diajeng.id - Pada 22 Juni yang lalu, Kota Jakarta merayakan ulang tahun ke-499.
Selebrasi ini turut dimeriahkan pemerintah daerah dengan menggratiskan biaya berbagai transportasi umum selama tiga hari, termasuk TransJakarta, MRT, dan LRT. Masing-masing bisa diakses hanya dengan Rp1.
Selama program transum gratis itu berlangsung, total tercatat 31.475 orang menjajal transportasi LRT, 567.633 orang naik MRT, dan nyaris 4 juta orang menumpangi TransJakarta. Demikian lapor Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta.
Tingginya jumlah penumpang menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap transportasi publik. Namun, hal ini juga memicu respons beragam di media sosial.
Realitasnya, transportasi umum adalah ruang terbuka yang mempertemukan kita dengan orang-orang dari berbagai latar belakang serta karakter.
Di setiap bus, kereta, dan transportasi umum di mana pun, dari TransSemarang sampai angkutan daerah di pelosok Sukabumi, kita bisa menemukan pekerja kantoran berpakaian rapi, anak sekolah berseragam, ibu-ibu pedagang pasar dengan kantong belanja besar-besar, ibu menyusui anak bayinya, sampai penyanyi jalanan yang membawa ukulele.
Dalam ruang publik yang dihuni oleh beragam karakter dan latar belakang, kepatuhan terhadap etika dan aturan transportasi umum menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua penumpang memiliki tingkat pemahaman dan kapasitas yang sama untuk mematuhinya.
Etika Transportasi Umum pada Masyarakat yang Disiplin
Namun begitu, masyarakat di negara-negara dengan tingkat literasi dan pendidikan yang tinggi cenderung menunjukkan kepatuhan yang lebih baik terhadap etika di transportasi umum. Jepang, contohnya.
Di Jepang, etika menggunakan transportasi publik dijalankan dengan disiplin. Penumpang terbiasa mengantre dengan tertib di halte atau peron, menghindari berbicara terlalu keras, apalagi mengangkat panggilan telepon selama perjalanan.
Saat kendaraan sedang penuh, memberikan kursi prioritas kepada ibu hamil, lansia, atau penyandang disabilitas sudah menjadi kebiasaan.
Penumpang juga tidak diperbolehkan makan dan minum di dalam kendaraan. Jika membawa ransel, posisinya dipindahkan ke bagian depan tubuh agar tidak mengganggu penumpang lain yang bersinggungan dengan punggung.
Sementara itu, tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap kedisiplinan warga juga ditemukan pada sistem transportasi publik di Jerman.
Meski begitu, jangan sampai terkecoh dengan sistem yang kelihatannya sederhana ini. Kalau ketahuan lewat inspeksi bahwa kita naik transum tanpa tiket, dendanya tidak main-main.
Selain itu, pengguna transportasi publik di Jerman terbiasa menjaga ketenangan selama perjalanan. Berbicara atau tertawa terlalu keras dianggap tidak sopan, panggilan telepon sebisa mungkin dihindari atau dilakukan dengan suara pelan, musik hanya didengarkan melalui headphone, dan anak-anak pun dididik tetap tenang selama di perjalanan.
Singapura juga memiliki etika tersendiri dalam menggunakan MRT. Mengingat iklimnya yang panas dan lembap, penumpang diharapkan menjaga kebersihan diri, termasuk menggunakan deodoran agar tidak mengganggu kenyamanan bersama.
Selain itu, mereka juga dianjurkan untuk tidak terlalu terpaku pada layar smartphone agar tetap waspada terhadap lingkungan sekitar dan sesama penumpang.
Stigma terhadap Transportasi Umum & Penumpangnya
Terlepas dari praktik disiplin dan kesadaran etika yang tumbuh di transportasi umum, ruang publik ini masih kerap dipersepsikan secara negatif.
Selain perilaku penumpangnya yang disorot, transportasi umum masih lekat dengan stigma sebagai pilihan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah atau yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
Alih-alih memperdebatkan korelasi transportasi umum dengan kekayaan atau kemiskinan penggunanya, alangkah lebih baiknya mengerahkan energi kita untuk mendorong pemerintah dan penyedia layanan agar terus meningkatkan kualitas fasilitas publik ini.
Melansir tulisan Chris Tang di The Borgen Project, akses terhadap transportasi publik yang terjangkau dan andal dapat membuka lebih banyak peluang kerja, pendidikan, serta layanan kesehatan. Transportasi umum yang efektif juga membantu memangkas biaya dan waktu perjalanan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Selama perencanaan tata kota masih lebih mengutamakan kendaraan pribadi daripada transportasi umum, moda ini kemungkinan akan terus dipandang sebelah mata. Padahal, transportasi publik yang nyaman, aman, dan andal merupakan fondasi penting bagi kota yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Kalau kamu sendiri, seberapa sering menggunakan bus atau kereta untuk bepergian sehari-hari? Apa yang kamu harapkan dari layanan transportasi umum di kota tempat tinggalmu?
Editor: Sekar Kinasih