuan asal Amerika Serikat, Emma Grede, menyebut dirinya sebagai “three-hour mom”.
Dalam artikel wawancara dengan Wall Street Journal yang terbit April 2026 lalu, Emma mengatakan bahwa pada akhir pekan dia menghabiskan maksimal sekitar tiga jam bersama anak-anaknya.
Pernyataan Emma kemudian memicu banyak respons karena waktu yang disebutnya tersebut dianggap sangat singkat bagi sebagian orang tua.
Salah satu yang mengaku kurang nyaman mendengar pernyataan tersebut adalah Zara Hanawalt, penulis dan ibu dari anak kembar. Dalam tulisannya di The Everymom, Zara mengatakan bahwa dirinya bukan three-hour mom. Zara bahkan meninggalkan pekerjaan kantoran penuh waktu sebelum anak kembarnya lahir. Dalam bayangannya, dia hanya memiliki satu atau dua jam bersama anak-anaknya setiap hari; durasi yang tidak sesuai dengan keinginannya sebagai ibu.
Namun, keberatan Zara bukan semata-mata karena angka tiga jam tersebut.
Zara mempertanyakan makna lebih jauh di balik diskusi tersebut. Menurutnya, pembicaraan semacam ini berisiko menggiring kita kembali ke dikotomi lama: seolah-olah perempuan harus memilih antara menjadi ibu yang seutuhnya hadir bagi anak versus perempuan yang ambisius dalam karier.
Zara pun mengakui bahwa Emma Grede sedang menceritakan kenyataan tentang bagaimana dia menjalani hidupnya. Masalahnya, ketika pengalaman seorang perempuan pengusaha yang "sangat sukses" dibicarakan secara luas, orang lain bisa saja menjadikan pengalaman spesifik tersebut sebagai patokan baru tentang bagaimana seharusnya ibu-ibu menjalani hidupnya.
Dari sini, muncul pertanyaan yang lebih beresonansi dengan banyak orang tua; sebenarnya, berapa jam idealnya orang tua menemani anak setiap hari?
Setiap Keluarga Punya Hitungan Waktunya Sendiri
Tidak ada orang tua yang menjalani rutinitas yang benar-benar sama. Usia anak berbeda, pekerjaan berbeda, jumlah anak berbeda, begitu pula kebutuhan dan kondisi setiap keluarga.
Diajeng bertanya kepada tiga ibu yang punya anak dan aktivitas berbeda mengenai berapa lama waktu ideal yang mereka gunakan untuk menemani anak setiap hari.
Bagi Yani (39), ibu rumah tangga dengan dua anak yang masih duduk di bangku TK dan SD, sekitar lima sampai enam jam sehari terasa ideal. Namun, waktu tersebut tidak dihabiskan dalam satu waktu.
Pagi hari, Yani berusaha menyediakan sekitar 45 menit hingga satu jam untuk bersama anak-anak sebelum mereka berangkat sekolah. Rutinitas itu bisa dimulai dari membangunkan anak, berusaha salat Subuh bersama, sarapan, hingga bersiap ke sekolah.
Setelah anak pulang, ada lagi waktu sekitar dua jam yang dimanfaatkannya untuk mengajak anak bercerita tentang kegiatan mereka di sekolah.
“Biasanya ngobrol bareng setelah kakaknya yang SD sudah di rumah, nanya apa kegiatannya hari ini di sekolah, apa yang bikin anakku happy dan tadi main sama siapa saja di sekolah?” cerita Yani.
Malam hari menjadi waktu kebersamaan berikutnya, sekitar dua hingga tiga jam. Setelah salat Magrib, Yani menemani anak belajar, makan, hingga bersiap tidur.
“Aku pengen juga nanti mereka ingat kalau sudah gede, mamanya mau menghabiskan waktu kalau mereka lagi di rumah,” ujar Yani.
Sementara Lia (29), yang bekerja dari rumah sekaligus menjalankan usaha online, memiliki pengalaman berbeda. Anak Lia masih berusia dua tahun dan masih menyusu sehingga keinginan untuk selalu berada di dekat anak cenderung sangat besar.
“Rasanya pengen setiap jam bisa nemenin bayiku,” kata Lia.
Karena bekerja dari rumah, Lia masih bisa menyelipkan pekerjaan sambil menjaga anak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Jika dihitung secara keseluruhan, Lia memperkirakan menghabiskan sekitar delapan sampai sepuluh jam sehari bersama anak, dengan jeda ketika anak tidur.
Lain lagi dengan Restu (37), seorang ibu bekerja yang memiliki dua anak, masing-masing duduk di kelas 1 SMP dan kelas 4 SD. Restu bekerja hingga sore, sehingga waktu bersama anak yang benar-benar tersedia biasanya baru dimulai setelah pukul enam malam.
“Antara dua sampai tiga jam, mungkin kurang ya,” kata Restu.
Waktu yang terbatas itu biasanya digunakan untuk makan malam bersama dan mendampingi anak belajar.
"Tantangannya pasti ada, ya kadang pas kerjaan ada masalah hari ini, jadi bikin pikiran lagi," ucapnya.
Kendati demikian, Restu akan selalu berusaha untuk membuat anaknya bisa bahagia jika sedang membersamai anaknya.
"Tapi namanya manusia enggak sempurna juga. Harapanku semoga bisa punya lebih banyak waktu sama mereka, walaupun sekarang itu enggak mungkin, next semoga bisa terwujud," pungkasnya.
Tiga cerita di atas memperlihatkan satu pola yang jelas: durasi waktu bisa berbeda jauh, tetapi masing-masing ibu memiliki cara sendiri untuk menciptakan ruang kebersamaan yang bermakna dengan anak.
Mungkin, di situlah masalahnya apabila kita mencoba mencari satu angka yang berlaku untuk semua keluarga.
Semakin Lama bersama Anak, Semakin Baik?
Dirangkum dari TulsaKids, studi yang dibahas dalam Journal of Marriage and Family tidak menemukan korelasi antara jumlah waktu yang dihabiskan orang tua bersama anak berusia di atas tiga tahun dan remaja dengan sejumlah hasil yang diamati, seperti kesehatan emosional, perilaku, maupun prestasi akademik.
Studi ini menekankan bahwa temuan tersebut tidak mencakup bayi, sementara hubungan yang aman dengan ibu atau pengasuh yang konsisten tetap sangat penting pada masa-masa awal kehidupan.
Selain itu, keterlibatan orang tua merupakan bagian terpenting, seperti menjadi pendengar yang baik, berbicara dengan anak, membaca bersama, makan bersama, berjalan-jalan, bermain, atau melakukan aktivitas lainnya sebagai keluarga.
Jadi, quality time tidak harus berarti melakukan kegiatan yang mahal, istimewa, atau sudah direncanakan jauh-jauh hari. Kadang-kadang, quality time tecermin dalam rutinitas yang sangat biasa.
Seperti Yani yang bertanya kepada anaknya, “Hari ini di sekolah ngapain?” atau, “Tadi main sama siapa?” Atau Restu yang memilih tetap menemani anak makan malam dan belajar meskipun baru pulang bekerja. Atau seperti Lia yang menjalani hari bersama anak sambil bekerja dari rumah.
Quality Time Bukan Berarti Setiap Detik Harus Sempurna
Penelitian Stewart Friedman mengenai hubungan antara pekerjaan, keluarga, dan kesehatan anak yang diterbitkan Inc. menyoroti perbedaan antara kehadiran fisik dan kehadiran psikologis. Disebutkan, jumlah jam bersama anak bukan satu-satunya faktor yang diperhatikan; perhatian dan keterlibatan orang tua ketika sedang bersama anak juga faktor penting.
Dengan kata lain, seorang ibu atau ayah bisa saja duduk selama satu jam di sebelah anak, tetapi pikirannya terus berada di kantor. Sebaliknya, ada momen singkat ketika orang tua benar-benar berhenti sejenak, mendengarkan cerita anak, menatap matanya, ikut tertawa, atau bermain bersama tanpa melakukan hal lain.
Keduanya mungkin sama-sama tercatat sebagai “satu jam bersama anak”, tetapi pengalaman yang dirasakan anak tentu bisa berbeda.
Namun, ini juga bukan berarti orang tua harus merasa bersalah setiap kali membuka smartphone, menjawab pekerjaan, atau mengurus rumah ketika anak sedang berada di dekatnya. Kehidupan sehari-hari itulah bagian dari kehidupan keluarga.
Tidak Perlu Selalu Mencari Aktivitas Baru
Pertanyaannya kemudian, bagaimana menciptakan aktivitas yang berkualitas bersama anak? Tidak perlu dibingkai dalam kerangka rumit, momen berkualitas bisa dimulai dari hal-hal yang sudah jadi rutinitas keluarga.
Pertama, mulai dengan dengarkan cerita anak, lalu melakukan sesuatu bersama, seperti makan malam, membaca buku, memasak, berjalan kaki, bermain, membantu pekerjaan rumah, atau menemani anak belajar bisa menjadi ruang untuk berinteraksi.
Kemudian, menyisihkan beberapa menit dengan perhatian yang benar-benar tertuju kepada anak
Tak hanya itu, sesekali biarkan anak memilih permainan, topik pembicaraan, buku yang ingin dibaca, atau aktivitas sederhana yang ingin dilakukan bersama.
Yang terakhir, menciptakan pengalaman bersama dengan memanfaatkan momen yang memang sudah ada, di antaranya pada waktu makan, menjelang tidur, atau ketika sedang mengantar/menjemput anak sekolah tanpa harus menambah jadwal baru.
Bagaimana dengan aturan 7-7-7?
Dilansir Good Inside, banyak dari kita telah mengenal konsep 7-7-7 parenting rule. Gagasannya cukup simpel: orang tua menyediakan waktu sekitar tujuh menit untuk benar-benar fokus bersama anak pada pagi hari, tujuh menit setelah anak pulang sekolah atau ketika orang tua kembali dari pekerjaan, dan tujuh menit menjelang anak tidur.
Totalnya hanya 21 menit sehari.
Konsep ini bukan fokus di angka tujuhnya, melainkan lebih pada strategi bagi orang tua yang tidak punya banyak waktu untuk menciptakan beberapa titik koneksi dengan anak dalam sehari.
Tujuh menit bisa dimanfaatkan dalam rutinitas yang memang sudah ada, sementara micro-moment seperti kontak mata, kedekatan fisik, atau mengikuti permainan anak juga bisa menjadi bentuk koneksi.
Prinsip penting dari konsep tersebut mungkin juga bukan 21 menitnya, melainkan gagasan bahwa di tengah kesibukan, selalu ada kesempatan untuk berhenti sebentar dan benar-benar hadir.
Jadi, berapa jam sebenarnya yang ideal? Kembali pada tiga ibu tadi, jawabannya bisa berbeda: lima sampai enam jam bagi Yani, sekitar delapan sampai sembilan jam bagi Lia, dan dua sampai tiga jam bagi Restu.
Alih-alih memusingkan durasi, mungkin lebih tepat untuk mempertanyakan kembali apakah kita mampu untuk benar-benar hadir saat bersama anak.
Tentunya, kondisi setiap keluarga berbeda. Ada orang tua yang punya banyak waktu bersama anak, ada yang hanya punya beberapa jam setelah pulang bekerja, ada yang bisa bekerja dari rumah dan menyelipkan pengasuhan di antara pekerjaan, ada pula yang membagi waktu ke dalam beberapa momen kecil sepanjang hari.
Maka, tidak akan pernah ada standar "durasi terbaik" yang perlu kita capai sebagai orang tua. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memaknai proses pengasuhan, menggunakan waktu yang memang tersedia, dan membuat anak merasakan bahwa di tengah kesibukan hidup, ada orang dewasa yang mau hadir untuk mereka.
Artikel lainnya terkait orang tua dan anak juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih