diajeng.id - Apa yang tebersit di kepala ketika mendengar tentang kekerasan terhadap anak? Apakah pengabaian terhadap anak atau penelantaran anak termasuk dalam kekerasan?
Belakangan ini, pemberitaan tentang anak-anak yang mengalami kecelakaan, terluka, bahkan meninggal dunia ketika berada dalam pengawasan yang tidak memadai kembali menjadi perhatian publik.
Beberapa peristiwa yang beredar di media sosial memunculkan pertanyaan penting; sejauh mana orang tua memahami tanggung jawabnya dalam menjaga keselamatan dan memenuhi kebutuhan anak?
Pada 14 Oktober 2026, misalnya, seorang anak perempuan berusia tiga tahun meninggal dunia setelah terjatuh dari balkon lantai lima sebuah hotel di Samarinda, Kalimantan Timur.
Korban disebut tengah berada di kamar bersama adiknya ketika kedua orang tua mereka sedang sarapan di restoran hotel. Polisi masih menyelidiki rangkaian kejadian tersebut.
Baru-baru ini, unggahan video di media sosial juga menuai perhatian netizen. Video tersebut memperlihatkan seorang balita yang diduga ditinggalkan sendirian di dalam tenda ketika kedua orang tuanya mendaki menuju puncak Gunung Prau. Peristiwa ini menuai kritik dari warganet yang mempertanyakan keselamatan anak di tengah aktivitas pendakian.
Kemudian di media sosial Threads, perilaku orang tua yang membawa anak ke tempat olahraga ketika melakukan latihan beban juga memicu perdebatan, terutama ketika keselamatan dan pengawasan anak dipertanyakan.
Di luar beragam reaksi yang muncul, peristiwa-peristiwa tersebut membuka ruang untuk membicarakan persoalan yang lebih luas tentang child abuse dan child neglect. Apa perbedaan antara keduanya? Apa hubungannya dengan kelalaian sesaat? Apa dampaknya bagi perkembangan psikologis anak?
Child Abuse dan Child Neglect, Apa Bedanya?
Dalam perspektif psikologi, child abuse dan child neglect sama-sama berkaitan dengan perlakuan yang dapat membahayakan kesejahteraan anak. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar.
Menurut penjelasan Raissa Hadiman, M Psi., Psikolog, child abuse merupakan tindakan kekerasan yang secara aktif dilakukan terhadap anak. Bentuknya dapat berupa kekerasan fisik, verbal, seksual, mental, maupun emosional.
Definisi ini sejalan dengan penjelasan di Psychology Today, yang menggambarkan child neglect sebagai tindakan atau kelalaian orang tua maupun pengasuh yang membuat kebutuhan dasar sesuai usia anak tidak terpenuhi dan menimbulkan, atau berpotensi menimbulkan, bahaya fisik maupun psikologis.
Kebutuhan tersebut tidak hanya mencakup makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan perawatan medis, tetapi juga pengawasan yang sesuai, perhatian emosional, serta perlindungan terhadap keselamatan anak.
Artinya, pengabaian tidak selalu berbentuk tindakan ekstrem. Dalam kondisi tertentu, pengabaian bisa berlangsung perlahan dan berulang, hingga orang-orang di sekitar anak menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.
Tanda-Tanda Child Neglect yang Sering Tidak Disadari
Pengabaian terhadap anak cenderung lebih menantang untuk dikenali karena tidak selalu meninggalkan tanda yang kasatmata. Berbeda dengan kekerasan fisik yang mungkin menimbulkan luka, child neglect dapat terlihat dari kebutuhan anak yang terus-menerus tidak terpenuhi.
Menurut Raissa, tanda awal pengabaian dapat terlihat dari kondisi fisik dan perawatan diri anak.
Tanda-tanda awal, lanjutnya, bisa terlihat di ciri fisik. Contohnya; kulit terlihat kotor atau mengalami masalah fisik yang disebabkan karena kurangnya higienitas, pakaian kotor, dan tidak diganti dengan proper, barang-barang yang dibawa atau dimiliki sudah banyak yang rusak atau kotor tapi tetap dipakai.
"Karena pengabaian pertama kali terlihat dari perawatan diri anak," imbuh Raissa.
Namun, satu tanda saja tidak cukup untuk langsung menyimpulkan bahwa seorang anak mengalami pengabaian.
Psychology Today menekankan bahwa kondisi ekonomi keluarga, akses terhadap fasilitas kebersihan, kondisi kesehatan, dan berbagai faktor lain perlu dipertimbangkan. Yang penting adalah melihat apakah kebutuhan anak terus-menerus tidak terpenuhi dan apakah ada upaya untuk mengatasinya.
Selain tanda fisik, pengabaian juga dapat menyangkut kebutuhan emosional. Anak mungkin tidak mendapatkan dukungan ketika sedang kesulitan, perasaannya terus-menerus diremehkan, atau kebutuhan psikologisnya dibiarkan tanpa respons.
Orang tua perlu memahami bahwa memenuhi kebutuhan anak bukan sekadar memastikan anak makan, berpakaian, dan memiliki tempat tinggal. Anak juga membutuhkan rasa aman, perhatian, pendampingan, dan hubungan yang hangat dengan pengasuhnya.
Lalai Sesaat atau Sudah Termasuk Child Neglect?
Tidak ada orang tua yang selalu mampu menjalankan pengasuhan dengan sempurna. Ada kalanya orang tua kelelahan, kewalahan menghadapi pekerjaan, atau tidak sengaja melakukan kekeliruan. Namun, kapan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius?
Raissa menjelaskan, salah satu pembeda utama antara kelalaian sesaat dan child neglect adalah durasi serta frekuensinya.
Child neglect cenderung berulang, yang mengakibatkan kebutuhan dasar anak kurang atau tidak terpenuhi. Sementara orang tua yang kewalahan bisa melakukan kalalaian sesekali, dengan kebutuhan dasar anak umumnya masih terpenuhi.
"Bisa dicek juga apakah ada kesadaran dan keinginan dari orang tua untuk memperbaiki, atau kondisi ini terus berlangsung tanpa ada penanganan yang memadai," kata Raissa.
Raissa juga menyoroti pentingnya mendelegasikan pengasuhan kepada orang yang dipercaya ketika orang tua sedang tidak mampu menjalankan tugasnya untuk sementara waktu, "Di kondisi child neglection biasanya tidak ada, atau jarang ada proses ini."
Meski demikian, frekuensi bukan satu-satunya pertimbangan. Satu kejadian saja dapat menimbulkan bahaya serius, terutama jika anak kecil dibiarkan menghadapi risiko yang tidak mampu mereka pahami atau atasi sendiri.
Keselamatan anak tetap harus menjadi prioritas. Selain itu, penilaian terhadap dugaan pengabaian perlu mempertimbangkan konteks serta tingkat bahayanya.
Mengapa Orang Tua Bisa Mengabaikan Anaknya
Diskusi terkait child neglect acap kali dikerucutkan pada konteks kesalahan orang tua. Padahal, penting pula memahami faktor-faktor yang dapat membuat orang tua kesulitan menjalankan pengasuhan dengan aman dan konsisten.
Raissa menjelaskan bahwa penyebab pengabaian bersifat kompleks. Kurangnya support system atau sistem dukungan dapat menjadi salah satu pemicunya.
"Karena pengasuh yang sangat tertekan dalam mengurus anak bisa mengalami burnout dan kehabisan energi," terang Raissa.
Selain itu, sejumlah faktor lain dapat meningkatkan risiko pengabaian.
Sejalan dengan yang dipaparkan dalam laman Prevent Child Abuse America, yang menekankan bahwa pengabaian tidak memiliki satu penyebab tunggal.
Faktor pada tingkat anak, orang tua, keluarga, dan komunitas dapat saling berinteraksi. Kemiskinan, pengangguran, keterbatasan pengetahuan tentang perkembangan anak, serta minimnya dukungan masyarakat termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko.
Namun, memahami faktor risiko bukan berarti membenarkan pengabaian. Sebaliknya, pemahaman tersebut dapat membantu keluarga dan masyarakat menemukan langkah pencegahan yang tepat, sehingga kebutuhan anak tetap terlindungi sekaligus orang tua mendapatkan bantuan yang diperlukan.
Luka Psikologis yang Bisa Terbawa hingga Dewasa
Dampak child neglect tidak selalu terlihat ketika anak masih kecil. Dalam beberapa contoh kasus, pengalaman diabaikan dapat memengaruhi cara manusia memandang dirinya sendiri, memahami emosinya, dan membangun hubungan dengan orang lain ketika dewasa.
Raissa menuturkan bahwa anak yang berulang kali mengalami pengabaian dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak cukup penting.
Tanpa disadari, anak mungkin menyerap pesan-pesan seperti, “Kebutuhanku merepotkan orang lain”, “Perasaanku tidak sepenting perasaan orang lain”, atau, “Aku tidak berharga”.
Perasaan-perasaan ini, lanjut Raissa, bisa muncul dalam bentuk menolak meminta bantuan walaupun dirinya sedalam dalam kondisi sangat kesulitan.
"Sulit memercayai orang lain karena terbiasa harus memenuhi kebutuhannya sendiri, kesulitan menyadari dan mengomunikasikan emosi dan kebutuhan, yang akhirnya juga bisa berujung pada merasa kesepian," terang Raissa.
Laman Psychology Today menambahkan, dampak pengabaian tidak sama pada setiap anak. Tingkat keparahan, durasi, usia ketika pengabaian terjadi, kualitas hubungan dengan pengasuh, serta keberadaan orang-orang yang memberikan dukungan turut memengaruhi dampaknya.
Pengalaman masa kecil yang menyakitkan juga bukan berarti seorang individu pasti akan mengalami masalah sepanjang hidupnya. Dengan lingkungan yang aman, hubungan suportif, dan bantuan profesional ketika diperlukan, anak maupun orang dewasa dapat memperoleh dukungan untuk memulihkan diri.
Artikel lainnya seputar anak dan orang tua juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih