diajeng.id - Quiet quitting selama ini adalah istilah populer di dunia kerja kalangan Gen Z tentang keputusan menarik diri diam-diam dari pekerjaan.
Bagaimana jadinya kalau quiet quitting merambah ke dalam relasi asmara? Orang yang melakukan quiet quitting tidak otomatis resmi mengakhiri hubungannya, tetapi lebih pada menarik diri secara emosional dan berhenti memberikan usaha.
Saat ada salah satu pihak melakukan quiet quitting, dinamika hubungan akan berubah; jadi membeku, hampa, dan hanya berjalan satu arah.
Tanda dan Dampak Quiet Quitting dalam Hubungan
Peneliti sekaligus psikolog klinis dari Harvard, Dr. Sabrina Romanoff kepada VeryWell Mind menjelaskan bahwa gejala awal quiet quitting dapat terlihat dari perubahan perilaku pasangan yang berhenti berupaya dalam hubungan, baik dari segi waktu, energi, uang, emosi, maupun perhatian.
"Tidak ada lagi kencan manis di malam hari, pesan-pesan teks atau perhatian yang indah, sebab pasangan memang sudah tak mau berusaha lagi," kata Dr. Romanoff.
Beberapa gejala berikutnya terlihat dari pasangan yang cenderung menghindari percakapan tentang masa depan, mudah marah, selalu mengalihkan perhatian, menghindari keintiman seperti pelukan atau kecupan, hingga kita merasa sudah tak dianggap kagi.
Kondisi ini pun kerap memicu rasa kesepian bagi pihak yang bertahan, merusak kepercayaan diri, dan menciptakan lingkaran konflik yang melelahkan.
Dr. Romanoff menyarankan kita untuk mengamati pola perilaku pasangan dan mengenali perasaan diri sendiri untuk sebelum meninjau kembali hubungan.
Langkah selanjutnya adalah mengajak pasangan berdiskusi secara terbuka tanpa ada maksud menyalahkan. Kalau ragu, ada baiknya sebelum berbicara ke pasangan, konsultasikan juga kepada orang tepercaya seperti teman atau terapis untuk memberi masukan dan dukungan.
Penting juga untuk mendengarkan sudut pandang pasangan, menetapkan batasan yang jelas, serta berhenti memberikan usaha sendirian (overcompensating) agar hubungan tidak berat sebelah. Alih-alih saling menyalahkan, fokus saja untuk berbagi pengalaman pribadi.
Dinamika Relasi
Melansir Psychology Today, terdapat empat tanda utama ketika seseorang mulai undur diri dari hubungan asmara yang sedang dijalaninya.
Pertama, pasangan hanya melakukan usaha serendah mungkin (doing the minimum).
Kedua, adanya jarak antara pikiran dan hati. Artinya, hubungan diperlakukan sebagai beban kewajiban dan tubuh secara tidak sadar menolak kontak fisik.
Ketiga, relasi berubah jadi seperti "kesepakatan bisnis" sehingga pasangan mulai membayangkan indahnya hidup menyendiri.
Keempat, munculnya sikap apatis, ditandai dengan berkurangnya pertengkaran karena pasangan merasa hubungan tersebut tidak lagi sepadan dengan energi yang dikeluarkan.
Penyebab quiet quitting dalam konteks ini menyerupai alasan pekerja yang mengalami burnout, yaitu kurangnya apresiasi, minimnya ruang untuk berkembang, serta tuntutan atau ekspektasi yang tidak realistis dan sepihak.
Seperti dijelaskan sebelumnya, setiap pasangan perlu melakukan evaluasi diri terhadap ekspektasi hubungan, menyadari bahwa satu orang tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan hidup kita, dan membangun kembali budaya saling menghargai.
Akar Konflik
Berdasarkan penjelasan di situs Welldoing, quiet quitting sebenarnya bermula dari kebiasaan menghindari konflik dan membungkam diri sendiri (self-silencing).
Perilaku penghindaran ini mewujud dalam beberapa bentuk. Pelakunya dapat diibaratkan sedang "menyapu" masalah ke bawah karpet, berusaha bisa menyenangkan orang lain atau tidak enakan (people-pleasing), memberikan kritik berlebihan untuk menutupi rasa kesepian, hingga fenomena Victim Volcano Syndrome (perasaan yang dipendam akhirnya meledak secara tidak proporsional).
Beberapa orang juga memilih mengalihkan kebutuhan koneksi mereka ke hal lain seperti pekerjaan atau hobi. Alasannya tak lain karena merasa takut untuk berkonflik dan regulasi emosinya juga kurang, sehingga mereka pun merasa koneksi dengan diri sendiri sudah hilang.
Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengenali emosi dan kebutuhan diri sendiri, menyelesaikan ketidakpuasan sejak dini, dan mengupayakan pengalaman baru untuk menyalakan kembali energi dalam hubungan asmara.
Artikel lainnya seputar relasi juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih