diajeng.id - Wabah campak belakangan ini tidak hanya menimbulkan keprihatinan di berbagai klinik kesehatan dan rumah sakit.
Penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dan dimusnahkan dari muka Bumi ini juga jadi tema perdebatan sengit di semesta media sosial antara kelompok orang tua yang pro dan antivaksinasi.
Di tengah kegaduhan tersebut, ada pula misinformasi yang menggaungkan ketakutan tak berdasar tentang risiko pemberian vitamin K kepada bayi baru lahir: bikin bayi kuning, memicu leukimia, dan lain sebagainya.
Baru-baru ini, misinformasi juga menyebarluas di ranah digital tentang klaim bahwa penyakit menular berbahaya TBC (Tuberkulosis) bisa disembuhkan dengan herbal saja.
Maraknya misinformasi terkait kesehatan ini sungguh memprihatinkan. Seiring komunitas dokter semakin gencar menyampaikan edukasi di media sosial, masyarakat yang teredukasi dan bertanggung jawab ikut menyuarakan dukungannya.
Apabila narasi prokontra ini diperhatikan lekat-lekat, yang sering kita lihat adalah pola diskusi tidak seimbang secara bobot kualitas argumen.
Pihak yang mendukung vaksin dan pengobatan kedokteran modern biasanya menyampaikan alasan logis yang merujuk pada studi ilmiah dan penjelasan medis.
Sebaliknya, pihak yang kontra kerap mengandalkan pengalaman pribadi atau rumor (kata orang, menurut temannya saudara, dialami oleh sepupu tetangga) yang tidak relevan atau klaim-klaim yang justru bertentangan dengan pengetahuan medis dan logika kesehatan.
Menariknya, pola serupa juga muncul dalam berbagai perdebatan di ranah lain, dari teori konspirasi kesehatan (misalnya klaim bahwa kanker sengaja “dipelihara” oleh industri farmasi), politik (seperti cerita tentang “monster Bigfood” yang konon berada di balik pembunuhan Presiden AS John F. Kennedy, atau kisah harta karun 57 ton emas Soekarno), hingga sains populer seperti teori bumi datar.
Ketika adu argumen terjadi antara pihak yang berpegang pada pengetahuan ilmiah dan pihak yang percaya misinformasi, diskusi cenderung melebar ke mana-mana. Inti persoalan menghilang.
Akibatnya, energi debat jadi terkuras karena kedua pihak berangkat dari kerangka berpikir yang bertolak belakang sejak awal.
Ketika keyakinan dipertahankan tanpa ruang untuk memeriksa kembali bukti atau informasi yang lebih kuat, proses belajar pun terhenti.
Dirangkum dari The Conversation, salah satu alasan misinformasi begitu sulit dilawan adalah karena banyak keyakinan manusia sebenarnya tidak terbentuk terutama dari fakta, tetapi dari jaringan sosial tempat mereka berada.
Dalam dunia yang semakin kompleks dan terspesialisasi, nyaris mustahil ada orang yang mampu memahami semua isu secara mendalam.
Pengetahuan modern adalah hasil kerja kolektif dari berbagai bidang keahlian, sehingga orang sering kali harus bergantung pada orang lain untuk menentukan apa yang dapat dipercaya.
Penilaian tersebut biasanya mengikuti komunitas sosial kita, teman, keluarga, kelompok politik, atau forum-forum daring.
Akibatnya, seseorang lebih mudah memercayai klaim dari orang dalam lingkarannya, bahkan ketika orang tersebut tidak memiliki keahlian atau menyebarkan informasi keliru.
Dalam situasi seperti ini, argumen berbasis data atau fakta sering gagal mengubah keyakinan karena yang dipertahankan sebenarnya bukan sekadar pendapat, melainkan loyalitas terhadap komunitas kepercayaan.
Artinya, alih-alih membangun keyakinannya dari fakta, sebagian orang membangunnya dari jaringan sosial yang mereka percayai. Maka tidak mengherankan apabila usaha untuk meluruskan misinformasi sering terasa seperti berbicara kepada tembok.
Dengan kata lain, fakta-fakta logis dan ilmiah yang kita sodorkan tidak selalu ditepis dengan kebodohan atau kekosongan pengetahuan, melainkan juga bisa terkait dengan identitas sosial, loyalitas kelompok, dan keyakinan yang sudah tertanam lama.
Seperti dikutip Upworthy, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi bagaimana kita membantah orang-orang yang percaya hoaks, tetapi bagaimana berinteraksi secara lebih efektif dengan orang yang memercayainya.
Selama ini, sebagian dari kita mungkin lebih memilih strategi konfrontasi langsung: mengoreksi klaim yang salah dengan data, studi ilmiah, atau tautan berita yang dianggap lebih kredibel.
Namun, penelitian menunjukkan pendekatan ini sering kali tidak efektif. Orang umumnya tidak suka dikoreksi secara langsung, dan keyakinan yang sudah diterima sering kali sulit digoyahkan.
Dalam banyak kasus, kontradiksi langsung justru memicu reaksi defensif yang membuat seseorang semakin berpegang pada keyakinannya.
Sejumlah peneliti komunikasi menyarankan pendekatan yang lebih halus, disebut “bypassing.”
Alih-alih membantah klaim yang salah secara terang-terangan, strategi ini mencoba mengalihkan pembicaraan ke informasi benar yang mengarah pada kesimpulan yang berlawanan dengan misinformasi tersebut.
Misalnya, kita menjumpai orang yang percaya bahwa fluorida dalam air minum adalah “limbah beracun.”
Respons yang lebih efektif bukan langsung menyanggah klaim itu, melainkan menyebutkan fakta bahwa fluoridasi air merupakan salah satu pencapaian besar kesehatan masyarakat karena membantu mengurangi kerusakan gigi secara signifikan.
Dengan cara ini, percakapan tidak berubah menjadi pertarungan argumen, tetapi menjadi pengenalan informasi baru yang dapat perlahan memengaruhi cara orang memandang isu tersebut.
Pendekatan ini juga didukung oleh penelitian dari pakar komunikasi di University of Pennsylvania pada 2023.
Dalam beberapa eksperimen yang menguji cara merespons misinformasi tentang pangan rekayasa genetika, peneliti menemukan bahwa memberikan informasi positif yang relevan (bypassing) dapat mengurangi dampak misinformasi sama efektifnya dengan membantahnya secara langsung.
Pada akhirnya, menghadapi misinformasi bukan sekadar soal memenangkan debat, tetapi memahami bagaimana keyakinan manusia terbentuk dan berubah.
Strategi terbaik bisa jadi bukan membantah setiap hoaks yang muncul, melainkan menanamkan pemahaman yang benar dan memilih perdebatan mana yang memang layak menguras energi kita.
Simak juga artikel lainnya seputar misinformasi di sini.
Editor: Sekar Kinasih