Menuju konten utama

Anak Suka Minta Dipuji & Jadi Pusat Perhatian: Pertanda Narsis?

Anak yang narsis cenderung akan memberi reaksi berlebihan, seperti marah atau menarik diri total, jika orang lain tidak memberikan pujian padanya.

Anak Suka Minta Dipuji & Jadi Pusat Perhatian: Pertanda Narsis?
Header Diajeng Anak Narsis. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Semua orang tua ingin anaknya merasa istimewa dan percaya diri. Menariknya, batasan antara "anak yang merasa bangga pada dirinya" dengan "anak yang cenderung narsis" bisa jadi tipis sekali.

Orang tua mungkin akan merasa bingung, lelah, atau bahkan merasa hilang arah dalam mendidik anaknya yang terlihat memiliki "bakat narsis".

Narsisme pada tingkat tertentu merupakan bagian normal dari tumbuh kembang anak. Namun, perilaku ini perlu diperhatikan jika menetap, semakin intens, dan mulai mengganggu hubungan anak dengan orang lain.

Kenali Tanda "Waspada Narsisme" Tahap Awal

Kita hidup di era yang masyarakatnya sangat memuja "likes" dan penampilan di media sosial. Fenomena ini secara langsung membuat anak-anak jadi terpapar pada pesan bahwa mereka harus selalu jadi pusat perhatian.

Seperti dikutip dari artikel di situs Psychology Today, salah satu tanda peringatan dini pada anak yang narsis adalah penolakan yang kaku untuk mengakui kesalahan.

Anak dengan kecenderungan narsis sering kali merasa bahwa mengakui kesalahan adalah ancaman besar bagi citra diri mereka, sehingga mereka akan selalu menyalahkan orang lain.

Selain itu, kurangnya empati menjadi ciri yang mencolok. Anak mungkin kelihatan tidak peduli atau bahkan merasa puas saat melihat teman atau saudaranya merasa sakit atau sedih.

Mereka juga cenderung menunjukkan kemarahan yang tidak proporsional terhadap hal-hal kecil, terutama jika situasi tersebut membuat mereka merasa malu atau tidak nyaman.

Tanda Perkembangan Sifat Narsistik

Ada beberapa ciri yang merinci lebih spesifik gejala narsisme pada anak, salah satunya, menurut Mental Health Center Kids, adalah kebutuhan berlebihan akan pujian.

Sebenarnya, normal-normal saja apabila anak butuh validasi. Namun begitu, pada anak yang narsis, mereka cenderung akan memberikan reaksi berlebihan, seperti marah dan menarik diri total jika tak menerima pujian dari orang lain.

Anak yang narsis juga sering memanipulasi orang lain demi mendapatkan keinginan mereka, misalnya dengan mengancam tidak mau berteman lagi jika keinginannya tidak dituruti.

Anak-anak ini acap kali memiliki perasaan berhak (entitlement) yang kuat, merasa mereka layak mendapatkan perlakuan khusus atau perhatian lebih besar tanpa memikirkan perasaan teman lainnya.

Di balik sikap sombong anak yang narsis, sebenarnya ego mereka juga sangat rapuh. Oleh karena itu, bagi anak-anak dengan bibit narsisme, kritik bisa dianggap sebagai serangan pribadi yang menghancurkan seluruh harga diri mereka.

Membedakan Fase Normal dengan Perilaku Khawatir

Sangat penting bagi orang tua untuk tidak terburu-buru melabeli anak dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD), karena diagnosis ini biasanya hanya diberikan setelah usia 18 tahun saat kepribadian sudah menetap.

Laman Parents menekankan bahwa sifat mementingkan diri sendiri adalah bagian normal dari perkembangan anak-anak dan remaja karena mereka masih belajar memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Namun, perilaku mereka bisa berubah menjadi sesuatu yang dikhawatirkan jika menunjukkan pola yang konsisten dalam hal mendominasi percakapan, meremehkan prestasi orang lain, dan terus-menerus melawan figur otoritas tanpa rasa penyesalan.

Jika pola ini menetap seiring bertambahnya usia dan kematangan anak, maka intervensi sejak dini sangat dianjurkan.

Langkah yang Bisa Dilakukan Orang Tua

Penyebab narsisme pada anak sangat kompleks. Artikel VeryWell Health berjudul "Is Your Child Showing Signs of Narcissism?" menyebutkan beberapa di antaranya, mulai dari faktor genetika, lingkungan, hingga gaya pengasuhan.

Menariknya, memuja anak secara berlebihan dengan mengatakan mereka adalah yang "paling pintar" atau "paling istimewa" dibandingkan teman-temannya malah berisiko memicu rasa entitlement yang tidak sehat.

Di sisi lain, pengalaman trauma, pengabaian, atau tuntutan orang tua yang terlalu ekstrem juga bisa menjadi pemicunya.

Sebagai langkah menyikapinya, orang tua disarankan untuk mencari bantuan profesional. Konsultasikan dengan psikolog anak tentang mengatasinya. Psikolog biasanya akan menyarankan terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau Parent-Child Interaction Therapy (PCIT).

Langkah selanjutnya adalah dengan mengubah gaya komunikasi. Berkomunikasilah dengan cara memberi apresiasi yang hangat dan tulus, alih-alih pujian berlebihan atau yang berorientasi pada superioritas.

Menetapkan batasan yang konsisten juga perlu dilakukan. Bantu anak belajar tentang konsekuensi dari tindakan mereka untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab.

Memang bukan perkara mudah bagi setiap orang tua untuk mendidik anak yang menunjukkan kecenderungan narsis. Namun demikian, dengan dukungan, pendampingan, dan komunikasi yang sehat dari orang tua, anak dapat belajar untuk menjadi lebih berempati dan memiliki kepercayaan diri yang sejati tanpa harus merendahkan orang lain.

Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait NARSISME atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih