diajeng.id - Tak lama setelah bangun tidur, jemari sudah gatal ingin segera meraih gawai untuk scroll konten-konten seru di media sosial. Mau makan, ambil lagi smartphone, lalu lanjutkan scroll. Bosan menunggu tukang ojek yang tak lekas datang, scroll. Sebelum tidur? Scroll lagi, kenapa tidak?
Setiap hari, kita refleks menjangkau kotak kecil ajaib serbabisa tersebut ketika bingung mau melakukan sesuatu.
Mesin pencarian dan berbagai aplikasi media sosial di dalam genggaman gawai bisa dianalogikan seperti kamar-kamar di dalam rumah yang terasa familier dan membebaskan kita untuk melakukan apa saja.
Meski niat awal berselancar mencari informasi dan konten hiburan di smartphone hanya lima menit, realitasnya kita sering tergelincir sampai berjam-jam hingga akhirnya terjerembab ke dalam siklus yang destruktif.
Doomscrolling namanya. Kebiasaan sepele, akan tetapi dapat berdampak merugikan.
Kesehatan Mental Jadi Taruhan
Doomscrolling merupakan bentuk pelarian sejenak dari realitas sehari-hari.
Tidak berbeda jauh seperti kakak-kakak kita di era 1980-90-an yang mendengarkan musik lewat pemutar audio kaset Walkman atau memainkan konsol Game Boy, pada hari ini kita melakukan doomscrolling untuk mencari hiburan.
Kecanggihan teknologi membuat hiburan dan informasi kian mudah dijangkau di dalam satu gawai. Doomscrolling pun hadir sebagai konsekuensi kemajuan teknologi sekaligus bentuk nikmat duniawi yang sulit terelakkan di era digital.
Kebiasaan doomscrolling menimbulkan ketidaknyamanan dengan jeda atau proses karena kita telanjur dimanjakan dengan akses informasi instan.
Riset kesehatan mental di jurnal Applied Research in Quality of Life (2022) mengungkap bagaimana doomscrolling berkorelasi dengan meningkatnya gejala depresi, kecemasan, dan stres.
Kondisi-kondisi psikologis tersebut dapat menjelaskan kenapa kita yang lebih sering melakukan doomscrolling cenderung punya tingkat kesejahteraan psikologis dan kepuasan hidup lebih rendah serta kesehatan mental lebih buruk.
Melawan Balik Doomscrolling
Pada pandemi COVID-19 lalu, sebuah gerakan diinisiasi di Amsterdam, Belanda dengan tujuan menarik orang-orang dari gawai mereka. Lebih tepatnya lagi, mengganti screentime menjadi quality time di dunia nyata. The Offline Club.
Alih-alih terpaku pada kemilau layar di genggaman tangan, The Offline Club mengajak kita berkumpul untuk bersama-sama melakukan aktivitas tanpa gawai, seperti bermain musik, baca buku, merajut, main boardgame, journaling, mengobrol santai sambil minum kopi di kafe, atau jalan-jalan santai ke hutan.
Beberapa orang sekarang mulai mempertimbangkan mengganti gawai canggih dengan teknologi yang lebih sederhana. Ambil gambar lewat kamera digital yang pernah populer pada awal tahun 2000-an, mendengarkan musik dari iPod, atau pakai jam analog sebagai alarm.
Ada pula yang mengambil langkah ekstrem dengan menghapus pemakaian gawai sepenuhnya. Misalnya, memilih ponsel biasa yang hanya bisa dimanfaatkan untuk telepon dan kirim SMS.
Kalau kamu masih merasa kesulitan mengurangi doomscrolling atau mengimbanginya dengan aktivitas luring, coba untuk memulai dari hal-hal kecil.
Misalnya, alihkan waktu scrolling dengan menikmati media jenis lain. Jika terbiasa menonton video-video pendek, pertimbangkan untuk mengimbanginya dengan nonton film atau video YouTube. Durasinya yang jauh lebih panjang dapat membantu meningkatkan attention span.
Menonaktifkan gawai selama beberapa jam di akhir pekan, tidak mengantongi gawai saat bepergian sebentar, berjalan kaki atau duduk menunggu tanpa menyalakan gawai, juga bisa jadi pertimbangan.
Tidak ada salahnya pula memulai rutinitas olahraga baru atau mencoba menikmati kuliner tanpa memegang gawai.
Kita pun dapat kembali menekuni cara memproses lingkungan sekitar secara manusiawi dan lumrah. Pelan-pelan, kita melawan rasa takut tertinggal informasi atau dahaga informasi tak berkesudahan yang selama ini memompa hasrat untuk doomscrolling.
Jadi, apa kamu sudah siap untuk mengambil alih kontrol hidupmu agar semakin bermakna dan lebih berwarna?
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih