Menuju konten utama

Perempuan Melawan lewat Konten "Microfeminism" di TikTok

Inilah tindakan-tindakan kecil, sengaja, dan terencana dalam kehidupan sehari-hari guna menantang ketimpangan gender serta seksisme terselubung.

Perempuan Melawan lewat Konten
Header Diajeng Microfeminism TikTok. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Di tengah menjamurnya konten hiburan di TikTok, kita juga bisa menemukan gerakan perlawanan perempuan yang memikat perhatian jutaan pengguna.

Disebut microfeminism, konsep ini mengajak perempuan untuk melakukan tindakan-tindakan kecil, sengaja, dan terencana dalam kehidupan sehari-hari guna menantang ketimpangan gender serta seksisme terselubung.

Tanpa mengusung spanduk di jalanan atau menyampaikan orasi di hadapan massa luas, melalui media sosial, sejumlah perempuan memilih membalikkan narasi patriarki melalui gestur yang kerap dianggap sepele, tetapi memiliki dampak perubahan kolektif yang kuat.

Awal Mula Tren Microfeminism di Medsos

Menurut Female Invest, konten microfeminism di media sosial mulai berkembang sejak 2024. Persisnya, gerakan ini dipicu oleh sebuah video TikTok berdurasi 52 detik yang diunggah oleh Ashley Chaney pada 26 Maret 2024.

Dalam video yang santai, Ashley membagikan kebiasaan profesionalnya di dunia kerja; selalu mencantumkan nama perempuan terlebih dahulu dalam surel korporat, meskipun perempuan tersebut adalah asisten dan laki-laki yang dituju merupakan petinggi atau CEO.

Unggahan tersebut langsung viral dan memancing lebih dari 5.500 komentar dari sesama pengguna hingga berita ini ditulis.

Banyak perempuan mulai membagikan aksi microfeminism versi mereka, seperti menyebut nama istri sebelum suami ("Mrs & Mr"), memasukkan lagu karya perempuan dalam playlist musik yang diputar bersama di ruangan kantor, menggunakan kata ganti "she" untuk merujuk pada peran kepemimpinan, hingga meminta pihak bank mengubah dokumen hipotek agar nama pihak perempuan dicantumkan di posisi paling atas.

Tidak berhenti di lingkungan profesional, semangat microfeminism juga merambah ke ranah domestik dan pola pengasuhan anak.

Praktik Microfeminism di Dunia Parenting

Dalam artikel berjudul "The Microfeminism Trend Is Viral—Here’s How One Mom Uses It to Co-Parent" di laman Parents, penulis Sarah Bregel membagikan pengalamannya mempraktikkan microfeminism dalam dinamika pengasuhan bersama (co-parenting) dengan mantan suami.

Selama ini, masyarakat secara otomatis menempatkan ibu sebagai orang tua utama yang harus memikul beban mental (mental load) dan dituntut untuk tidak boleh absen dalam momen apa pun terkait anak.

Sarah mengaku, beban mental yang sering kali jatuh ke pundak ibu itulah yang membuatnya sadar bahwa dirinya sampai mengalami kelelahan luar biasa. Meski begitu, Sarah juga sadar harus selalu melakukan segalanya untuk anak-anak dan perlu berjuang keras agar segala upayanya diakui.

Melalui prinsip microfeminism, Sarah memberanikan diri menolak rasa bersalah dan perasaan diremehkan saat tidak bisa menghadiri rapat sekolah atau janji dokter anak karena urusan pekerjaan yang krusial.

Sarah secara terbuka menantang standar ganda masyarakat yang kerap memuji ayah sebagai pahlawan hanya karena berkontribusi sesekali, tetapi menghakimi ibu jika tidak tampil sempurna.

Pandangan orang biasanya, "Wah, pasti enak ya punya banyak waktu luang." Padahal kenyataannya, ibu hampir tidak pernah diberi kebebasan untuk benar-benar mengistirahatkan pikiran dan harus terus-menerus turun tangan membantu.

Dengan menetapkan batasan yang tegas dan menuntut pembagian peran yang adil dari mantan pasangannya, Sarah menegaskan bahwa hak dan ruang pribadi seorang ibu sama pentingnya untuk dihargai.

Microfeminism sebagai Bentuk Kritis Perempuan Merespons Seksisme

Dalam tulisannya di The Guardian pada Mei 2026 berjudul ‘Hello ladies and sons of ladies’: women are using ‘microfeminisms’ to flip the gender script, jurnalis Alaina Demopoulos menegaskan bahwa microfeminism merupakan bentuk kesadaran kritis perempuan dalam menanggapi seksisme sehari-hari.

Sosiolog Andrea Press menjelaskan bahwa budaya patriarki kerap menyerap asumsi-asumsi seksisme ke dalam kehidupan sehari-hari sampai akhirnya dianggap sebagai hal yang biasa.

"Perempuan terus-menerus menghadapi berbagai anggapan seksisme, tetapi kita terima begitu saja: misalnya anggapan bahwa perempuanlah yang akan menyiapkan makan malam, atau pertanyaan 'apa kamu bekerja?' sementara kita berasumsi laki-laki pasti bekerja," ujar Andrea.

Sebagai bentuk perlawanan, perempuan merebut kembali kendali melalui tindakan yang cerdas dan menyegarkan. Mikrofeminisme menjadi bukti bahwa kesadaran perempuan kini telah meningkat.

"Mereka mulai menyadari seksisme sehari-hari yang sebenarnya telah dianggap wajar dan menjadi bagian dari kehidupan normal dalam budaya kita," tambah Andrea.

Kreator seperti Tori Dunlap memopulerkan sapaan unik dalam presentasi kerja, seperti, "Hello ladies and sons of ladies". Beberapa perempuan lainnya mempraktikkan microfeminism dengan menolak mengalah di trotoar saat berjalan berpapasan dengan laki-laki yang berekspektasi bahwa perempuan akan selalu menyingkir.

Aksi menolak untuk mengalah ini menjadi simbol kuat untuk menegaskan hak perempuan dalam mengambil ruang di fasilitas umum.

Ketika skrip sosial ini dibalik, aksi microfeminism kerap memicu reaksi kekesalan dari sebagian laki-laki. Namun begitu, reaksi tersebut membuktikan poin utamanya. Apabila perlakuan itu dianggap tidak adil bagi para laki-laki, maka pola serupa yang selama ini dialami perempuan sehari-hari adalah bentuk seksisme, yang tentu tidak pernah adil.

Populernya konten-konten microfeminism yang digaungkan melalui video singkat di TikTok menunjukkan bahwa perlawanan perempuan bisa dilakukan di mana saja, via medium apa saja. Kalau kamu, apa versi microfeminisim yang paling merepresentasikan pandanganmu?

Artikel menarik lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait SEPUTAR PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih