diajeng.id - Lewat rekaman arsip hitam-putih hingga video rumahan amatir, film The Girl With The Leica (2026) karya Alina Marazzi berupaya menghidupkan kembali potongan sejarah yang sempat tenggelam.
Menggabungkan format Super 8, Super 16mm, serta deretan foto, film biopik ini mengajak kita merenungkan kekuatan politik dari sebuah citra visual melalui penceritaan jurnalis foto perempuan yang pemberani dan berdedikasi, sosok yang karyanya nyaris terhapus zaman di balik bayang-bayang pasangannya, fotojurnalis Robert Capa.
The Girl With The Leica masuk ke dalam salah satu film pada Program Italian Screens di Jakarta Film Week 2026 yang tayang pada Minggu (25/9) di CGV Grand Indonesia.
Pada Festival Film Internasional Venesia ke-83 yang berlangsung September 2026 lalu, film ini tayang perdana sebagai pembuka seksi Orizzonti (Horizons).
Adaptasi dari novel berjudul sama karya Helena Janeczek ini menceritakan kisah perjalanan hidup Gerda Taro dari sisi aktivisme politik, pengasingan, cinta, fotografi, serta tekadnya menjadikan kamera sebagai alat untuk melawan penindasan dan memperjuangkan kebebasan.
Awal Karier Gerda Taro
Gerda Taro lahir dengan nama Gerta Pohorylle di Stuttgart, Jerman pada 1 Agustus 1910. Gerda mulai memotret momen-momen perang sipil di Spanyol yang berlangsung pada 1936-1939.
Sosok perempuan cerdas dan penuh rasa ingin tahu ini memiliki jiwa yang penuh kebebasan dan simpati tinggi terhadap gagasan sosialis.
Melalui adegan kilas balik, film ini memperlihatkan bagaimana Pohorylle menjalin persahabatan dengan lingkaran terdekatnya, beberapa sudah dikenalnya sejak masa-masa di Leipzig ketika mereka aktif sebagai aktivis sayap kiri. Namun, begitu rezim Nazi berkuasa, mereka melarikan diri ke Paris.
Di Paris, Pohorylle berbagi apartemen sempit tanpa pemanas yang dipenuhi kutu bersama sahabat karibnya, Ruth Cerf. Dua perempuan muda yang ambisius ini menjalin hubungan dengan pengungsi lain, termasuk fotografer Fred Stein dan David “Chim” Seymour, sebelum akhirnya bertemu dengan Csiki Weisz dan André Friedmann asal Hungaria.
Bersama Andre Friedmann, Pohorylle melarikan diri dari gelombang persekusi dan berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan. Friedmann mengajari Pohorylle tentang fotografi, sementara Pohorylle mengajarinya cara memaksimalkan potensi terbaik dalam dirinya.
Pada masa itu, bukan perkara mudah bagi fotografer asing untuk menembus rubrik media cetak Prancis. Nama belakang Friedmann dan Pohorylle dianggap tidak cocok dengan gaya hidup maupun atensi internasional yang mereka dambakan. Keduanya lantas mencetuskan ide gila untuk menciptakan sosok fotografer Amerika yang sangat sukses.
Gerta Pohorylle lantas mengadopsi nama samaran Gerda Taro selama menetap di Paris, sementara Andre Friedmann menciptakan nama pena Robert Capa, sebuah nama yang terbukti sangat efektif dilafalkan dalam berbagai bahasa.
Keduanya, seiring menjadi kekasih, melakukan kerja sama secara profesonal, termasuk meliput Perang Saudara Spanyol (1936-39). Foto-foto hasil jepretan mereka berdua dipublikasikan di bawah nama Robert Capa di majalah Life dan Picture Post.
Pergi dari Bayang-Bayang Robert Capa
Setelah membiarkan karya-karyanya terbit di bawah nama samaran Capa, Gerda Taro mulai menuntut hak kredit untuk foto-fotonya sendiri dan bertugas sebagai koresponden Perang Saudara Spanyol untuk Ce Soir, surat kabar komunis berbasis di Paris.
Tanggal 14 Juli 1937 menandai momen ketika Taro merencanakan keberangkatannya dari Paris untuk kembali ke garis depan Perang Saudara Spanyol. Situasi yang berkecamuk di sana berhasil diabadikan oleh Taro melalui jepretan-jepretannya yang monumental, salah satunya potret seorang milisi perempuan Republik yang sedang berlatih menggunakan sepatu hak tinggi, berlutut di atas tanah berpasir sembari membidikkan pistol.
Alih-alih berfokus pada dinamika pertempuran, Taro mengarahkan kameranya untuk menangkap momen para penyintas dan pejuang; dari prajurit laki-laki, perempuan, hingga anak-anak. Setiap jepretannya pun berhasil mencerminkan sisi kemanusiaan yang utuh,
The Girl With The Leica menekankan komitmen mendalam Gerda Taro terhadap perjuangan kubu Republik Spanyol. Taro berulang kali menegaskan kepada teman-temannya bahwa kelompok Republik sedang melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh generasi mereka sendiri di Jerman.
Dalam beberapa perjalanan sebelumnya, Taro didampingi oleh sang kekasih, Robert Capa. Namun, dalam misinya di Spanyol, dia bergabung bersama fotografer asal Kanada, Ted Allan. Terlepas dari ancaman bahaya dan kejamnya perang yang berkecamuk, Taro memilih untuk bertahan di sana.
Pada Juli 1937, saat Taro tengah mengabadikan pertempuran di wilayah Brunete dekat Madrid untuk surat kabar Ce Soir, tubuhnya tertabrak dan tergilas oleh sebuah tank milisi Republik yang sedang mundur.
Gerda Taro mengembuskan napas terakhirnya pada usia 26 tahun di Rumah Sakit El Goloso di El Escorial. Jasadnya kemudian dimakamkan di Père-Lachaise, Paris. Namanya tercatat sebagai jurnalis foto perempuan pertama yang gugur di medan perang.
Melansir BBC, Jane Rogoyska penulis buku Gerda Taro: Inventing Robert Capa (2013) mengatakan bahwa Robert Capa tidak pernah memaafkan dirinya sendiri karena telah membiarkan Gerda pergi tanpa didampinginya, meski di kemudian hari fotojurnalis tersebut menjadi terkenal dengan ungkapan ikoniknya, "Kalau foto-fotomu belum cukup bagus, itu artinya kamu belum cukup dekat."
"Robert Capa menyalahkan dirinya sendiri karena tidak berada di sana, dia selalu merasa memiliki peran untuk melindungi Taro karena dia tahu perempuan itu kerap mengambil risiko yang terlalu besar," ungkap Rogoyska.
Capa juga merasa bertanggung jawab karena dialah sosok yang pertama kali mengenalkan dunia fotografi kepada Taro.
Selama bertahun-tahun, foto-foto hasil jepretan Taro sempat diatribusikan kepada Capa. Rogoyska mengungkapkan bahwa setelah kematian Taro dan pada masa-masa awal berdirinya agensi foto Magnum Photos (didirikan oleh Capa dan sesama fotojurnalis Henri Cartier-Bresson, William Vandivert, David Seymour, dan George Rodger di Paris pada 1947), karya-karya mereka kerap kali "dicampuradukkan" begitu saja.
"Ada proses penutupan atau pengaburan terhadap eksistensinya, bukan karena niat buruk, melainkan karena tidak ada lagi sosok yang hadir di sana untuk menegaskan ‘ini karya laki-laki itu’ atau ‘itu karya perempuan tersebut’," tambah Rogoyska.
Gerda Taro sangat progresif pada masanya dengan menempatkan karya dan pekerjaannya di atas peran tradisional perempuan pada umumnya.
Taro merancang ulang identitasnya sendiri, akan tetapi mitos kedahsyatan fotografi Capa begitu kuat. Bahkan, ketika Taro meninggal dunia, beberapa surat kabar masih mendeskripsikannya sebagai “istri Robert Capa” padahal kenyataannya mereka tidak pernah menikah.
Hidup mereka memang saling terjalin, akan tetapi Gerda Taro sepenuhnya adalah perempuan merdeka yang menentukan jalannya sendiri. Hal tersebut sangat dipahami dan dihormati oleh Robert Capa.
Foto-foto jepretannya adalah saksi sejarah dunia. Tiga kotak negatif foto hasil jepretan Gerda Taro, Robert Capa, dan David “Chim” Seymour selama Perang Saudara Spanyol sempat hilang pada tahun 1940 sebelum ditemukan kembali pada 2007. Momen penemuan ini memungkinkan dunia untuk meninjau kembali dan mengakui peran besar Gerda Taro dalam sejarah jurnalisme foto.
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih