diajeng.id - Warna netral, logo merek tersembunyi, kesan elegan, gaya tak lekang waktu.
Kalau kamu sering berselancar di media sosial, ciri-ciri di atas mungkin mengingatkan pada gaya penampilan old money. Begitulah gaya fesyen yang semakin dipuja-puji dalam narasi massa akhir-akhir ini.
Old money merujuk kepada kekayaan turun-temurun yang diwariskan antargenerasi. Berbeda dari orang kaya umumnya, kelompok old money merujuk pada keluarga konglomerat yang menguasai bisnis mapan dari leluhurnya dengan harta kekayaan dan aset berjumlah fantastis.
Autentisitas old money kerap dikaitkan dengan stealth wealth (kemewahan senyap).
Meski memiliki kemampuan untuk membeli atau mengakses apa pun yang dikehendaki, orang yang betul-betul tajir melintir justru mengupayakan agar dirinya tidak terlihat mencolok alias tidak “berisik” sehingga mereka terhindar dari sorotan publik yang tidak perlu.
Dari sekian banyak aspek gaya hidup yang dijalani kalangan jetset ini, gaya berpakaian adalah salah satu elemen yang paling mudah diamati—dan paling mungkin direplikasi.
Semakin banyak ikon internet, influencer, dan kreator konten yang memberikan panduan cara berpakaian ala old money. Berbagai jenama fesyen juga berupaya mempertahankan relevansi mereka dengan menawarkan promosi padu padan pakaian dengan gaya serupa.
Bisa saja begitu. Dalam siniar The Psychology of Us, pakar teori psikologi RJ Starr mengungkapkan bahwa pakaian memiliki peran dalam membentuk perasaan kita. Artinya, pakaian yang menempel di luar tubuh turut andil mengondisikan struktur psikologis pikiran kita.
Jadi, saat kita memutuskan berpakaian seperti old money, sedikit-banyak terkandung keinginan untuk terlihat seperti mereka.
Sebagaimana sifat alamiah manusia, kita ingin merasa mewah, besar, eksklusif, suatu posisi yang mungkin tidak akan terasa komplet tanpa atribut pakaian tertentu karena faktanya, ya, fesyen adalah alat komunikasi yang efektif.
Coba, beberapa dari kamu mungkin pernah punya pengalaman tidak mengenakkan saat berbelanja di toko dengan mengenakan baju biasa. Ada-ada saja perilaku penjaga toko yang meremehkan kamu, menganggapmu calon pembeli yang tidak prospektif atau berasumsi kamu tidak mampu membeli produk mereka yang cenderung mahal.
Berpakaian ala old money membantu kita mempresentasikan versi diri yang lebih menarik dan tepercaya. Tebersit harapan agar diri ini, sosok yang tentu tidak setajir melintir keluarga old money, bisa mengeluarkan setidaknya sedikit aura “mampu” dan mendapatkan respek dari orang lain.
Tampil Low-Key: Sebuah Respons Sosial
Di luar kaitannya dengan tren fesyen atau keinginan banyak orang agar terlihat kaya, popularitas gaya berpakaian minimalis nan elegan ini juga bisa dijelaskan sebagai respons terhadap dinamika sosioekonomi.
Menurut Lorna Hall, Director of Fashion Intelligence dari WGSN, agensi yang memprediksi tren fesyen, gaya berpakaian ala old money bisa jadi semacam respons atas gejolak ekonomi yang tengah berlangsung.
Dalam penyampaiannya pada BBC Culture pada 2023 lalu, Hall menuturkan bahwasanya dunia mode kadang-kadang memang kurang peka atau tidak sensitif terhadap perubahan sosial, tetapi mereka sebenarnya sangatlah “responsif” dan dapat menyesuaikan diri.
Kondisi saat ini, kata Hall, mengingatkan pada krisis keuangan global pada 2008 lalu. Kala itu, banyak merek fesyen dan jenama besar berusaha menyesuaikan ulang cara mereka berkomunikasi lewat produk-produk yang lebih kalem.
“Ketika sebagian besar masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar… memamerkan kemewahan secara berlebihan akan terasa tidak peka terhadap realitas yang tengah berlangsung," tutur Hall.
Namun begitu, menurut Hall, merebaknya stealth wealth look belakangan ini lebih erat kaitannya sebagai respons atas gaya berpakaian santai selama pandemi COVID-19.
Ingat, saat pandemi lalu, kita terbiasa pakai piyama atau baju tidur karena tidak ada kebutuhan untuk keluar rumah. Saat rapat kerja atau ikut kuliah via Zoom, kita mungkin juga belum mandi dan pakai baju apa adanya.
Selain itu, Hall juga tidak menampik bahwa kita masih terobsesi dengan nostalgia gaya fesyen minimalis era 1990-an, yang cocok bersanding dengan tampilan stealth wealth serta kemewahan yang low-key.
Fesyen Old Money untuk Kita?
Tentu tidak ada yang salah dari keinginan kita untuk tampil minimalis dan elegan ala old money.
Namun, pada waktu sama, kita harus membangun kesadaran bahwa narasi fesyen ini lahir dan berkembang dari kalangan jetset, bahkan semakin populer berkat serial drama keluarga elite Succession.
Artinya, tren fesyen tersebut perlu dilihat sebagai sebuah alat pembeda kelas sosial. Dalam hal ini, old money style atau stealth wealth look menjadi upaya kalangan jetset untuk menjaga atau mempertahankan posisi mereka sebagai kelas sosioekonomi yang “berbeda”.
Menurut Maia McDonald dalam tulisan berjudul ‘First, We Eat With Our Eyes: The Aesthetics of the Rich’ (2022), fenomena fesyen ala old money juga bisa dibaca sebagai perpanjangan dari tekanan yang diberikan kelas ekonomi atas kepada kelompok kelas di bawahnya.
Menyoroti gaya pakaian mereka justru mengalihkan kita dari isu-isu yang jauh lebih krusial, seperti kesenjangan ekonomi antara orang-orang super kaya dan masyarakat kelas menengah serta kelas pekerja.
Pada akhirnya, gaya fesyen old money atau stealth wealth sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai tren zaman, tetapi juga perlu diobservasi dengan sensitivitas atau rasa peka.
Editor: Sekar Kinasih