diajeng.id - Era teknologi dan digital saat ini memberikan banyak kemudahan bagi kita. Berbagai aktivitas pun bisa dilakukan tanpa harus banyak bergerak.
Beberapa di antaranya seperti bekerja di depan laptop, bermain video game, menonton film atau serial di Netflix selama berjam-jam, scroll medsos di tempat tidur, hingga belajar secara daring tanpa harus pergi ke sekolah.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut mungkin terlihat biasa saja dan bisa bikin kita nyaman. Namun begitu, jika dilakukan secara terus-menerus, kebiasaan yang dikenal dengan istilah malas gerak (mager) ini bisa berkembang menjadi perilaku sedentary lifestyle.
Sedentary lifestyle merujuk pada gaya hidup yang mengerahkan energi sangat rendah sehingga bisa membawa banyak risiko bagi kesehatan.
Dalam dunia medis, sedentary life didefinisikan sebagai aktivitas ketika seseorang yang terjaga mengeluarkan energi sebesar 1,5 Metabolic Equivalent of Task (MET) atau kurang.
MET adalah satuan yang digunakan untuk menggambarkan seberapa besar energi yang dikelurkan tubuh saat sedang beraktivitas.
Ketika kita beraktivitas dalam waktu lama untuk duduk, berbaring, atau bersandar, maka aktivitas ini masuk dalam kategori perilaku sedentary, karena tubuh hampir tidak membutuhkan tambahan energi untuk melakukannya.
Contoh Gaya Hidup Sedentary
Gaya hidup malas gerak alias "mager" ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Pada satu titik dalam hidup ini, kamu pasti pernah menonton TV berjam-jam, bermain video game sampai lupa waktu, duduk kerja di depan laptop seharian, membaca buku dalam posisi duduk yang lama, belajar secara daring, hingga scroll gawai untuk memantau medsos sambil tiduran.
Tidak salah juga melakukan aktivitas tersebut. Yang bisa jadi masalah adalah saat kamu melakukan aktivitas yang minim gerak tersebut tanpa diselingi aktivitas fisik.
Salah satu aktivitas yang saat ini jamak dilakukan banyak orang adalah betah bekerja selama berjam-jam di depan laptop.
Penelitian menunjukkan ketika kamu duduk lebih dari 10 jam dalam sehari dan aktivitas ini dilakukan selama berhari-hari, maka ini bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan masalah kesehatan lainnya.
Laman Cleveland Clinic bahkan menyebutkan, meski kamu memiliki indeks massa tubuh (BMI) yang ideal, tanpa melakukan aktivitas fisik dalam waktu lama, kamu berisiko terkena penyakit kardiovaskular.
Sirkulasi darah pun menjadi kurang optimal, metabolisme tubuh melambat, dan kemampuan tubuh dalam mengatur kadar gula serta lemak dalam darah juga dapat terganggu. Inilah sebabnya mengapa kebiasaan duduk dalam waktu lama tidak boleh dianggap sepele.
Masih melansir dari studi kolektif di Korean Jounal of Family Medicine, sedentary lyfestyle berkaitan dengan peningkatan risiko kematian akibat berbagai penyebab.
Bahkan, kebiasaan malas bergerak juga berhubungan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit kritis, seperti penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung, diabetes melitus, hipertensi, serta beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara, kanker usus besar, kanker kolorektal, kanker endometrium, dan kanker ovarium epitel.
Jadi, kalau kamu semakin sering menghabiskan waktu dengan gaya hidup sedentary dan berkesinambungan, maka akan semakin besar pula risiko gangguan kesehatan yang dapat muncul di kemudian hari.
Menariknya, bukan hanya total durasi duduk yang berpengaruh terhadap kesehatan, tetapi juga bagaimana pola duduk tersebut dilakukan. Duduk terus-menerus tanpa jeda ternyata memberikan dampak yang lebih buruk dibandingkan duduk dengan durasi yang sama tetapi diselingi aktivitas fisik ringan.
Jadi, kalau kamu duduk bekerja di depan komputer atau laptop, tetapi sesekali melakukan aktivitas yang ringan seperti berdiri, berjalan-jalan sebentar, atau melakukan peregangan dalam beberapa waktu, maka risiko gangguan kesehatanmu cenderung lebih rendah dibandingkan orang yang duduk tanpa henti selama berjam-jam.
Penelitian juga menemukan bahwa semakin sering kita menyelingi waktu duduk dengan bergerak, semakin baik pula kondisi kesehatan.
Kebiasaan mengambil jeda untuk berjalan atau melakukan aktivitas ringan berkaitan dengan penurunan lingkar pinggang, indeks massa tubuh (IMT), kadar trigliserida, serta kadar gula darah setelah makan.
Yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Sedentary Lifestyle
Ada beberapa cara sederhana yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk mencegah gaya hidup sedentary ini.
Menurut situs Harvard Medical School, tak perlu langsung berolahraga berat setiap hari, tapi mulailah dengan olahraga ringan, seperti berjalan kaki selama lima menit setiap dua jam saat duduk bekerja di depan laptop, berdiri setiap satu jam .
Alih-alih menggunakan lift atau elevator, pilihlah tangga. Lakukan juga peregangan ringan. Saat menonton televisi, kamu juga bisa memanfaatkan iklan untuk berdiri, berjalan di sekitar rumah daripada tetap duduk menatap layar.
Pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci kendaraan, berkebun, atau berjalan kaki saat berbelanja juga termasuk aktivitas fisik yang bermanfaat.
Apabila kamu masih merasa kesulitan meluangkan waktu khusus untuk berolahraga, coba bagi waktumu jadi beberapa sesi dengan durasi yang singkat, misalnya masing-masing 10 menit pada pagi, siang, dan sore hari.
Tidak perlu terpaku pada seberapa berat aktivitas yang dilakukan. Fokuslah pada seberapa konsisten kamu mau menggerakkan tubuh saat melakukan aktivas sehari-hari. Semakin sering tubuh bergerak, semakin besar pula manfaatnya bagi kesehatan.
Artikel lainnya seputar gaya hidup juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih