Menuju konten utama

Apa Bahaya Doomscrolling bagi Anak? Ini Penjelasannya

Doomscrolling dapat berdampak buruk pada kesehatan mental anak karena memengaruhi emosi, pola pikir, dan cara mereka memandang lingkungan sekitar.

Apa Bahaya Doomscrolling bagi Anak? Ini Penjelasannya
Ilustrasi Doomscrolling. foto/istockphoto

diajeng.id - Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus menelusuri konten di media sosial tanpa henti. Jika berlangsung tanpa disadari, kebiasaan ini dapat memicu kecemasan yang berulang.

Anak-anak, yang masih berada dalam tahap perkembangan emosi dan otak, termasuk kelompok yang paling rentan terdampak. Tanpa pendampingan yang memadai, anak berisiko terpapar informasi yang belum sesuai dengan usianya.

Paparan ini bisa memunculkan rasa takut, sedih, hingga stres yang berlangsung lama. Awalnya mungkin hanya didorong rasa ingin tahu, tetapi perlahan dapat berkembang menjadi kebiasaan yang mengganggu kesehatan mental.

Mengapa Anak Rentan Terjebak Doomscrolling?

Berbeda dengan orang dewasa yang umumnya sudah memiliki pengalaman dan kemampuan mengendalikan diri, anak-anak belum sepenuhnya mampu menyaring informasi yang layak atau perlu diabaikan.

Kondisi ini membuat dampak doomscrolling terasa lebih kuat pada anak. Kebiasaan ini dapat memicu berbagai masalah, seperti gangguan tidur, menurunnya kemampuan berkonsentrasi, hingga meningkatnya rasa cemas.

Karena otak anak masih dalam tahap perkembangan, paparan berita negatif membuat mereka lebih sensitif dan berisiko membentuk pola pikir yang pesimistis serta rasa takut berlebihan terhadap lingkungan sekitar.

Tak hanya itu, waktu layar yang berlebihan juga dapat menjauhkan anak dari interaksi nyata. Anak bisa menjadi kurang tertarik bersosialisasi, kehilangan minat pada aktivitas lain, dan mengalami kesulitan fokus saat belajar.

Bahaya Doomscrolling bagi Kesehatan Mental Anak

Doomscrolling dapat berdampak buruk pada kesehatan mental anak karena memengaruhi emosi, pola pikir, dan cara mereka memandang lingkungan sekitar.

Kebiasaan ini berisiko mengganggu perkembangan mental jika tidak disadari dan dibatasi sejak dini.

1. Anak mudah menganggap informasi keliru sebagai kebenaran

Anak belum mampu menyaring informasi dengan baik, sehingga konten di media sosial sering dianggap benar dan aman untuk ditiru. Hal ini membuat anak berisiko mengikuti tren berbahaya tanpa memahami dampaknya.

2. Memicu kecemasan berlebih

Paparan berita negatif yang muncul terus-menerus dapat menumbuhkan rasa khawatir dan takut pada anak. Informasi yang tidak jelas kebenarannya bisa membuat anak merasa dunia tidak aman.

3. Menyisakan ingatan emosional yang buruk

Konten negatif cenderung membekas lebih kuat dalam ingatan anak dan memengaruhi kondisi emosinya. Jika terjadi berulang, hal ini dapat memicu stres dan rasa takut yang bertahan lama.

4. Berisiko menimbulkan kecanduan

Doomscrolling dapat berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan. Waktu layar yang berlebihan sering mengganggu jam tidur anak dan berdampak pada suasana hati, fokus, serta perilaku sehari-hari.

5. Mendorong perilaku agresif

Paparan negatif secara terus-menerus dapat memicu ketegangan emosi dan meningkatkan perilaku agresif. Karena tidak semua konten mencerminkan kenyataan, anak membutuhkan pendampingan agar mampu menyikapi informasi dengan lebih sehat.

Dampak Doomscrolling pada Perkembangan Otak Anak

Doomscrolling tidak hanya memengaruhi kondisi emosional anak, tetapi juga berpotensi mengganggu proses perkembangan otak yang masih berlangsung.

Paparan konten negatif secara terus-menerus dapat memengaruhi cara anak berpikir, mengelola emosi, serta merespons lingkungan di sekitarnya.

1. Menurunnya attention span

Paparan konten yang terus berganti membuat otak terbiasa dengan stimulasi instan. Akibatnya, kemampuan fokus pada aktivitas yang menuntut konsentrasi lebih lama menjadi berkurang, terutama pada hal-hal yang tidak memberikan respons emosional kuat.

2. Otak menjadi kewalahan

Arus informasi yang datang tanpa jeda dapat memenuhi kapasitas kerja otak. Kondisi ini menyulitkan anak untuk berpikir produktif, mengolah informasi dengan tenang, dan menyelesaikan masalah secara optimal.

3. Mendistorsi realitas

Konsumsi berita negatif secara berlebihan berpotensi membuat anak memandang dunia sebagai tempat yang selalu berbahaya. Hal ini dapat mengubah cara mereka menilai situasi sehari-hari dan memicu rasa takut yang tidak proporsional.

4. Insomnia

Kebiasaan scrolling sebelum tidur meningkatkan risiko insomnia. Cahaya biru dari layar gawai juga dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang berperan penting dalam mengatur siklus tidur alami.

5. Dampak kognitif dan emosional

Doomscrolling dapat memperkuat pola pikir katastrofik, yaitu kecenderungan membayangkan hasil terburuk dari suatu keadaan. Selain itu, emosi negatif seperti takut, sedih, dan marah dapat dirasakan lebih intens dan berkepanjangan.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Risa Fajar Kusuma & Dhita Koesno