diajeng.id - Belakangan ini, narasi tentang persalinan di media sosial mulai bergeser.
Kalau dulu perdebatan yang sering muncul adalah melahirkan pervaginam versus sesar (SC), sekarang muncul standar baru yang lebih spesifik: melahirkan pervaginam tanpa robekan dianggap sebagai pengalaman persalinan paling ideal.
Cerita-cerita persalinan yang berjalan lancar memang menyenangkan untuk didengar.
Beberapa waktu belakangan, kita mendengar berita tentang artis-artis yang membagikan pengalaman melahirkan pervaginam dengan lancar, minim rasa sakit, bahkan tanpa robekan.
Faktanya, setiap proses kehamilan dan persalinan memiliki cerita yang tidak pernah benar-benar sama.
Hampir Kehilangan Nyawa Karena Kelainan Plasenta
Aku termasuk salah satu ibu yang melahirkan melalui operasi sesar sebanyak tiga kali.
Anak pertama lahir pada tahun 2019 karena plasenta previa. Anak kedua lahir pada 2021 melalui sesar juga karena jarak kehamilan yang masih dekat dengan persalinan sebelumnya.
Kehamilan ketiga pada tahun 2025 menjadi pengalaman paling berat dalam hidupku.
Saat usia kehamilan memasuki tujuh bulan, dokter menyampaikan bahwa aku mengalami plasenta akreta perkreta, yaitu kondisi ketika plasenta menempel terlalu dalam hingga menembus dinding rahim bahkan mencapai kandung kemih.
Dokter menjelaskan bahwa kondisi yang kualami termasuk sangat jarang terjadi, hanya sebagian kecil dari kasus kelainan plasenta.
Karena risikonya sangat tinggi, aku harus menjalani operasi sesar lebih awal, tepatnya pada usia kehamilan 34 minggu. Jika kehamilan diteruskan, nyawaku bisa terancam.
Ketakutan itu ternyata menjadi kenyataan.
Saat operasi berlangsung, aku kehilangan darah dalam jumlah yang sangat banyak hingga koma selama dua hari di ICU.
Aku baru bisa mulai menyusui empat hari setelah melahirkan. Masa itu benar-benar membuatku terpuruk, baik secara fisik maupun mental.
Namun, aku terus mengingat bahwa masih ada dua anak di rumah yang membutuhkan ibunya. Pikiran itulah yang membantuku bertahan melewati salah satu fase paling sulit dalam hidup.
Lalu, apakah pengalamanku lebih hebat daripada ibu yang melahirkan normal? Tentu tidak. Sebabnya, perjuangan setiap ibu memiliki bentuknya masing-masing.
Aku juga berbincang dengan beberapa ibu lain. Aku pun semakin yakin bahwa tidak ada satu pun cerita persalinan yang benar-benar serupa.
Melahirkan Pervaginam dengan Kondisi Kelainan Darah
Devi (43 tahun), misalnya, sejak awal kehamilan, perempuan asal Malang ini berharap bisa melahirkan anak pertamanya pada tahun 2016 secara pervaginam.
Namun, Devi juga sudah menyiapkan skenario melahirkan lewat operasi sesar karena memiliki kelainan darah yang membuat tekanan darahnya berisiko meningkat selama persalinan.
Devi bahkan sudah bersepakat dengan suaminya untuk mengikuti keputusan dokter apa pun yang terjadi.
"Takutnya waktu itu sebenarnya kakinya bengkak, ada gejala preeklamsia. Kalau mau langsung sesar enggak apa-apa, sudah ready kalau memang mau sesar gitu," ujarnya kepada Diajeng.
Persalinannya akhirnya berlangsung pervaginam selama sekitar enam jam.
"Aku langsung ke rumah sakit, karena pecah ketuban duluan, akhirnya dimasukkan antibiotik dulu. Tapi kan memang sudah kering banget di dalam, karena ketubannya itu banyak banget pecahnya. Jadi, waktu itu kontraksinya lumayan berasa banget, karena enggak ada air ketuban yang nahan kontraksi," paparnya.
Menjelang proses mengejan, tenaga Devi sudah sangat terkuras hingga dua bidan membantu mendorong tubuhnya saat proses persalinan berlangsung.
"Karena aku kayaknya waktu itu udah kehabisan energi mungkin, karena sakit banget. Terus aku enggak sadar, tapi kayaknya digunting, supaya kalau robek, kan, nanti jelek dan itu aku enggak berasa apa-apa, karena memang jauh lebih sakit kontraksi," ucap Devi.
Setelah bayi lahir, perjuangannya belum selesai. Devi kesulitan buang air kecil hingga harus dipasang kateter, mengalami pusing akibat kehilangan banyak darah, dan baru diperbolehkan pulang setelah kondisi benar-benar stabil.
"Aku di rumah sakit kurang lebih 3 hari, pas hari ke-3 sudah boleh pulang. Waktu itu boleh pulang kalau sudah BAB," tukasnya.
SC Karena Bayi Terlilit Tali Pusar
Ada pula kisah dari Tabitha (31) asal Yogyakarta.
Sebagai ibu yang menjalani kehamilan pertama, sejak awal Tabitha berharap bisa melahirkan secara pervaginam.
Tabitha konsiste menjaga pola makan, rutin memantau perkembangan janin, hingga mengikuti senam hamil demi mempersiapkan persalinan normal.
"Saya juga melakukan senam hamil beberapa kali melihat di YouTube , di IG pun saya follow yang berkaitan dengan kehamilan," ujar Tabitha.
Meski sempat diketahui ada lilitan tali pusat di leher bayi, dokter masih memberi harapan bahwa persalinan normal tetap memungkinkan.
Namun hingga melewati hari perkiraan lahir, kontraksi tak kunjung datang. Setelah menjalani induksi selama 24 jam tanpa kemajuan pembukaan, dokter akhirnya memutuskan operasi sesar demi keselamatan ibu dan bayi.
"Di ruang operasi saya sudah pasrah," kenangnya.
Perjuangan ternyata belum selesai setelah bayi lahir. Ketika efek anestesi mulai hilang, nyeri di area bekas operasi datang perlahan dan membuat setiap gerakan terasa begitu berat.
"Merasakan bagaimana sayatan di perut, pasti nyeri, apalagi setelah efek bius hilang, rasa sakitnya masih terbayang sampai sekarang," imbuh Tabitha.
Meski harus menahan sakit akibat luka operasi, rasa itu seketika terbayar ketika melihat bayinya lahir dengan selamat, meski benar terdapat lilitan tali pusat di lehernya.
"Saya dan keluarga sangat bahagia. Pada waktu sama, saya berbesar hati untuk menerima bahwa cesar adalah jalan terbaik untuk bayi lahir," tutup Tabitha.
Tiga Kehamilan Pervaginam yang Berbeda
Cerita lain datang dari perempuan asal Depok, Jawa Barat, Nanda (40 tahun).
Persalinan pertama berlangsung hampir 24 jam. Nanda mengalami robekan yang cukup besar hingga membutuhkan banyak jahitan.
Trauma itu, menurut Nanda, karena merasakan perih yang luar biasa setiap kali buang air kecil, sehingga masa pemulihannya agak lama.
Pada persalinan kedua, prosesnya jauh lebih cepat. Nanda tetap membutuhkan jahitan, tetapi jumlahnya lebih sedikit sehingga masa pemulihan terasa lebih ringan, "MasyaAllah, dan itu tidak buat trauma pas buang air kecil."
Persalinan ketiga justru menjadi pengalaman yang paling lancar. Dari pembukaan dua hingga bayi lahir hanya berlangsung sekitar enam jam.
"Itu prosesnya sebentar banget, dari pagi jam 7 sampai jam 1 siang bayi lahir dan tidak ada jahitan sama sekali. Bidan dan dokternya mengarahkan dengan benar," tutur Nanda.
Namun bukan berarti kehamilan ketiganya menjadi yang paling mudah.
Selama hamil anak ketiga, Nanda mengalami mabuk berat sejak awal hingga menjelang persalinan.
Mual dan muntah membuat hampir semua makanan yang masuk kembali keluar. Nanda berkali-kali dirawat di rumah sakit karena kekurangan cairan dan akhirnya terus mengonsumsi obat antimual hingga waktu melahirkan.
Yang paling membuatnya sedih bukan hanya rasa mual itu sendiri, melainkan ketika anaknya bertanya dengan polos, "Bunda kapan sembuh? Aku mau makan masakan Bunda."
"Saat hamil yang terakhir, anak-anak jadi enggak keurus, hancur banget rasanya hati ini, makanya udah enggak mau hamil lagi," ujar Nanda sedih.
Kisah-kisah di atas menjadi pengingat bahwa perjuangan seorang ibu sebenarnya dimulai jauh sebelum berada di ruang bersalin.
Pada akhirnya, persalinan bukanlah sebuah perlombaan untuk menentukan siapa yang paling kuat atau siapa yang paling "sempurna".
Ada ibu yang berjuang menghadapi operasi besar, harus melewati kontraksi panjang, episiotomi, dan berbagai kondisi kehamilan lainnya, serta masa pemulihan yang tidak mudah.
Ada yang mengalami robekan pada persalinan pertama, jahitan lebih sedikit pada persalinan kedua, lalu tanpa robekan pada persalinan ketiga.
Bahkan pada perempuan yang sama pun, pengalaman melahirkan bisa berubah total di setiap kehamilan.
Pada setiap perjuangan di atas, selalu ada risiko yang bisa berdampak serius pada keselamatan ibu maupun bayi.
Tubuh setiap perempuan tentu berbeda, kondisi kehamilan berbeda, posisi bayi berbeda, faktor medis berbeda, bahkan dokter dan bidan yang mendampingi pun bisa menghadapi situasi yang berbeda di setiap persalinan.
Yang sebenarnya layak dirayakan bukanlah apakah seorang ibu melahirkan secara pervaginam atau sesar, mengalami robekan atau tidak, menggunakan epidural atau tanpa obat, melainkan keberanian setiap ibu menjalani seluruh prosesnya.
Mulai dari menghadapi perubahan tubuh selama hamil, melewati proses persalinan yang penuh ketidakpastian, menjalani masa pemulihan, menyusui, begadang, hingga membesarkan anak setiap hari.
Itulah perjuangan yang sesungguhnya.
Sebagai pengingat, robekan saat persalinan bukanlah sesuatu yang langka ataupun menandakan seorang ibu gagal melahirkan.
Berdasarkan data dari Cleveland Clinic dan NHS, sebagian besar perempuan yang melahirkan pervaginam akan mengalami robekan perineum dengan tingkat keparahan yang beragam. Sebagian besar merupakan robekan ringan yang dapat dijahit dan pulih dengan baik dalam beberapa minggu.
Robekan seharusnya dipahami sebagai salah satu kemungkinan medis dalam proses persalinan, alih-alih ukuran keberhasilan pada ibu melahirkan.
Tidak ada istilah persalinan yang sempurna. Yang ada adalah perempuan-perempuan luar biasa yang menjalani setiap proses dengan segala keterbatasan, ketakutan, dan keberanian yang mereka miliki.
Setiap ibu layak mendapatkan apresiasi, apapun jalan yang harus ditempuh untuk membawa buah hatinya ke dunia dengan selamat.
Artikel lainnya seputar kehamilan juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih