diajeng.id - Bayangkan ketika kamu sedang membersihkan rumah, menyiramkan air ke halaman untuk menghilangkan debu, anakmu yang berusia tiga tahun tiba-tiba teriak, "Ibu, kok Sisy disiram. Basah semua itu bajunya!"
Namun, Sisy ternyata teman yang tak terlihat yang diciptakan oleh anakmu.
Kejadian unik dan terkadang bikin jantung berdegup ini nyata dialami oleh sebagian orang tua. Fenomena memiliki teman imajiner memang sangat umum terjadi pada anak-anak usia prasekolah hingga awal sekolah dasar.
Sebuah penelitian tahun 2013 dari University of Oregon menunjukkan bahwa pada usia 7 tahun, sekitar 37 persen anak membawa permainan imajinatif mereka secara mendalam dengan menciptakan teman yang tidak terlihat.
Apa Itu Teman Imajiner?
Teman imajiner adalah karakter khayalan anak yang bisa berwujud manusia, hewan, atau bahkan makhluk fantasi. Mereka bisa muncul sendiri atau dalam bentuk kelompok.
Meskipun anak-anak tampak benar-benar berinteraksi dengan teman imajiner mereka, tapi sebagian besar anak-anak sebenarnya menyadari bahwa teman tersebut tidak nyata dan permainan itu hanya pura-pura.
Pergeseran Pandangan dari Masa ke Masa
Berdasarkan artikel dari The Guardian berjudul "Imaginary friends are a sign of a lively, creative mind. But they are leaving us" tahun 2019, disebutkan bahwa sebelum era 1990-an, memiliki teman imajiner sering kali dianggap sebagai sebuah "red flag" atau tanda bahaya secara psikologis (psychological red flag).
Orang tua dan ahli pada masa itu khawatir bahwa fenomena ini merupakan pertanda bahwa anak mengalami kesepian yang ekstrem, memiliki masalah sosial, atau menunjukkan ketidakmauan untuk menerima kenyataan.
Namun, kini konsensus ilmiah telah berbalik arah secara total, teman imajiner kini dipandang sebagai tanda dari pikiran yang hidup dan kreatif. Alih-alih menunjukkan masalah psikologis, kehadiran teman tak terlihat ini justru menjadi indikator dari kemampuan bersosialisasi yang maju, kecerdasan verbal yang kuat, serta kreativitas yang tinggi.
Bahkan, para ahli menyebutkan bahwa ruang untuk melamun dan merasa bosan sangat penting bagi anak-anak untuk memicu kreativitas. Sebab, dari rasa bosan itulah otak mereka belajar menciptakan hiburan dan ide-ide hebat secara mandiri tanpa ketergantungan pada layar gawai.
Mengapa Ini Menjadi Hal Baik?
Menurut Psychology Today, situasi ini tentu saja menjadi hal yang baik, karena ketika orang tua mengamati interaksi anak dengan teman imajinernya, dapat membantu mempelajari lebih dalam mengenai minat, keinginan, ketakutan, atau kecemasan yang sedang dirasakan anak.
Secara sosial, anak dengan teman imajiner cenderung tidak pemalu, lebih sering tertawa dan tersenyum bersama teman sebaya, serta lebih baik dalam memahami sudut pandang atau cara berpikir orang lain (empati).
Dari sisi perkembangan emosi, teman imajiner menjadi sarana bagi anak untuk melatih keterampilan pemecahan masalah yang kuat.
Teman imajiner juga bisa membantu anak mempraktikkan cara menghadapi emosi yang besar, belajar berteman, dan menghadapi situasi dunia nyata dengan cara yang aman dan menyenangkan. Teman imajiner bahkan kerap hadir sebagai sumber kenyamanan untuk membantu anak mengatasi ketakutan atau melewati masa-masa sulit penuh tekanan, seperti saat mulai masuk sekolah baru atau menyambut kehadiran adik baru.
Kapan Orang Tua Sebaiknya Mulai Waspada?
Sebagian besar teman imajiner memang bersifat ramah, menyenangkan, dan tidak berbahaya. Namun, ada kalanya orang tua perlu mulai waspada dan berkonsultasi dengan dokter anak atau profesional kesehatan mental.
Beberapa kondisi yang sebaiknya perlu diwaspadai, seperti dijelaskan laman NationWide Childrens, salah satunya ketika teman imajiner tersebut tampak menakutkan, agresif, atau mengancam anakmu.
Apabila interaksi anak dengan teman imajinernya juga membuat anak mengalami ketakutan, kesedihan, atau menjadi sangat stres, ini juga menjadi tanda yang perlu jadi perhatian.
Selain itu, jika terjadi perubahan perilaku secara tiba-tiba pada anak, atau mereka berhenti melakukan aktivitas yang biasanya mereka sukai, maka ini pun perlu diwaspadai.
Namun, jika tanda-tanda bahaya di atas tidak ditemui, sebagai orang tua kamu pun tidak perlu merasa khawatir. Orang tua bahkan bisa ikut bermain sesekali, dan nikmati saja imajinasi magis anak selagi mereka masih bersemangat.
Artikel menarik lainnya juga bisa dibaca melalui tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih