diajeng.id - Beberapa hari lalu, semesta digital dihebohkan dengan rilis poster film Supergirl (2026). Milly Alcock, aktris pemeran Supergirl, dikritik terkait mimik wajahnya yang datar dan serius.
Sebuah kicauan di X dengan 4,9 juta views mengungkap ketidaksukaan pada ekspresi sosok Supergirl di poster karena wajahnya terlihat marah sehingga membuat orang-orang jadi enggan nonton filmnya.
Sebagian perempuan mungkin pernah mendapat komentar atau kritik seperti Milly. Tidak jarang, saat menjalani aktivitas santai sehari-hari seperti biasa, kita ditegur hanya karena raut muka yang memang apa adanya.
“Ih, judes amat!”
“Senyum dong, jangan galak-galak.”
“Jutek banget, sih."
Padahal, wajah kita datar, netral, tanpa ada niat apa pun. Di satu sisi, orang lain menganggap ekspresi wajah kita tidak ramah.
Komentar demikian kemudian memunculkan pertanyaan, “Memang wajahku seharusnya bagaimana?”
Tanpa mimik yang ramah, perempuan rentan dilabeli mempunyai “Resting Bitch Face” atau sering disingkat RBF. RBF mengacu pada karakteristik wajah yang ditandai dengan otot mata tegang dan sudut bibir yang sedikit terangkat ke atas.
Muka Judes Bukan Punya Perempuan Saja
RBF jadi istilah yang populer setelah viral lewat sebuah video lucu tahun 2013 dari Broken People Production.
Video tersebut memaparkan bagaimana perempuan dijuluki “bitchy”, sebuah istilah merendahkan untuk orang yang berperilaku menyebalkan, berdasarkan raut wajah saja.
Pada waktu sama, video itu juga menjelaskan bagaimana laki-laki tidak luput dari sebutan negatif “Resting Asshole Face”.
Di balik konteks lucu-lucuan dari julukan-julukan di atas, perempuan cenderung lebih sering diasosiasikan dengan muka jutek atau judes dibandingkan laki-laki.
Meski begitu, sekali lagi, realitasnya, lebih jarang yang mempertanyakan mimik ketidakramahan laki-laki.
Hal ini bisa jadi berkaitan dengan patriarki yang memberikan keleluasaan bagi laki-laki dalam mengondisikan tubuhnya tanpa takut dihakimi oleh orang sekitarnya.
“Laki-laki punya lebih banyak ruang untuk menunjukkan berbagai macam perilaku di tempat kerja. Sementara itu, perempuan lebih sering dihadapkan dengan ekspektasi, semacam asumsi sosial, bahwa mereka harus bersikap hangat, peduli, keibuan, dan suportif.”
Begitu disampaikan Deborah Carr, dosen sosiologi Rutgers University, dalam wawancara NJBIZ pada 2015 silam.
Kalau raut muka perempuan terlihat masam sedikit, orang lain menganggapnya tidak ramah. Anggapan ini seakan-akan menegaskan bahwa perempuan harus selalu mempertahankan senyum di wajahnya agar tidak dinilai negatif atau terkesan intimidatif di ruang publik.
Sebetulnya, kembali meminjam hasil riset Noldus, tidak ada mimik natural yang sifatnya tidak ramah. Menurut peneliti, “ketidakramahan” muncul sebagai persepsi dari orang yang melihatnya.
Pendek kata, RBF bukan karakteristik yang eksklusif untuk perempuan. RBF juga bukan kondisi alamiah pada perempuan. RBF lahir dan berkembang dari konstruksi sosial masyarakat.
Konsekuensi RBF dalam Hidup Perempuan
Sebutan RBF bagi perempuan berpotensi mengubur permasalahan yang lebih dalam. Kritisisme terhadap raut wajah perempuan berarti mengkritisi cara perempuan mengendalikan tubuhnya.
Di berbagai media dapat kita temukan beragam tip cara mengubah mimik wajah agar tak lagi diasosiasikan dengan RBF, sebut di antaranya lewat yoga wajah, strategi make-up, sampai operasi wajah.
Cara-cara tersebut dipopulerkan untuk membantu perempuan agar tidak lagi dipersepsikan buruk oleh orang di sekitarnya. Padahal, persepsi buruk itulah yang seharusnya dihilangkan.
Perempuan juga manusia, setiap hari menjalani berbagai tantangan seperti orang-orang pada umumnya. Jadi, lumrah saja wajah lelah, diam, dan datar tanpa emosi jadi terkesan masam.
Lain kali ada orang menegur wajahmu karena terlihat galak, ketahuilah itu bukan kesalahanmu. Pertahankan versi diri sendiri yang kamu rasa paling nyaman, dan nikmati hidupmu dengan tenang.
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih