diajeng.id - Hubungan asmara yang sudah berjalan lama memang cenderung berubah. Fase berbunga-bunga atau istilahnya honey moon phase bergeser jadi relasi yang lebih stabil. Seiring itu, ada situasi yang perlu diwaspadai, yaitu Parallel Life Syndrome.
Laman Self menuturkan, Parallel Life Syndrome merujuk pada kondisi ketika pasangan masih menjalani hubungan, tetapi kehidupan mereka berjalan masing-masing. Analoginya mungkin seperti dua kereta api yang melaju di dua jalur rel berbeda yang sejajar, tetapi pada satu titik akan menuju tujuan akhir berbeda.
Sebagai pasangan, kita bisa saja tinggal serumah atau masih menjalin status relasi bersama, akan tetapi interaksi emosional semakin minim.
Alih-alih tumbuh bersama, kita seperti hidup di dua jalur yang sejajar tanpa benar-benar saling terhubung. Pola ini sering muncul pelan-pelan sehingga tidak disadari sampai kita tiba di satu titik, "Kok, hubungan ini jadi terasa hambar?"
Tanda-Tanda Parallel Life Syndrome
Salah satu gejala pada pasangan yang mulai mengalami Parallel Life Syndrome adalah sering mengambil keputusan penting sendiri dan jarang melibatkan pasangannya.
Seperti dijelaskan situs Vice, pasangan yang mengambil keputusan sendiri baru akan memberi tahu pasangannya setelah semua hal tersebut selesai dilakukan.
Ketika kamu merasa momen kebersamaan dengan pasangan semakin sedikit, ini juga jadi tanda kalian sedang mengalami Parallel Life Syndrome. Momen yang dimaksud bukan hanya soal hubungan intim saja, tetapi perhatian kecil yang umum dilakukan dalam relasi berpasangan, seperti pelukan saat akan berpisah atau bertemu, menggenggam tangan, mengirim pesan sederhana, hingga saling bertanya kabar.
Padahal, kebiasaan kecil dan hal-hal remeh yang biasa kita lakukan itulah yang sebenarnya menjaga kedekatan emosional.
Apabila percakapan yang dilakukan hanya urusan teknis, mulai dari pekerjaan rumah, tagihan, jadwal anak, atau daftar belanja, ini pun bisa jadi tanda kamu dan pasanganmu sedang mengalami Parallel Life Syndrome.
Di satu sisi, momen-momen hangat yang mengalir biasanya diisi dengan spontanitas saling ngobrol tentang apa saja, baik perasaan, impian, atau pengalaman pribadi.
Tanda selanjutnya yang bisa jadi perhatian adalah mulai sibuk dengan dunia sendiri-sendiri.
Misalnya kalian sedang duduk berdua di kafe, akan tetapi perhatian terfokus pada smartphone di tangan, scroll media sosial, main game daring, atau membalas chat. Waktu bersama pasangan tidak benar-benar menjadi quality time bagi kalian.
Tak hanya itu, kamu dan pasangan juga tidak akan menjadikan hubungan kalian adalah sesuatu yang prioritas. Alih-alih membuat liburan bisa dinikmati sesuai rencana, yang terjadi kalian malah menunda atau membatalkan rencana liburan yang pernah dibuat.
Akibatnya, kesempatan menciptakan kenangan baru semakin sedikit dan hubungan terasa semakin datar.
Apakah Ini Berarti Hubungan Akan Gagal?
Belum tentu. Parallel Life Syndrome bukanlah tanda pasti bahwa hubungan akan berakhir. Namun, kondisi ini bisa menjadi sinyal bahwa koneksi emosional mulai melemah.
Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah minimnya konflik.
Jika dorongan untuk peduli mulai melemah, pasangan bisa berubah menjadi sekadar "rekan serumah" tanpa ikatan emosional yang kuat. Dampak-dampak lainnya yang mungkin dirasakan adalah berikut:
- Kedekatan emosional semakin berkurang.
- Pasangan merasa kesepian meski masih bersama.
- Komunikasi menjadi dangkal dan hanya berfokus pada urusan sehari-hari.
- Masing-masing mencari dukungan emosional di luar hubungan, misalnya kepada teman atau lingkungan lain.
- Risiko hubungan berakhir meningkat karena kedua belah pihak merasa tidak lagi memiliki ikatan yang bermakna.
Apa Sisi Positifnya?
Meski terdengar negatif, memiliki kehidupan pribadi sebenarnya tidak salah. Tingkat kemandirian yang sehat dapat memberi manfaat bagi hubungan.
Artikel berjudul "Could Parallel Life Syndrome Actually Help Your Relationship?" yang dipublikasikan Body and Soul menjelaskan bahwa memiliki hobi sendiri, menjaga pertemanan, mengembangkan karier, atau menyediakan waktu untuk diri sendiri dapat membantu diri kita tetap bertumbuh sebagai individu.
Kemandirian seperti ini juga membuat pasangan tidak bergantung sepenuhnya satu sama lain sehingga hubungan terasa lebih sehat dan saling mendukung.
Yang perlu dibedakan adalah independensi yang sehat dengan Parallel Life Syndrome.
Hubungan yang langgeng bukan berarti kalian harus selalu melakukan semua hal bersama. Yang terpenting adalah tetap menjaga komunikasi, perhatian, dan momen kebersamaan agar dua orang yang berjalan berdampingan tetap merasa sedang menempuh perjalanan yang sama, bukan sekadar hidup di jalur yang sejajar.
Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih