Menuju konten utama

Ujian Pernikahan Tahun ke-5, 7, dan 10: Mitos atau Realitas?

Setelah fase awal penuh gairah, pasangan dihadapkan pada realitas sehari-hari. Di titik ini, cinta tak hanya diuji, tapi juga menemukan bentuk barunya.

Ujian Pernikahan Tahun ke-5, 7, dan 10: Mitos atau Realitas?
Header Diajeng Ujian Pernikahan. tirto.id/Quita

diajeng.id - Pernikahan, layaknya tahapan kehidupan lainnya, tentu tidak selalu berjalan mulus.

Ada masa-masa manis yang membuat hati berbunga-bunga, ada juga masa ketika pasangan harus menghadapi riak gelombang saat mengarungi bahteranya.

Menariknya, banyak pasangan, termasuk para “senior” yang lebih lama menikah, meyakini adanya fase-fase tertentu yang menentukan pernikahan, seperti tahun ke-5, ke-7, dan ke-10.

Pada tahun-tahun itu, seolah-olah hubungan semakin diuji. Apakah pernikahan yang dijalani akan naik level, atau justru mulai goyah?

Meskipun tidak ada teori ilmiah yang menandai angka-angka itu sebagai “titik rawan,” fenomena ini hidup di tengah masyarakat, sebut di antaranya istilah “seven-year itch” atau petuah “ujian lima tahun”.

Di dalamnya, tersirat perubahan emosi, ekspektasi, dan cara beradaptasi dua orang berbeda yang terus bertumbuh dalam ikatan pernikahan.

Mungkin ini bukan soal angka semata, melainkan siklus pendewasaan yang alamiah.

Di setiap rentang waktu itu, pasangan akan belajar hal baru, dari cara mencintai dengan lebih sabar, memahami tanpa menuntut, atau menerima bahwa cinta bukan sekadar perasaan, tapi kompromi yang senantiasai perlu diperbarui.

Kemungkinan, itulah makna “level up” sejati dari sebuah pernikahan.

Tantangan Usia 5 Tahun Pernikahan

Kontributor Irish Times Laura Kennedy menulis, sebagian besar orang atau pasangan mungkin mengira bahwa masa-masa awal hubungan yang terasa manis dan mudah adalah bentuk cinta yang “seharusnya.”

Padahal, justru setelah beberapa tahun bersama, sekitar lima tahun, misalnya, banyak pasangan yang terikat pernikahan mulai benar-benar belajar tentang cinta yang sebenarnya.

Rasa cinta tidak selalu berbunga-bunga, tapi ia tumbuh bersama rutinitas, perubahan, bahkan luka yang belum sembuh sepenuhnya.

Lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk melihat perubahan-perubahan dalam hidup. Dalam kurun tersebut, banyak hal datang dan pergi, mimpi, pekerjaan, teman, bahkan versi diri kita yang dulu.

Di antara sekian perubahan, ada satu hal pembelajaran yang pasti, yakni tidak semua pernikahan dimulai dari nol.

Setiap orang membawa kisahnya masing-masing.

Ada yang pernah terluka. Ada yang punya tabiat membawa kebiasaan lama yang berbeda dengan pasangannya. Ada yang menjadi keras karena sering tersakiti. Ada pula yang terlalu lembut hingga mudah sakit hati.

Akibatnya, cara mencintai pun akan dibentuk dari pengalaman seseorang di masa lalu.

Disadari atau tidak, pengalaman-pengalaman yang membentuk masing-masing individu akan merasuki dan memengaruhi relasi yang tengah dibangun.

Pernikahan di tahun-tahun ini sering kali bukan tentang siapa yang lebih benar, melainkan tentang kesiapan kedua pihak untuk terus berusaha dan memperjuangkan.

Penting diingat, cinta bukanlah perasaan yang berjalan otomatis.

Cinta memerlukan kejujuran, kerja sadar, dan kesediaan untuk tetap hadir, terutama pada momen-momen kritis yang biasanya terkait dengan persoalan ekonomi atau kesibukan karena tuntutan pekerjaan.

Setiap pasangan tumbuh bersama bukan hanya lewat tawa dan pelukan, tapi juga melalui proses diam yang panjang, perbedaan pendapat, dan upaya untuk saling memahami di tengah lelah.

Masa 7 Tahun Pernikahan

Dilansir Cleveland Clinic, masa tujuh tahun pernikahan atau dikenal dengan istilah “seven-year itch” awalnya berasal dari film klasik tahun 1955 yang dibintangi Marilyn Monroe.

Dalam film, dikisahkan seorang laki-laki yang sudah tujuh tahun menikah mulai tergoda untuk berselingkuh. Dia semakin yakin dengan niatnya berselingkuh karena menemukan catatan psikiater bahwa setiap hubungan akan diuji di titik tahun ke-7 pernikahan.

Sejak saat itu, istilah ini melekat sebagai simbol kegelisahan dan rasa jenuh dalam hubungan yang sudah berjalan lama.

Sebenarnya, tidak ada bukti ilmiah pasti bahwa “seven years itch” benar-benar terjadi.

Menariknya, tidak sedikit pasangan mengakui mengalami fase sulit di sekitar waktu ini.

“Meski hasil risetnya bermacam-macam, persentase perceraian, terutama dari pernikahan pertama, memang cenderung meningkat pada usia pernikahan ke-7 atau ke-8."

Begitu disampaikan oleh psikolog klinis Adam Borland, PsyD.

Setelah melewati masa-masa awal yang sarat romantisme atau fase bulan madu (biasanya 2,5 tahun pertama pernikahan), kehidupan pasangan akan semakin warna-warni dengan rutinitas, tanggung jawab, dan tekanan, seperti pekerjaan, anak, hingga keuangan.

Pada titik ini, rasa jenuh, salah paham, atau jarak emosional berisiko muncul tanpa disadari.

Ada banyak tanda-tandanya, seperti komunikasi yang menurun, keintiman yang berkurang, perasaan tidak dihargai, sampai munculnya godaan untuk mencari “sesuatu yang hilang” di luar hubungan.

Bagaimana Cinta setelah 10 Tahun Menikah?

Meski usia pernikahan ke-7 kerap diyakini sebagai puncak krisis hubungan, studi lain menunjukkan bahwa tantangan terberat justru ditemui setelah usia pernikahan ke-10.

Menurut riset oleh Brigham Young University di Amerika Serikat pada 2015, seperti dikutip dari The Telegraph, konflik pernikahan terdahsyat ditemukan setelah tahun ke-10 pernikahan.

Dari hasil survei terhadap 2.604 responden perempuan kelahiran 1957-1964, setelah tahun ke-10 pernikahan, tingkat kebahagiaan dan intensitas komunikasi antarpasangan cenderung menurun. Sayangnya, kondisi ini sulit membaik.

Menurut tim peneliti, alasannya bisa jadi terkait ketidakpuasan perempuan karena beban kerja rumah tangga yang tinggi, termasuk kerja perawatan keluarga dan pengasuhan anak-anak.

Menariknya, apabila pasangan bisa mengatasi isu tersebut selama lima tahun ke depan, situasi mereka berpotensi membaik.

Setelah berhasil melalui tahun ke-15 pernikahan, kecenderungan konflik berkurang. Titik konflik paling rendah didapati ketika pasangan telah melalui 35 tahun usia pernikahan.

Secara statistik, studi ini menuturkan 66 persen pernikahan diawali dengan tingkat kebahagiaan tinggi. Namun, tingkat kebahagiaan cenderung melandai sepanjang pernikahan berlangsung.

Pada sepertiga pasangan, hubungan berpotensi membaik setelah pernikahan memasuki dekade ketiga. Hanya saja, tingkat kebahagiaan tidak akan pernah kembali ke titik tertinggi seperti fase bulan madu di awal pernikahan.

Cinta sejati, setelah satu dekade berlalu, mungkin bukan lagi soal intensitas atau hasrat yang menggebu-gebu, melainkan tentang ketahanan: memilih tetap bersama, memperbaiki hal-hal yang masih bisa diperjuangkan, dan mengizinkan cinta tumbuh dengan cara yang lebih dewasa.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih