diajeng.id - Mengenalkan sejarah kepada anak tidak melulu harus melalui cerita tokoh dan menghapal tahun terjadinya. Cara yang bisa dilakukan salah satunya adalah lewat buku cerita bergambar yang penuh warna dan kisah-kisah menarik.
Dengan membaca buku bergambar sejarah, anak pun akan memiliki imajinasi serta menjelajahi masa lalu dari kisah yang diceritakan, seperti cerita kerajaan, tokoh-tokoh kemerdekaan, hingga peristiwa penting terbentuknya peradaban.
Buku-buku bergambar sejarah mampu menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan sejak dini.
Rekomendasi Buku Bergambar Tentang Sejarah yang Menarik buat Anak-Anak
Berikut ini beberapa rekomendasi buku bergambar sejarah terbaik yang seru, edukatif, dan menarik untuk dibaca anak-anak:
1. Sitti’s Bird: A Gaza Story
Buku karya seniman asal Gaza, Malak Mattar, ini menceritakan tentang kondisi Palestina yang diinvasi Israel.Lewat kisah Malak kecil, buku ini memperlihatkan bagaimana harapan bisa tumbuh di tengah perang. Saat bom menghujani kotanya dan ketakutan menjadi bagian dari hari-hari, ia ia tinggal di rumah selama 50 hari.
Malak lalu menemukan pelarian lewat kuas dan lukisan, warna-warna menjadi bahasanya untuk melawan gelap, juga membantunya mengatasi trauma dan ketakutan
Cerita Sitti's Bird: A Gaza Story bukan sekadar tentang kesedihan, tetapi tentang ketangguhan anak-anak Gaza yang menjadikan seni sebagai cahaya dan cara untuk terus percaya bahwa masa depan bisa lebih damai.
2. These Olive Trees
Masih berkisah tentang Bumi Palestina, berlatar tahun 1967 di Nablus, buku yang ditulis dan diilustrasikan oleh Aya Ghanameh ini memaparkan kisah seorang bocah kecil bernama Oraib.Oraib harus meninggalkan rumah dan pohon zaitun kesayangannya akibat perang. Pohon zaitun itu sendiri merupakan simbol keluarga, tanah, dan kenangan, pengikat antara masa lalu dan harapan.
Di buku ini diceritakan, Oraib yang berjanji dengan sungguh-sungguh kepada pohon zaitun kesayangannya ketika keluarganya harus mengungsi. Ia akan memastikan warisan mereka tetap hidup untuk generasi mendatang.
Dalam lembar-lembar ilustrasi yang indah, kita merasakan getirnya kehilangan tetapi juga kekuatan janji seorang anak untuk menjaga warisan tanah airnya, seolah setiap tetes minyak zaitun menyimpan doa untuk kebebasan.
3. Henry’s Freedom Box
Buku ini berangkat dari kisah nyata tentang riwayat perbudakan kulit hitam di Amerika Serikat.Alkisah, Henry Brown adalah seorang budak yang menolak menyerah pada nasib. Henry berupaya mengajarkan arti kebebasan sejati.
Setelah keluarganya dijual, Henry menemukan cara tak biasa untuk melarikan diri, yaitu dengan mengirim dirinya sendiri dalam sebuah peti kayu ke Utara.
Dalam kegelapan sempit itu, ia menunggu hari “ulang tahun” pertamanya sebagai manusia merdeka.
Buku yang ditulis Ellen Levine dan diilustrasikan oleh Kadir Nelson ini menyentuh hati, menunjukkan bahwa keberanian terkadang datang dari keputusan paling nekat tetapi paling jujur untuk hidup sebagai diri sendiri.
4. The House Before Falling into the Sea
Penulis Ann Suk Wang berhasil meraih penghargaan Kirkus Best Books of the Year atas buku ini.Di tengah berkecamuknya Perang Korea (1950-1953), rumah keluarga Kyung Tak menjadi tempat berlindung bagi para pengungsi yang melarikan diri dari Korea bagian utara.
Awalnya, ia kesal karena rumahnya penuh sesak, panas, dan berisik. Pada waktu bersamaan, perang mengajarinya sesuatu yang jauh lebih besar: bahwa kebaikan adalah kekuatan di masa tergelap.
Kisah ini menghangatkan hati, tentang kepedulian dan penerimaan terhadap orang asing, berbagi ruang, serta menemukan makna sejati dari kata “rumah”.
5. The Whispering Town Ini adalah buku cerita tentang sejarah Holocaust. Berlatar Denmark tahun 1943, dikisahkan bagaimana Anett dan keluarganya menyembunyikan seorang ibu dan anak Yahudi dari kejaran tentara Nazi.
Saat malam tanpa bulan datang dan bahaya mengintai, penduduk desa menuntun mereka menuju pelabuhan lewat bisikan lembut, “Lewat sini.” Cerita ini sederhana tapi menggetarkan, tentang keberanian yang tidak berteriak, dan solidaritas yang menyelamatkan nyawa dalam keheningan.
Dikutip situs Muse Project, narasi yang dibuat Jennifer Elvgren dalam buku ini terfokus dan tanpa sentimentalitas, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai pilihan ideal untuk memperkenalkan anak-anak kepada banyak orang yang berani melakukan apa yang benar selama rezim Nazi.
6. 30 Minutes Over Oregon: A Japanese Pilot’s World War II Story
Kisah nyata Nobuo Fujita, pilot Jepang yang pernah mengebom hutan di Oregon selama Perang Dunia II, menunjukkan bahwa penyesalan bisa berubah menjadi perdamaian.Bertahun-tahun kemudian, ia diundang kembali ke kota yang dulu ia serang, bukan sebagai musuh, melainkan tamu kehormatan. Dari pertemuan itu tumbuh persahabatan yang tulus.
Buku karya Marc Tyler Nobleman ini menyentuh hati dengan pesan bahwa memaafkan adalah bentuk keberanian yang paling manusiawi.
7. The Moon from Dehradun
Buku ini membawa kita ke masa Partisi India–Pakistan pada 1947 melalui mata seorang gadis kecil bernama Azra.Di tengah kekacauan dan pengungsian, ia terpaksa meninggalkan bonekanya, Gurya, satu-satunya bagian dari rumah lamanya.
Namun, seperti jutaan pengungsi lain, Azra belajar bahwa kenangan dan cinta tidak bisa ditinggalkan.
Kisah lembut karya Shirin Shamsi ini adalah potret kehilangan dan keteguhan, mengingatkan kita bahwa setiap perpisahan menyimpan harapan untuk awal yang baru.
Melalui tujuh buku bergambar ini, anak-anak tidak hanya belajar tentang perang, penjajahan, atau perbatasan, tetapi juga tentang keberanian, kasih, dan keteguhan hati manusia.
Setiap kisah mengajak mereka melihat bahwa di balik sejarah yang kelam selalu ada cahaya kecil, dari kuas yang menari di Gaza, hingga bisikan lembut di Denmark.
Membacanya bersama anak bukan sekadar mengenalkan masa lalu, tetapi menumbuhkan empati dan keyakinan bahwa dunia bisa menjadi tempat yang lebih baik jika kita mau memahami satu sama lain.
Simak juga rekomendasi buku-buku lainnya di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih