diajeng.id - Saat hujan turun, aroma tetesan air pertama yang jatuh di tanah kering bisa terasa begitu menenangkan.
Momen ini sulit dijelaskan, mulai dari bunyi rintik yang lembut, aroma khas tanah basah, hingga udara dingin, kombinasinya bisa menghadirkan ketenteraman dalam hati.
Di Indonesia, berdasarkan prediksi Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan tahun ini berlangsung sepanjang bulan September hingga November.
Ada banyak orang mengaku merasa hatinya lebih damai saat hujan turun, seolah-olah dunia yang tadinya riuh sejenak mengambil jeda.
Di balik kesederhanaannya, hujan dapat membantu meredakan pikiran yang berkecamuk, mengundang kenangan, dan menghadirkan keintiman dengan diri sendiri.
Studi Tentang Hujan dan Kesehatan Mental
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hujan dapat memengaruhi emosi dan bahkan memberikan efek “terapeutik” bagi sebagian orang.
Ada yang merasa lebih bahagia, ada pula yang merasa melankolis.
Di balik itu, keduanya sama-sama menemukan makna dalam kehadiran hujan.
Menurut studi metanalisis di jurnal PNAS (2021), natural soundscapes atau suara-suara yang berasal dari alam dapat bermanfaat pada kesehatan, meningkatkan dampak positif dalam diri, dan meredakan stres.
Selain itu, kicauan burung disebut paling efektif untuk meredakan stres dan rasa jengkel.
Temuan seperti di atas mungkin dapat menjelaskan alasan begitu banyaknya aplikasi meditasi dan tidur yang menampilkan suara alam, gemericik air sungai, maupun rintik hujan sebagai audio latar.
Ingat dengan aroma tanah khas ketika hujan jatuh di tanah kering? Disebut petrichor, aroma ini mengandung geosmin, senyawa dari bakteri tanah dengan bau khas tanah atau bau lembap.
Bagi banyak orang, suasana hujan, aroma dan bunyinya, bisa terasa seperti terapi sederhana bagi jiwa yang lelah atau cemas.
Hujan dapat memberikan kita alasan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pekerjaan atau kesibukan, dan kembali fokus pada diri sendiri.
Pada waktu yang tepat, kita bisa menikmati hujan sebagai panggilan lembut untuk melakukan hal-hal menenangkan dan sederhana.
Melansir artikel dr. Sumaiya Petiwala, aktivitas membaca bisa dilakukan saat hujan. Perpaduan antara cerita dalam buku dan musik alami dari langit menciptakan suasana yang menenangkan pikiran.
Ritme rintik hujan seakan menyelaraskan pikiran kita, membantu membuka lapisan-lapisan emosi dan ingatan yang mungkin selama ini tersembunyi.
Tak jarang, tulisan yang lahir di hari hujan terasa lebih jujur, reflektif, dan penuh makna.
Meski begitu, sebuah penelitian di jurnal The International Journal of Environmental Research and Public Health (2021) tentang hubungan antara curah hujan dan kesehatan mental menunjukkan bahwa kaitan antara keduanya cukup rumit dan berbeda-beda, tergantung tempat tinggal dan berapa lama dampaknya muncul.
Misalnya, perubahan pola hujan bisa memengaruhi tingkat stres, kecemasan, bahkan kebiasaan hidup di suatu komunitas.
Dalam penelitian tersebut, berdasarkan temuan di wilayah pertanian Australia Barat, curah hujan yang tidak menentu, terlalu sedikit, atau terlalu banyak dapat memengaruhi kondisi mental masyarakat yang penghidupannya bergantung pada alam.
Namun, tim peneliti juga mencatat bahwa efek hujan tidak sama bagi semua orang.
Dari temuan itu, para peneliti menyimpulkan bahwa hujan bukan sekadar fenomena cuaca, tapi bagian dari ekosistem kehidupan yang lebih luas, yang bisa mengubah suasana hati, kebiasaan, dan bahkan cara kita memandang dunia.
Hujan Membuat Tubuh Lebih Segar
Sewaktu kecil, kita mungkin sering ditegur agar tidak hujan-hujanan.
Menariknya, berjalan di bawah guyuran rintik hujan atau setelah hujan, dipandang dapat memberikan dampak positif: badan lebih segar dan pikiran lebih tenang.
Dikutip dari BBC, ilmuwan menduga hal tersebut berkaitan dengan ion-ion negatif, molekul kasat mata tidak berbau yang tercipta secara alamiah di dekat air mengalir, seperti air terjun, debur ombak, bahkan embun dan kabut.
Menurut penjelasan Dr Niek Buurma, dosen kimia organik fisik dari Cardiff University, ion-ion negatif bisa terbentuk dari tetesan air hujan yang pecah jadi beberapa bagian kecil saat menyentuh permukaan tanah yang keras.
Pecahan kecil air hujan tersebut bisa menyerap muatan.
"Muatan itu, jika bersifat negatif, mengandung elektron tambahan yang bisa diserap oleh molekul di udara, seperti oksigen dan karbon dioksida. Begitulah ion negatif terbentuk," terang Buurma.
Dari proses sederhana itulah ion negatif terbentuk.
Mungkin itu sebabnya berjalan di bawah hujan bisa terasa seperti meditasi alami: setiap tetes yang jatuh bukan hanya membasahi tanah, tetapi juga menyapu pikiran dari hal-hal yang menumpuk.
Pada jiwa-jiwa yang kontemplatif dan romantis, hujan tampaknya lebih dari sekadar fenomena alam.
Hujan dapat menjadi pengalaman sensorik yang menyatukan tubuh, pikiran, dan lingkungan asri dalam harmoni merdu. Setuju?
Editor: Sekar Kinasih