diajeng.id - Menjadi orang tua bukan berarti harus selalu tahu apa yang terbaik atau mampu memenuhi setiap kebutuhan anak tanpa kesulitan.
Ada kalanya orang tua merasa kelelahan, berada di bawah tekanan hidup, dan kurang mendapat dukungan, sehingga proses pengasuhan menjadi sangat menantang. Namun, di tengah segala keterbatasan itu, kebutuhan dan keselamatan anak perlu menjadi prioritas.
Mencegah child neglect atau pengabaian terhadap anak bukan berarti menuntut orang tua agar selalu sempurna. Yang lebih penting adalah memastikan kebutuhan anak terpenuhi secara konsisten, mengenali batas kemampuan diri, dan segera mencari bantuan ketika pengasuhan mulai sulit dijalankan dengan aman.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menekankan pentingnya membangun hubungan dan lingkungan yang aman, stabil, serta penuh perhatian sebagai bagian dari pencegahan kekerasan dan pengabaian terhadap anak.
Mewaspadai dan Menghindari Child Neglect
Ada sejumlah langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar situasi child neglect tidak perlu terjadi.
Yang pertama adalah memenuhi kebutuhan dasar dan kesehatan anak. Melansir dokumen panduan CDC, orang tua perlu memastikan anak mendapatkan makanan yang cukup, pakaian yang layak, tempat tinggal yang aman, pendidikan, serta perawatan medis sesuai kebutuhan.
Kemudian, orang tua juga bertanggung jawab menjaga kebersihan dan memahami kondisi fisik anak. Jika anak menunjukkan masalah kesehatan, jangan menunda mencari pertolongan yang diperlukan.
Langkah kedua, adalah dengan memberikan pengawasan sesuai usia dan kemampuan anak. Sebagian orang tua mungkin menganggap anaknya dapat menjaga diri hanya karena anaknya punya pembawaan tenang dan menunjukkan sikap mandiri. Padahal, anggapan tersebut perlu ditinjau ulang. Kemampuan anak memahami bahaya, mengambil keputusan, dan meminta pertolongan masih berkembang. Artinya, orang tua perlu menyesuaikan tingkat pengawasan dengan usia, kondisi, dan situasi yang dihadapi anak.
Ketika orang tua berniat melakukan aktivitas seperti berolahraga, bepergian, atau mendaki gunung, pastikan ada orang dewasa yang bertanggung jawab mengawasi anak secara langsung. Jangan meninggalkan anak kecil sendirian di lingkungan yang berisiko atau menyerahkan tanggung jawab pengawasan kepada anak lain yang belum mampu menjaganya.
Selanjutnya, orang tua juga harus membangun kedekatan emosional dengan anak. CDC menganjurkan orang tua menyediakan waktu setiap hari untuk berbicara atau bermain bersama anak, membangun rutinitas, memvalidasi perasaannya, serta memberikan dukungan fisik dan emosional.
Rutinitas seperti mendengarkan cerita anak, merespons ketika anak merasa takut, dan menunjukkan bahwa perasaannya penting dapat membantu membangun hubungan yang aman.
Orang tua wajib pula mempelajari kebutuhan anak sesuai tahap perkembangannya. Setiap anak memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda sesuai usianya. Anak balita, misalnya, belum memiliki kemampuan yang sama dengan anak usia sekolah dalam mengenali bahaya atau mengambil keputusan.
Oleh karena itu, orang tua perlu memahami tahap perkembangan anak agar dapat menetapkan batasan dan pengawasan yang sesuai.
Jika merasa kesulitan memahami perilaku atau kebutuhan anak, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter, psikolog, atau tenaga profesional yang relevan.
Jangan lupa juga mengenali batas kemampuan diri dan tidak ragu saat ingin minta bantuan. Orang tua juga memiliki kebutuhan fisik dan emosional. Kekurangan jam tidur, kelelahan berkepanjangan, tekanan ekonomi, atau minimnya dukungan bisa jadi faktor-faktor yang membuat proses pengasuhan anak semakin menantang.
Dalam wawancara dengan Diajeng Tirto pada Kamis (22/10), Raissa Hadiman, M Psi., Psikolog menegaskan bahwa langkah pertama yang perlu dilakukan ketika orang tua merasa sudah berada di titik lelah adalah meminta bantuan.
Kalau dalam proses memenuhi kedua kebutuhan ini dirasa sulit, Raissa menyarankan orang tua utuk mempertimbangkan meminta bantuan ke orang yang dipercaya.
"Mengenali batas kemampuan diri dan mencari dukungan juga bentuk kepedulian dalam proses pengasuhan," tutup Raissa.
Child neglect tidak seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua seorang diri. Keluarga besar, teman, lingkungan sekitar, tenaga kesehatan, sekolah, dan komunitas dapat membantu menyediakan dukungan praktis maupun emosional.
Dengan adanya dukungan yang memadai, orang tua memiliki lebih banyak kesempatan untuk beristirahat, mendapatkan bantuan ketika menghadapi kesulitan, dan tetap memenuhi kebutuhan anak secara konsisten.
Orang Tua yang Bertanggung Jawab Bukan Berarti Tidak Pernah Lelah
Pengasuhan anak adalah tanggung jawab besar yang berlangsung setiap hari. Dalam prosesnya, orang tua bisa merasa lelah, kewalahan, bahkan kehilangan arah. Perasaan-perasaan tersebut tidak otomatis menjadikan seseorang orang tua yang buruk.
Kendati demikian, mengenali kelelahan saja tidak cukup. Orang tua juga perlu mengambil langkah ketika kondisi dirinya mulai memengaruhi keselamatan atau pemenuhan kebutuhan anak.
Ketika orang tua tidak mampu memberikan pengawasan secara langsung, tanggung jawab tersebut perlu dialihkan kepada orang dewasa lain yang bisa dipercaya dan benar-benar mampu menjalankannya.
Mencegah child neglect bukan sekadar menghindari kejadian buruk yang menjadi viral di media sosial. Pencegahan berarti membangun kebiasaan pengasuhan yang aman, peka terhadap kebutuhan anak, dan terbuka terhadap bantuan.
Setiap anak berhak merasa bahwa keberadaannya penting, kebutuhannya layak dipenuhi, dan suaranya pantas didengar. Bersamaan dengan itu itu, setiap orang tua perlu memahami bahwa mereka tidak harus menjalani pengasuhan sendirian.
Jika kondisi tidak memungkinkan, mintalah bantuan, karena ini menjadi salah satu bentuk tanggung jawab paling penting dalam membesarkan anak.
Artikel lainnya seputar anak dan orang tua juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih