Menuju konten utama

Small Talk dengan Orang Asing: Rasa Terhubung yang Kita Butuhkan

Di balik rutinitas yang terstruktur rapi, tersembunyi keindahan dan kekuatan dalam sapaan spontan tak terencana dengan orang lain.

Small Talk dengan Orang Asing: Rasa Terhubung yang Kita Butuhkan
Header diajeng Interaksi dengan Strangers. tirto.id/Quita

diajeng.id - Di tengah hiruk-pikuk kesibukan sehari-hari, sebagian besar dari kita sudah terbiasa dengan pemandangan orang bergegas jalan cepat di trotoar.

Kesan sibuk juga diperkuat dengan tatapan matanya ke layar smartphone, atau kedua telinga yang dijejali dengan perangkat headset.

Ini menunjukkan orang-orang, dan mungkin termasuk kita sendiri, secara refleks menghindari orang asing yang hanya berjarak beberapa langkah, sebuah mekanisme pertahanan yang membuat kita fokus dan "efisien".

Namun, jika kita berhenti sejenak dan benar-benar merenungkan, seberapa banyak kehangatan dan koneksi otentik yang kita lewatkan dalam keheningan yang kita pilih itu?

Di tengah rutinitas yang terstruktur rapi, ada sebuah keindahan dan kekuatan tersembunyi yang bersemayam dalam sapaan spontan yang tak terencana.

Ini bukan tentang menjalin persahabatan seumur hidup, melainkan interaksi sederhana yang mungkin cuma berdurasi lima detik, mulai dari senyum yang dibalas, tatapan hangat, pujian singkat tentang hijab atau model busananya, bahkan sesimpel komentar ringan tentang cuaca.

Tindakan-tindakan kecil ini, yang sering kita anggap remeh, ternyata menyimpan potensi yang luar biasa.

Selain memecah dinding kebisuan yang kita bangun, ilmu pengetahuan justru mengungkapkan bahwa koneksi kilat ini bisa bermakna bagi psikologi kita. Siapa sangka, basa-basi dengan orang asing ini punya potensi menyehatkan bagi kesejahteraan mental dan emosional kita.

Riset Tentang Dampak Koneksi dengan Orang Asing

Riset psikologi sosial yang dilakukan oleh tim peneliti University of North Carolina at Chapel Hill dan Positive Emotions and Psychophysiology Lab menunjukkan bahwa momen-momen kecil penuh kehangatan dengan orang yang tidak kita kenal bukan sekadar pemanis hari.

Ketika dua orang, bahkan hanya sebentar, merasa selaras, saling peduli, dan berbagi emosi positif, tercipta apa yang disebut resonansi positif. Inilah bentuk paling dasar dari koneksi manusia.

Dikutip laman Greater Good, penelitian yang mempelajari 335 orang dewasa muda ini memeriksa apakah kualitas interaksi mereka dengan orang-orang terdekat dan dengan orang-orang yang tidak dekat (orang asing dan kenalan) berkaitan dengan kesejahteraan mereka.

Hasilnya ditemukan bahwa interaksi berkualitas dengan orang asing mampu meningkatkan suasana hati, mengurangi rasa kesepian, dan menumbuhkan rasa memiliki bahkan dampaknya sebanding dengan hubungan dekat seperti keluarga atau sahabat.

Bukan jumlah interaksi yang penting, melainkan kualitas emosionalnya.

Lebih jauh lagi, interaksi sederhana ini berperan membangun sesuatu yang lebih luas dari diri kita sendiri.

Setiap sapaan ramah seperti untaian tali yang mengikat kita ke dalam hubungan di masyarakat. Ia menumbuhkan kepercayaan, memperkuat rasa kebersamaan, dan secara perlahan membentuk masyarakat yang lebih ramah dan kooperatif.

Di tengah dunia yang semakin membuat kita terpisah satu sama lain, penelitian ini mengingatkan di mana koneksi tidak selalu harus besar atau mendalam.

Kadang-kadang, pilihan sederhana untuk menyapa, tersenyum, atau hadir sepenuh hati dalam interaksi singkat justru menjadi langkah kecil menuju masyarakat yang lebih sehat dengan hati yang lebih utuh.

Ketika kesempatan itu datang, memilih untuk terhubung ternyata bukan hal sepele.

Keragaman Relasi Tumbuh dari Banyak Arah

Riset di jurnal PNAS (2022) mengingatkan kita bahwa kebahagiaan tidak hanya lahir dari kedekatan, tetapi juga dari keberagaman hubungan.

Berbicara dengan orang asing, di antrean, di kedai kopi, atau di jalan, ternyata berkaitan erat dengan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi.

Tim peneliti menyebutnya keragaman relasional, yakni perpaduan antara siapa saja yang kita ajak berinteraksi dan seberapa seimbang percakapan itu tersebar.

Semakin beragam jenis orang yang kita temui dalam sehari, pasangan, keluarga, rekan kerja, hingga orang asing, dan semakin merata interaksi itu, semakin besar rasa bahagia yang dirasakan.

Pola ini konsisten ditemukan pada sampel besar di berbagai negara.

"Semakin banyak kategori hubungan yang mereka bicarakan dalam sehari dan semakin merata percakapan mereka di berbagai kategori tersebut, semakin bahagia mereka. Dan kami menemukan ini dalam sampel besar di banyak negara," kata Hanne Collins, salah satu anggota tim peneliti seperti dikutip NPR.

Temuan ini semakin menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang bertumbuh lewat banyak jenis koneksi.

"Kalau kamu memiliki beberapa percakapan dengan rekan kerja, beberapa dengan teman, beberapa dengan pasangan romantis, atau beberapa obrolan dengan orang asing, itu akan lebih merata di seluruh kategori ini," tambah Collins.

Lingkaran terdekat memang penting, tetapi kesejahteraan justru menguat ketika hidup kita diisi oleh pertemuan lintas jarak kedekatan, dari yang akrab hingga yang sekadar saling sapa.

Belajar Kembali dari yang Asing

Sejumlah ilmuwan sosial mengingatkan bahwa terlalu lama mengajarkan rasa takut pada orang asing bisa membawa dampak yang tidak kita sadari.

Ilmuwan politik Dietlind Stolle dari McGill University menilai bahwa pesan semacam ini berpotensi melemahkan kemampuan satu generasi untuk memercayai orang lain. Padahal, kepercayaan adalah fondasi penting bagi masyarakat yang berfungsi sehat.

"Berapa banyak kesempatan sosial atau ekonomi yang kita lewatkan hanya karena takut pada orang asing?" tanya Stolle dinukil dari BBC.

Ya, meskipun kita tetap perlu berhati-hati dengan orang asing, tetapi sebagai orang dewasa, ada manfaat besar ketika kita belajar berinteraksi dengan orang asing secara aman dan manusiawi.

Dalam riset-risetnya, Stolle berupaya mengungkap alasan kita tidak berbicara dengan orang asing dan apa yang terjadi ketika kita melakukannya.

Hasilnya menarik. Ketika kecurigaan berkurang dan percakapan kecil dimulai, maka itu tidak hanya memperkaya pengalaman pribadi, tetapi juga ikut menumbuhkan kembali budaya saling percaya.

Dan dari sanalah, dari satu sapaan sederhana, masyarakat yang lebih hangat dan tangguh perlahan dibangun.

Manfaat Berinteraksi dengan Orang Asing

Dalam tulisannya di The British Psychological Society (BPS), dosen psikologi dari University of Sussex, Gillian Sandstrom, menuturkan bahwa selama ini riset-riset menunjukkan pola yang sama: berbicara dengan orang asing sering kali terasa lebih menakutkan dalam bayangan daripada kenyataannya.

Kita cenderung mengira diam lebih nyaman, padahal setelah percakapan singkat terjadi, suasana hati justru membaik dan rasa keterhubungan meningkat.

Interaksi sederhana di kereta, di kedai kopi, atau di tempat umum bisa berubah dari aktivitas fungsional menjadi pertemuan manusiawi yang bermakna.

Selain membuat kita merasa lebih bahagia, percakapan dengan orang asing juga membuka ruang belajar: pengetahuan baru, sudut pandang segar, dan informasi yang tak akan kita dapatkan jika memilih tetap tertutup.

Pada akhirnya, berbicara dengan orang asing bukan tentang menjadi akrab, melainkan tentang membuka diri.

Dari keberanian kecil untuk menyapa, kita menemukan bahwa dunia ternyata lebih ramah, lebih kaya, dan lebih menghubungkan daripada yang sering kita bayangkan.

Kamu juga bisa membaca artikel terkait lainnya lewat link ini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih