diajeng.id - Tanpa disangka, saat sedang main dan bersantai dengan si kecil, tiba-tiba terdengar kata-kata "kotor" yang disampaikan dengan fasih dan spontan.
Sebagai orang tua yang selama ini merasa sudah berusaha memberikan pendampingan tumbuh-kembang anak yang terbaik, rasanya kepala langsung nyut-nyutan. Kita tentu kaget, panik, bahkan mungkin merasa gagal dalam mendidik sang anak.
Nyatanya, pengalaman tersebut banyak dialami orang tua. Drama anak "berkata kotor" memang menjadi dilema dan ketakutan para orang tua.
Berdasarkan jajak pendapat nasional dari C.S. Mott Children’s Hospital pada Januari 2026 yang dirilis situs Parents, ditemukan beragam pandangan orang tua terhadap sumpah serapah yang diucapkan anaknya.
Sementara itu, 35 persen responden menganggap sumpah serapah yang dilontarkan dapat dinilai tergantung pada situasinya, 12 persen responden melihat pada kata apa yang diucapkan, dan sekitar 6 persen menganggap sumpah serapah bukanlah masalah besar.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun banyak orang tua yang menolak keras, ada pergeseran cara pandang seiring bertambahnya usia anak; orang tua dari anak usia remaja cenderung lebih fleksibel dalam melihat konteks penggunaan kata kasar dan sumpah serapah.
Langkah Menghadapi Drama Anak Berkata Kotor
Lalu, apa yang bisa orang tua lakukan saat anak mulai "misuh-misuh"?
Sebagai orang tua, biasanya hal pertama yang langsung ditunjukkan adalah berteriak atau merasa kaget.
Melalui situs The Strait Times, edukator keluarga Ms. Foong-Tan menyarankan orang tua agar tidak bereaksi secara berlebihan saat mendengarnya.
Jika anak merasa tidak mendapatkan perhatian dari kata kotor tersebut, perilaku itu cenderung akan hilang dengan sendirinya melalui metode "pengabaian terencana" (planned ignoring).
Orang tua seharusnya bisa menjadi teladan yang baik, karena anak biasanya merupakan peniru yang ulung.
Dr. Jacqueline Sperling dari Harvard Medical School menjelaskan bahwa perlakuan dan sikap anak adalah bagian besar dari perkembangannya.
Anak biasanya hanya mengulang apa yang mereka dengar saat kita tidak sengaja mengumpat ketika terjebak macet atau tersandung pintu.
Maka dari itu, apabila kita tidak ingin anak-anak mengeluarkan sumpah serapah, kita harus bisa mengendalikan juga apa yang keluar dari mulutnya, termasuk dari apa yang mereka dengar dari televisi atau media sosial.
Anak kecil umumnya tidak tahu arti kata yang mereka ucapkan. Mereka mungkin hanya mengira itu kata yang terdengar "keren" atau kuat. Melaui The Strait Times, Dr. Natalie Games, seorang psikolog klinis menyarankan untuk memvalidasi emosi anak terlebih dahulu.
Alih-alih langsung menghukum, coba tanyakan, "Apa yang kamu rasakan saat mengucapkan itu?"
Kemudian, jelaskan bahwa meskipun mereka sedang marah atau frustrasi, ada kata-kata alternatif yang lebih baik untuk mengekspresikan perasaan tersebut
Membantu anak memahami dampak kata-kata mereka adalah kunci. Dr. Eugene Beresin dari Harvard menyarankan untuk mengajak anak berefleksi dengan menjawab pertanyaan seperti, "Bagaimana menurutmu perasaan orang lain saat mendengar kata itu?"
Dengan membangun empati, anak belajar bahwa kata-kata bisa menjadi "senjata" yang menyakiti orang lain. Ajarkan mereka bahwa setiap tempat punya aturan berbeda. Apa yang mungkin "lucu" di rumah, bisa berakibat fatal apabila diucapkan di sekolah atau di depan orang dewasa di luar rumah.
Jika perilaku ini terus berlanjut, saatnya tiba untuk menerapkan aturan yang jelas dan lebih tegas.
Sebaliknya, jangan pelit pujian saat anak berhasil mengekspresikan kekesalannya tanpa kata kasar.
Misalnya, ucapkan, "Bunda bangga kamu bisa bilang kalau kamu marah tanpa harus memaki."
Menghadapi anak yang mulai belajar sumpah serapah memang butuh kesabaran ekstra, akan tetapi momen ini juga kesempatan emas untuk mengajarkan kecerdasan emosional pada anak.
Tujuan akhir kita bukan sekadar mendisiplinkan anak, melainkan membentuk mereka menjadi komunikator yang hormat dan mampu mengendalikan diri di masa depan.
Jadi, tarik napas dalam-dalam, tetap tenang, dan jadilah pemandu yang bijak bagi lisan mereka.
Artikel seputar anak dan orang tua juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih