Menuju konten utama
Hari Kesehatan Mental Sedunia

Suara Penyintas dan Harapan Inklusi Disabilitas Psikososial

Orang dengan Disabilitas Psikososial (OODP) bisa pulih dan mengelola risiko kekambuhannya melalui berbagai sarana koping positif dan katarsis.

Suara Penyintas dan Harapan Inklusi Disabilitas Psikososial
Header Diajeng Makna pulih gangguan psikososial. foto/istockphoto

diajeng.id - Umumnya, kita mengukur kesembuhan atau kondisi pulih dari sakit dengan "kaku". Sakit dan sembuh, acap kali kita teropong seperti lembaran kertas hitam versus putih.

Namun, pengalaman Dyah Ari Wijayanti, seorang penyintas dan caregiver Bipolar Disorder, memberikan sudut pandang yang sangat manusiawi.

Bagi Dyah yang terdiagnosis sejak tahun 2012, pulih bukanlah kondisi serbasempurna.

"Apakah seseorang tetap dapat dikatakan pulih meskipun masih minum obat secara rutin dan berobat ke psikiater? Apakah bisa dikatakan pulih apabila masih ada stressor dan trigger (pemicu)? Apakah masih bisa pulih apabila masih ada gejala gangguan jiwa dan psikotik? Dan kemudian apakah masih bisa pulih bila memerlukan konseling, masih mengalami naik turunnya kehidupan, masih ada kemungkinan kambuh, dan masih membutuhkan bantuan dari keluarga?" tanya Dyah.

Jawabannya adalah bisa; mengelola risiko kekambuhan dapat dilakukan melalui berbagai sarana koping positif dan katarsis.

"Saya mengalami sendiri bahwa kepulihan itu memang perjalanannya panjang, saya punya definisi tersendiri tentang kepulihan. Saya merasa pulih, misal sudah bisa menempatkan diri pada konteks," ucap Dyah.

Penuturan tersebut Diah sampaikan dalam webinar bertajuk "Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change" Mendengar Suara Penyintas, Menguatkan Pemulihan, Mendorong Perubahan yang diselenggarakan oleh Yayasan SATUNAMA Yogyakarta bekerja sama dengan Rumah Sakit Islam Yogyakarta (RSIY) PDHI dan Mindfullife Community dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 pada Rabu (7/10).

Webinar ini menjadi ruang refleksi mendalam mengenai arti pemulihan, penanganan kesehatan mental, serta pentingnya mendengarkan suara penyintas dari Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP).

Arti Sebuah Kepulihan bagi Dyah

Dyah pun melanjutkan dengan menceritakan bagaimana awalnya idirinya bisa didiagnosis mengidap bipolar dan berbagai pengalaman unik ketika mengalami delusi, halusinasi, serta cara menyiasati kekambuhan tersebut.

"Misalnya, ketika sedang mengisi webinar sekarang, tapi ada psikotik, misal keset di dekat saya warnanya merah, berarti 'pasukan' saya lagi mati satu. Saya bisa tiba-tiba teriak di webinar ini 'Sebentar ya, saya pergi dulu, pasukanku mau mati satu, aku harus menyelamatkannya dulu'. Jadi ketika sudah bisa menempatkan diri pada konteks sedang apa, di mana, bersama siapa percakapannya, apa bisa nyambung waktu ngobrol, menurut saya sudah pulih, walaupun masih ada sedikit. Oke, itu kesetnya merah, aku lagi apa sekarang? Oh ngobrol, itu sisihkan dulu," tutur Dyah sambil menyebut delusi dirinya yang menjadi ksatria penyelamat Bumi.

Sebagai ODDP, Dyah pun masih harus terus berjuang untuk pulih, meski hingga saat ini tidak bisa lepas dari obat-obatan.

"Saya sadar saya masih butuh obat, karena kalau saya berusaha menyetop obat, saya langsung otw kambuh dan kambuhnya bisa lebih parah dari yang sebelum-sebelumnya. Jadi, oke, otak saya masih butuh penyeimbang. Jadi pemulihan masih bisa berjalan walau saya masih minum obat," tambah Dyah.

Lalu, apa yang bisa Dyah upayakan untuk mengatasi kekambuhannya tersebut? Yang utama, Dyah menyadari perlu membangun kebiasaan baik, salah satunya melalui praktik-praktik mindfulness. Baginya, kegiatan apa pun itu bentuknya jika dilakukan secara mindful, maka hasilnya akan menjadi baik.

"Jadi misalnya mindfull eating, itu makan dengan mindfull. Tidak melihat gadget, tidak disambi, benar-benar full fokusnya pada makanan yang kita makan, dan dirasakan satu-satu. Mandi juga begitu, bagaimana air membasahi badan, bagaimana bau sabun. Jadi sebenarnya semua hal harian yang kita lakukan itu bisa dilakukan dengan mindfull, dan itu adalah praktik mindfulness," terangnya.

Selain itu, Dyah menambahkan hal positif lainnya yang bisa dilakukan, seperti journaling, yoga, meditasi, hingga menyalurkan kreativitas lewat seni. Kegiatan tersebut bisa jadi fondasi penting untuk hidup kita.

Dengan menerapkan pendekatan kesadaran penuh (mindfulness), Dyah terbantu untuk menyadari kondisi fisik dan emosional, memperoleh mood-stabilizer alami, sekaligus mencegah tindakan impulsif atau reaktif.

Rehabilitasi Psikososial: Membangun Kemandirian dan Inklusi

Melengkapi kisah nyata dari penyintas, Saptoputri Trisnowati Handayani dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta pada kesempatan yang sama memaparkan pentingnya rehabilitasi psikososial bagi ODDP.

Saptoputri mengatakan, rehabilitasi sosial dirancang bukan sekadar menyembuhkan gejala, tetapi juga membantu ODDP agar mampu mengembalikan dan meningkatkan fungsi sosialnya untuk kembali berinteraksi dengan keluarga serta masyarakat. Rehabilitasi sosial juga merupakan upaya untuk membantu OODP mencapai kemandirian, baik dalam aktivitas harian (merawat diri, mandi, makan) maupun pengelolaan diri (manajemen stres dan keuangan sederhana).

"Dengan rehabilitasi, juga mewujudkan inklusi sosial, sehingga ODDP dapat berpartisipasi aktif dan diterima secara utuh tanpa stigma; selain itu, dapat pula meningkatkan kualitas hidup, dengan membangun kembali harapan, tujuan hidup, serta rasa bermartabat," ucap Saptoputri.

Peran Keluarga, Masyarakat, hingga Sektor Swasta

ODDP membutuhkan ekosistem yang kondusif dan suportif. Salah satu yang utama adalah peran keluarga.

"Keluarga merupakan garda terdepan yang harus memberikan dukungan emosional untuk menghindari pelabelan negatif. Namun, ketika mendampingi, tidak perlu pula bersikap terlalu mengekang (overprotective), agar penyintas benar-benar merasa aman," sebut Saptoputri.

Pemerintah, didukung oleh masyarakat, juga punya peran bagi ODDP, misalnya dengan menciptakan lingkungan aman berbasis komunitas, menjamin akses terhadap layanan kesehatan jiwa, serta menyusun regulasi yang inklusif.

Selain itu, masih ada sektor swasta, pihak yang berpotensi membuka peluang kerja yang ramah bagi kesehatan jiwa, melakukan pelatihan keterampilan, dan mendukung kemandirian ekonomi ODDP.

Melalui kolaborasi antara pengalaman hidup penyintas dan dukungan sistemik rehabilitasi sosial, harapan untuk menciptakan dunia yang ramah, empatik, dan inklusif bagi semua orang bukan lagi sekadar impian, melainkan juga bentuk kolektif kita semua.

Artikel lainnya terkait kesehatan mental juga dapat dibaca di tautan ini.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih