Menuju konten utama

Saat Pekerjaan Terasa Berat, Minta Tolong Itu Manusiawi

Banyak dari kita, terutama yang terbiasa perfeksionis dan ingin selalu terlihat mampu, menganggap minta tolong sebagai tanda kegagalan.

Saat Pekerjaan Terasa Berat, Minta Tolong Itu Manusiawi
Header DIajeng Meminta Tolong. tirto.id/Quita

diajeng.id - Di dunia kerja, perempuan sering dipuji karena satu hal: kuat.

Kuat menahan lelah, kuat menghadapi tekanan, kuat mengatur segalanya tanpa banyak mengeluh.

Namun begitu, pujian ini diam-diam membawa jebakan. Sebab dari kecil hingga dewasa, banyak perempuan dibentuk untuk percaya bahwa menyimpan perasaan, sedih, marah, kecewa, adalah tanda kedewasaan.

Mengeluh dianggap lemah. Meminta tolong pun terasa seperti kegagalan.

Padahal, memendam bukan tanpa harga.

Tulisan dari Imma Rachmani di Diajeng menyebutkan bahwa kebiasaan perempuan untuk bungkam di bawah tekanan, self-silence, dapat menjadi silent killer yang menggerus kesehatan mental sekaligus fisik.

Seperti kisah Mentari, perempuan karier yang tampak sukses dan pada waktu sama menyimpan luka besar akibat pengkhianatan dalam rumah tangganya.

Beban yang dipikulnya tersebut begitu berat. Tanpa ruang untuk bicara dan tanpa bantuan profesional, tekanan itu akhirnya menjelma penyakit yang menyerang tubuhnya sendiri.

Cerita seperti Mentari mungkin terdengar ekstrem, tapi akarnya sangat dekat dengan keseharian kita.

Di kantor, di rumah, di ruang-ruang profesional, banyak perempuan memilih diam ketika kewalahan. Takut merepotkan. Takut dianggap tidak kompeten. Takut dinilai lemah.

Akhirnya, semua ditanggung sendiri, hingga lelah itu bukan lagi sekadar mental, tapi juga menjadi fisik.

Konselor kesehatan mental Leon Garber LMHC menuturkan di artikel Psychology Today bahwa banyak dari kita, terutama yang terbiasa perfeksionis dan ingin selalu terlihat mampu, menganggap meminta bantuan sebagai tanda kegagalan.

Di kepala kita, “butuh orang lain” sering diterjemahkan sebagai “aku tidak cukup kuat, tidak cukup pintar, atau tidak cukup kompeten.”

Padahal, hal ini lebih soal cara kita memandang diri sendiri, alih-alih cerminan realitas kemampuan kita.

Kenapa Kita Cenderung Enggan Meminta Bantuan?

Ada beberapa ketakutan besar di balik keengganan meminta tolong.

1. Rasa Malu

Ketika harus meminta tolong, kita dipaksa mengakui keterbatasan, dan itu melukai citra diri sebagai orang yang selalu bisa diandalkan.

Yang umumnya terbersit di pikiran “Jika aku benar-benar mampu, aku seharusnya bisa melakukannya sendiri.”

Agar tidak merasa lemah, rasa malu ini sering berubah menjadi kesal, pada diri sendiri atau bahkan pada orang lain.

2. Takut akan penilaian dan penolakan

Banyak orang khawatir, atau bahkan merasa, “Mereka tidak peduli padaku karena mereka pikir aku lemah.”

Di lingkungan kerja, ini bisa terasa seperti ancaman terhadap reputasi dan posisi.

3. Khawatir kehilangan kendali dan kemandirian

Meminta bantuan dimaknai seperti berutang atau bergantung pada orang lain sehingga terkesan seperti kehilangan kuasa atas diri sendiri.

Singkatnya, kita sering tidak menolak bantuan karena tidak membutuhkannya, melainkan karena kita takut pada makna emosional di baliknya: terlihat lemah, tidak layak, atau tidak sepenuhnya mandiri.

Padahal, justru kemampuan untuk meminta dan menerima bantuan adalah bagian penting dari hubungan kerja yang sehat dan kontinyu.

Di tempat kerja modern, cara kita meminta bantuan jauh lebih penting daripada sekadar apakah kita memintanya atau tidak.

Permintaan yang disampaikan dengan tepat justru bisa meningkatkan persepsi orang lain terhadap kompetensi kita, karena ia menunjukkan kesadaran diri, profesionalisme, dan penghargaan pada keahlian orang lain.

Cara Meminta Bantuan di Kantor Tanpa Terlihat Lemah

Menukil laman Forbes, berikut beberapa tips tentang cara meminta bantuan di kantor tanpa terdengar lemah atau tidak kompeten:

1. Buka dengan percaya diri, bukan minta maaf

Hindari kalimat seperti “Maaf mengganggu,” atau “Saya mungkin bodoh, makanya saya mau bertanya,” Kalimat pembuka tersebut langsung melemahkan posisi kita.

Sebaliknya, akui keahlian lawan bicara, “Pengalaman Anda di bidang ini tepat dengan kebutuhan proyek saya.” Permintaan jadi terdengar profesional, alih-alih memelas.

2. Sampaikan kebutuhan secara spesifik

Jangan datang dengan keluhan umum seperti, “Saya tidak kuat menghadapi ini.”

Tunjukkan bahwa kamu sudah berpikir. Misalnya, “Saya tahu Anda pernah menangani permintaan serupa sebelumnya, jadi Anda adalah orang yang tepat untuk diajak berkonsultasi".

Kejelasan membuat orang lain lebih mudah dan lebih mau membantu.

3. Tunjukkan bahwa kamu sudah berusaha

Datanglah dengan draf, catatan, atau opsi yang sudah dipikirkan. Dengan begitu, kamu tidak sekadar “lempar masalah”, melainkan mencari penyempurnaan.

Orang cenderung lebih menghargai permintaan dari orang yang sudah berinisiatif.

4. Posisikan sebagai permintaan saran, bukan pertolongan darurat

Alih-alih, “Tolong bantu saya,” tapi cobalah mengatakan, “Saya ingin belajar dari Anda tentang cara menangani situasi seperti ini.”

Pendekatan tersebut otomatis menggeser inti percakapan dari kelemahan diri sendiri ke keahlian kolega yang ditanya. Mereka pun jadi merasa dihargai.

Meminta bantuan yang efektif bukan soal “mengeluh”, melainkan soal mengomunikasikan realitas kerja secara jujur, jelas, dan bertanggung jawab.

Mengajukan permohonan bantuan dengan cara yang tepat juga tidak akan membuat kamu tampak lemah.

Justru sebaliknya, meminta tolong menunjukkan bahwa kita mengenali batas diri, peka terhadap situasi, dan cukup bertanggung jawab untuk tidak membiarkan masalah kecil tumbuh menjadi beban besar bagi diri sendiri.

Di satu sisi, kedewasaan juga berarti tahu bagaimana bersikap setelah bantuan itu datang.

Bantuan bukan sesuatu yang otomatis menjadi hak kita. Bantuan adalah bentuk kepercayaan, waktu, dan energi orang lain yang dipinjamkan pada kita.

Maka sikap yang tepat adalah bersyukur, menghargai, dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang taken for granted atau dianggap meremehkan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih