Menuju konten utama
Urgensi Vaksinasi Campak

Menghadapi Orang Tua Antivaksin di Tengah Wabah Campak

Berkomunikasi dengan orang tua yang menolak vaksin bukan soal menang debat, melainkan tentang menegaskan dampaknya yang berbahaya bagi kesehatan orang lain.

Menghadapi Orang Tua Antivaksin di Tengah Wabah Campak
Header Diajeng Antivaksin. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Dalam beberapa waktu terakhir, kasus campak kembali menjadi sorotan di berbagai daerah hingga muncul imbauan dari Kementerian Kesehatan agar keluarga menunda perjalanan mudik ke kampung halaman apabila anaknya menunjukkan gejala campak.

Di tengah upaya tenaga kesehatan menekan penyebarannya, muncul perdebatan publik tentang anak-anak yang terinfeksi karena orang tuanya memutuskan tidak memberikan vaksinasi.

Marak video berseliweran yang menunjukkan mereka kesakitan begitu parah. Pada waktu sama, muncul kekhawatiran masyarakat karena mereka berpotensi menularkan penyakitnya pada bayi-bayi yang belum bisa divaksinasi dan kelompok rentan lainnya terutama perempuan hamil.

Peristiwa menyedihkan ini sontak memicu reaksi keras terhadap para orang tua yang memilih untuk tidak memvaksin anaknya. Mereka dianggap keras kepala, abai pada keselamatan orang lain, bahkan tidak peduli pada kesehatan anak mereka sendiri.

Tak heran jika narasi antivaksin sering jadi perdebatan "panas" di media sosial, seperti di Threads. Berbagai tanggapan keras dan kritik tajam pun bermunculan, terutama kemarahan terhadap para orang tua yang memilih untuk tidak memvaksin anaknya.

"Bingung sama pasien campak ini

Maksa anaknya pulang campak

Karena besok ujian.

Jadi besok dia bisa nularin campak gitu ke semua temennya?

Kok jahat," tulis akun iogh_bp.

"Guys ruang isolasi campak di banyak rmh sakit udah banyak yg penuh.. Usahain jgn sampe sakit campak ya. Yg anaknya blm vaksin buru2 vaksin. Yg gamau vaksin ya gw gatau gmn caranya lah intinya jgn sampe campak," cuit akun lainnya mizaafrizal.

Tanggapan lainnya juga ditulis seorang dokter yang mengaku prihatin atas kondisi campak saat ini:

"Patah hati karna hampir 50% pasienku yang dirawat inap itu karena campak. Semuanya kena pneumonia. Di antara semua yang paling bikin patah hati adalah bayi 7 bulan yang emang belum bisa divaksin tapi ketularan dari lingkungannya. Liat dia demam tinggi, nafas cepet, tapi masih berusaha ngelawan penyakitnya bikin hatiku teriris2 ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ Tolong ya dear momdads vaksinlah anakmu. Sudahi KLB ini ๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”," sebut dokteranak_leonirma.

"Antivaxs yg berhasil menginfluence ibu2 jadi takut buat vaksin campak, dan skrg campak jadi KLB di 73 kota

Tanggungjawab di akhirat yaaa!!," komentar faridaa.wbsn.

Masih banyak komentar-komentar lainnya yang berseliweran di lini media sosial karena kasus campak yang semakin merebak di Tanah Air.

Kasus Campak di Indonesia

Data resmi menunjukkan bahwa kasus campak memang kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Sepanjang tahun 2025, Kementerian Kesehatan mencatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi dan 69 kematian di Indonesia. Bahkan, penemuan kasus suspek meningkat tajam hingga sekitar 147 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Situasi ini masih berlanjut pada awal 2026. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan 379 kasus campak terkonfirmasi dalam lima pekan pertama tahun 2026, meskipun jumlah kasus suspek sebenarnya mencapai ribuan dan pemeriksaan laboratorium masih menumpuk.

Data lain juga menunjukkan bahwa terdapat 45 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang tersebar di 29 kabupaten atau kota pada 11 provinsi di Indonesia.

Dengan angka-angka seperti ini, tidak mengherankan jika isu vaksinasi kembali menjadi topik yang sangat sensitif di ruang publik.

Pengalaman pribadi juga membuatku sulit memandang isu ini secara dingin.

Beberapa waktu lalu, anak bayiku sempat dirawat di rumah sakit karena pneumonia ringan (bronkopneumonia). Saat itu usianya masih terlalu kecil untuk menerima rangkaian vaksin lengkap yang seharusnya melindunginya dari berbagai penyakit infeksi.

Sebagai orang tua, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat anak yang biasanya ceria tiba-tiba terbaring lemah, harus dipasangi infus, dan berada di bawah pemantauan tenaga medis.

Selama berhari-hari berada di ruang rawat tentu pikiran dan hatiku dipenuhi rasa cemas, lelah, sekaligus harapan agar ia segera pulih.

Di momen-momen seperti itu, aku beberapa kali bertanya dalam hati, "Jika ada cara untuk melindungi anak dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah, mengapa justru ada orang tua yang memilih untuk menolaknya?"

Pertanyaan itu tidak lahir dari kemarahan, melainkan dari keheranan dan kesedihan seorang ibu yang pernah merasakan betapa rapuhnya seorang anak, terutama jika usianya masih bayi ketika ia sedang terbaring sakit.

Peran Ibu dalam Gerakan Vaksinasi

Di tengah prokontra tersebut, ada satu hal yang sering luput disadari.

Dalam banyak keluarga, ibu memegang peranan besar dalam keputusan kesehatan anak, termasuk soal vaksinasi. Oleh karena itu, suara para ibu juga sangat berpengaruh dalam percakapan publik tentang vaksin.

Penelitian yang disampaikan dalam artikel The Conversation menunjukkan bahwa di media sosial, ibu-ibu yang menolak vaksin justru cenderung lebih vokal.

Mereka lebih sering mencari, membagikan, dan menyuarakan pandangan mereka tentang vaksin dibandingkan ibu yang mendukung vaksinasi.

Akibatnya, percakapan di ruang digital bisa tampak seolah-olah menyorot penolakan vaksin sebagai pandangan yang lebih umum daripada kenyataannya.

Tim peneliti menyarankan agar orang tua, terutama para ibu yang mendukung vaksinasi juga ikut bersuara dan berbagi pengalaman, sehingga informasi yang beredar di ruang publik menjadi lebih seimbang.

Salah satu cara yang efektif adalah menetapkan batasan yang jelas (boundaries), terutama ketika keputusan orang lain berpotensi memengaruhi kesehatan anak kita.

Dalam sebuah artikel di Quartz, diceritakan pengalaman seorang ibu bernama Katherine Steck yang menghadapi dilema serupa.

Katherine dan beberapa ibu lain membentuk kelompok bermain untuk anak-anak mereka. Namun muncul pertanyaan penting, bagaimana jika ada orang tua yang memilih untuk tidak memvaksin anaknya?

Akhirnya, mereka memutuskan membuat aturan sederhana: anak yang tidak divaksin tidak dapat bergabung dalam kelompok bermain mereka. Itulah cara mereka melindungi anak-anak lain yang masih terlalu kecil atau belum lengkap vaksinasinya.

โ€œKetika kamu memilih untuk tidak memvaksinasi anak-anakmu, maka kamu menghilangkan kesempatan bagi merekaโ€ฆ karena kamu akan membahayakan anak-anak lain,โ€ kata Katherine.

Keputusan itu tidak diambil dengan mudah. Katherine sendiri mengakui bahwa membicarakan status vaksinasi dengan orang tua lain sering terasa canggung. Namun bagi dirinya, menetapkan batasan adalah bagian dari tanggung jawab sebagai orang tua.

Tentu saja, menghadapi orang yang meragukan vaksin tidak selalu mudah. Perdebatan sering kali berubah menjadi aksi saling menyalahkan, yang justru membuat jarak semakin lebar. Menggunakan pendekatan yang lebih empatik sering disarankan oleh peneliti komunikasi kesehatan.

Yang Harus Dilakukan saat Bertemu Orang Antivaksin?

Dilansir NPR, ilmuwan perilaku kesehatan dari Johns Hopkins, Rupali Limaye, membagikan beberapa cara sederhana untuk berbicara dengan orang yang ragu terhadap vaksin.

Pertama, mulailah dengan menganggap bahwa vaksinasi adalah hal yang normal dan umum dilakukan. Misalnya dengan berbagi pengalaman pribadi ketika anak kita menerima vaksin.

Kedua, ketika seseorang menyampaikan keraguan, ajukan pertanyaan terbuka seperti, โ€œApa yang bikin kamu khawatir?โ€ atau, โ€œApa yang kamu dengar tentang vaksin?โ€ Pertanyaan seperti ini membantu kita memahami kekhawatiran yang sebenarnya.

Ketiga, dengarkan dengan sungguh-sungguh. Sikap defensif, seperti memotong pembicaraan atau menunjukkan ekspresi meremehkan, justru akan membuat lawan bicara menutup diri.

Keempat, tunjukkan empati. Akui bahwa menjadi orang tua memang penuh kekhawatiran. Setelah kepercayaan terbangun, barulah kita dapat meluruskan informasi yang keliru dengan penjelasan yang sederhana dan jelas.

Pendekatan seperti ini mengingatkan kita bahwa percakapan tentang vaksin bukan hanya soal data atau fakta ilmiah, tetapi juga soal kepercayaan, relasi, dan rasa aman dalam berdialog.

Berkomunikasi dengan orang tua yang menolak vaksin sebenarnya bukan soal memenangkan perdebatan. Namun begitu, penting untuk menegaskan bahwa keputusan tidak memvaksinasi anak membawa konsekuensi bagi kesehatan banyak orang.

Dalam situasi wabah seperti campak, tanggung jawab melindungi anak-anak tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga sosial.

Ada kalanya kita perlu menetapkan batasan untuk melindungi keluarga kita, ada kalanya juga kita perlu bersabar dan membuka dialog.

Sebagai orang tua, kita semua sebenarnya memiliki tujuan yang sama. Kita ingin anak-anak kita tumbuh sehat dan aman.

Alih-alih memperlebar jurang perbedaan, yang dibutuhkan sekarang adalah lebih banyak percakapan yang tenang, berempati, dan berbasis pengetahuan.

Jika lebih banyak orang tua berani berbagi pengalaman, mendengarkan dengan tulus, dan menyampaikan informasi berbasis ilmiah, percakapan tentang vaksin tidak harus selalu berakhir dengan pertengkaran. Momen ini bisa jadi ruang untuk saling belajar demi kesehatan bersama.

Simak juga artikel lainnya seputar vaksin di sini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih