diajeng.id - Di tengah situasi ekonomi yang lesu, narasi tentang “underconsumption core” atau tren underconsumption semakin sering berseliweran di linimasa media sosial.
Kalau sebelumnya kita akrab dengan video haul, unboxing, atau rekomendasi produk yang “wajib” kita punya, konten-konten bertagar underconsumption hadir untuk mengajak kita lebih sadar diri dalam mengonsumsi sesuatu, bahwa tidak ada yang keliru atau ketinggalan zaman dengan memanfaatkan barang yang sama bertahun-tahun; minum dari tumbler yang penyok, jalan-jalan pakai sepatu yang warnanya memudar, mengenakan pakaian yang sama berulang kali, atau menggunakan produk makeup yang sudah hit pan (dasar metal atau plastik pada kemasan produk mulai kelihatan karena isinya sudah terlalu sering dipakai/hampir habis).
Kreator TikTok @residebt adalah seorang dokter perempuan asal Amerika Serikat yang sering mempromosikan gaya hidup underconsumption.
Konten videonya yang berjudul “Underconsumption core as a doctor” berhasil meraih likes hingga 700 ribu menunjukkan kesehariannya yang sederhana; menyetir mobil keluaran lama, memakai tas kerja berusia enam tahun dan seragam kantor yang sama berulang kali, rutin skincare dengan produk-produk efektif yang bisa dibeli di apotek alih-alih merek premium, hingga mempertahankan dua botol minum yang sudah bertahun-tahun digunakan.
Sejumlah warganet memuji kontennya; menganggap kesehariannya sebagai “flex—pamer” yang masuk akal di era overconsumption dan bahkan berterima kasih padanya karena tidak berjualan produk atau memengaruhi orang untuk beli produk baru.
Bagi Chasa (23) di Depok, narasi underconsumption membantunya lebih mawas diri saat berbelanja.
“Menurut gue dengan adanya tren ini, gue jadi lebih mindful setiap mau beli barang baru. Gue pake dulu semua yang ada sampe bener-bener nggak layak. Baru deh gue beli yang baru,” ujarnya.
Dalam artikelnya di The Conversation, Omar H. Fares dan Seung Hwan Lee dari Toronto Metropolitan University menjelaskan bahwa popularitas underconsumption core mustahil dipisahkan dari realitas ekonomi yang penuh tekanan di kalangan muda.
Di Amerika Serikat misalnya, student debt atau utang pendidikan mahasiswa yang rata-rata per orang bisa mencapai 37 ribu USD atau sekitar Rp600 juta, menjadi beban finansial yang mendorong anak muda untuk memprioritaskan bayar utang daripada belanja produk konsumtif. Sementara di Kanada, inflasi dan biaya komoditas yang tinggi membuat kaum mudanya harus terus memikir otak cara bertahan hidup.
Selain kesadaran masyarakat untuk beradaptasi di situasi ekonomi sulit, Fares dan Lee juga menyebutkan kesadaran lingkungan sebagai faktor di balik popularitas tren underconsumption.
Antara Kesadaran dan Kebiasaan Membeli
Tingginya budaya konsumsi berlebihan juga dapat dilihat dari dampak industri fesyen terhadap lingkungan.
Mengutip Earth.org, industri fesyen menyumbang sekitar 10 persen emisi karbon global, sementara 85 persen tekstil berakhir di tempat pembuangan setiap tahunnya. Sekitar 80 miliar pakaian baru juga diproduksi dan dikonsumsi setiap tahun, meningkat hingga 400 persen dibandingkan dua dekade sebelumnya.
Menariknya, kebiasaan konsumsi produk tidak selalu sejalan dengan kesadaran terhadap dampaknya. Penelitian Sheffield Hallam University pada 2022 menunjukkan ada kesenjangan antara kesadaran dan perilaku konsumsi Gen Z terkait konsumsi produk fast fashion.
Hasil survei terhadap mahasiswa berusia 18-24 tahun menemukan bahwa 63 persen responden mengaku khawatir terhadap dampak sosial industri fast fashion, sementara 48 persen mengkhawatirkan dampak lingkungannya.
Sebanyak 94 persen responden Gen Z percaya bahwa tindakan untuk peduli terhadap masalah lingkungan perlu diselesaikan bersama. Dalam penelitian tersebut, responden juga memiliki pandangan negatif terhadap istilah fast fashion dengan menyebutnya sebagai sesuatu yang “tidak lestari, tidak etis, dan berkualitas buruk.”
Sementara 62 persen responden tetap berbelanja ritel fast fashion setiap bulan. Sebanyak 17 persen responden bahkan melakukannya setiap minggu. Hanya 43 persen responden yang mempertimbangkan bagaimana dan di mana pakaian mereka diproduksi sebelum membeli produk.
Menurut Dr. Marc Duffy, salah satu peneliti dalam riset tersebut, banyaknya jumlah responden yang masih rutin berbelanja produk fast fashion menunjukkan “kesenjangan yang jelas antara ideologi yang mendukung kelestarian dan perilaku yang terlihat”.
Sederhananya, tegas Duffy, ada jarak antara apa yang kita percaya dan apa yang benar-benar kita lakukan lakukan. Penelitian tersebut mengingatkan kita bahwa kesadaran soal dampak negatif terhadap lingkungan belum tentu mengubah kebiasaan kita dalam berbelanja.
Hidup Sederhana Jadi Sekadar Tren Estetika?
Pertanyaannya kemudian, kalau kesadaran saja belum cukup, apakah konten bertagar underconsumption benar-benar bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan konsumsi berlebihan yang tiada habisnya di masyarakat modern?
Apalagi, kemunculannya tidak bisa dipisahkan dari kerangka “tren”, sesuatu yang trendy alias populer untuk diikuti dalam periode waktu tertentu. Narasi underconsumption kerap diikuti sufiks “core”, yang menegaskannya sebagai subkultur atau gaya hidup dengan estetika tertentu.
Memang betul, meski dibingkai sebagai “tren” atau “core”, narasi underconsumption membantu meningkatkan kesadaran publik untuk lebih mindful dalam berbelanja. Maraknya konten underconsumption core di media sosial juga mengindikasikan adanya pergeseran menuju perilaku konsumsi yang lebih sadar.
Underconsumption malah berisiko jadi problematis ketika diperlakukan semata-mata sebagai tren estetika.
Dalam tulisannya di The Guardian pada 2024, Shanu Walpita, trend forecaster sekaligus pengajar di London College of Fashion, menyoroti bagaimana tren ini berisiko meromantisasi kemiskinan dan mengabaikan ketimpangan kelas.
Walpita mengingatkan adanya privilese di balik keputusan untuk memilih menjalani praktik underconsumption dan mengemasnya menjadi konten viral yang bisa dibagikan.
Berbeda dari kelompok kelas menengah dan menengah atas, bagi sebagian masyarakat berpenghasilan rendah, underconsumption bukan semata-mata memilih untuk membeli versus tidak membeli barang, atau beralih ke merek yang lebih murah. Praktik ini bisa jadi bagian dari keseharian yang dibentuk oleh keterbatasan ekonomi.
Mengemas praktik keseharian orang lain sebagai konten “underconsumption core” pun berisiko mereduksi pengalaman hidup mereka menjadi sekadar estetika, alih-alih mengakui realitas yang melatarbelakanginya.
Selain itu, ketika praktik hidup sederhana dikemas sebagai tren, tanggung jawab untuk mengurangi konsumsi seolah-olah diletakkan di hilir: dibebankan kepada konsumen sebagai pihak terakhir dalam rantai produksi. Lalu, di mana peran negara dalam mengatasi ketimpangan ekonomi yang membentuk pola konsumsi masyarakat? Di mana tanggung jawab korporasi untuk menghadirkan produk yang awet dan menerapkan praktik produksi yang lebih bertanggung jawab, alih-alih terus mendorong masyarakat untuk berbelanja lebih banyak?
Tidak membeli barang memang salah satu bentuk upaya kita sebagai konsumen. Pada waktu sama, ketika hidup yang sederhana sampai-sampai dibingkai jadi “tren” atau “core”, mungkin kita perlu renungi lagi bersama; sebenarnya yang berubah adalah cara kita mengonsumsi sesuatu, atau juga cara kita menampilkan perilaku konsumsi di media sosial?
Editor: Sekar Kinasih