Menuju konten utama

Budaya Begadang Ibu: Ketika "Tidur Cukup" Jadi Kemewahan

Perempuan, terutama Ibu Rumah Tangga (IRT) dan ibu pekerja, banyak yang mengorbankan waktu tidurnya demi memaksimalkan produktivitas.

Budaya Begadang Ibu: Ketika
Header Diajeng Budaya Begadang Ibu. tirto.id/Quita

diajeng.id - Menjadi seorang ibu sering kali berarti harus berhadapan dengan malam yang panjang dan persiapan kurang tidur.

Setelah seharian penuh mengurus rumah, anak, atau seusai bekerja di kantor bagi para working mom, waktu tidur kerap kali bergeser menjadi prioritas terakhir.

Alih-alih merebahkan diri lebih awal, tidak sedikit ibu justru memilih “begadang produktif”, entah untuk membereskan cucian yang menumpuk, menyiapkan keperluan sekolah anak, atau sekadar menikmati sedikit waktu tenang bagi diri sendiri.

Tidur cukup pun terasa seperti sebuah hal yang mewah.

Meskipun tubuh menuntut istirahat, realitas tentang tanggung jawab dan kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi membuat banyak ibu merasa perlu untuk terus terjaga hingga larut malam.

Alhasil, kelelahan fisik dan mental menjadi harga yang harus dibayar. Meski begitu, kondisi acap kali dianggap wajar sebagai bagian dari perjalanan menjadi seorang ibu.

Memang betul, ada rasa puas ketika tugas-tugas terselesaikan. Di sisi lain, begadang seakan-akan sudah mendarah daging dalam kehidupan banyak ibu.

Bukan karena tak tahu pentingnya istirahat, melainkan karena ada begitu banyak peran yang harus dijalani.

Di antara tumpukan tanggung jawab itu, tidur nyenyak dan tidur cukup terkadang terasa seperti hadiah istimewa yang hanya bisa dinikmati sesekali saja.

Benarkah 'Tidur Cukup' Merupakan Kemewahan?

Fenomena ini bukan sekadar soal kantuk atau lelah.

Budaya begadang adalah cermin dari betapa besar peran yang harus diemban sekaligus menjadi pengorbanan yang sering dianggap wajar.

Di balik lingkar hitam di bawah mata ibu, tersimpan cerita tentang dedikasi, cinta, dan kebutuhan manusiawi yang kerap diabaikan: hak untuk benar-benar beristirahat.

Sebuah survei yang dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2007 oleh University of California San Francisco (UCSF) dan disponsori National Sleep Foundation, menanyakan pada lebih dari 1.000 perempuan dewasa yang sudah menikah dan punya anak.

Menurut hasil survei, sebanyak 60 persen perempuan bisa menikmati tidur nyenyak lebih dari satu atau dua malam dalam seminggu, dan 40 persen lainnya mengalami masalah tidur setiap malam.

Temuan ini mengindikasikan dampak signifikan kekurangan tidur terhadap kesehatan mental dan fisik, kehidupan pribadi, pekerjaan profesional, dan keselamatan berkendara mereka.

Para peserta survei melaporkan bahwa kurang tidur menyebabkan mereka terlambat bekerja, mengalami stres tinggi, merasa depresi atau cemas, tidak berolahraga, terlalu lelah untuk berhubungan seks, mengemudi dalam keadaan mengantuk, dan memiliki sedikit waktu untuk hubungan pribadi atau keluarga.

"Banyak perempuan terbiasa mengorbankan waktu tidur demi memenuhi berbagai peran yang mereka jalani. Dari pekerjaan profesional, mengurus rumah, hubungan suami-istri, perubahan biologis seperti kehamilan dan menopause, stres, atau hewan peliharaan, hingga mendampingi anak, tanggung jawab yang menumpuk membuat waktu istirahat sering terpinggirkan," kata Kathryn Lee, PhD, dosen Departemen Keperawatan Perawatan Kesehatan Keluarga di Fakultas Keperawatan UCSF, yang memimpin studi tersebut.

Akibatnya, tambah Lee, tidur cukup menjadi hal yang jarang dirasakan. Temuan menunjukkan bahwa penyebab kurang tidur adalah upaya perempuan untuk memenuhi tanggung jawab mereka dalam semua aspek kehidupan.

Aspek-aspek kehidupan ini mencakup dari tuntutan pekerjaan dan pengasuhan, perubahan biologis pada fase kehidupan tertentu, hingga stres yang berkepanjangan.

Bagi ibu yang juga bekerja, situasi ini jauh lebih terasa. Mereka dituntut untuk bisa mengimbangi jadwal kerja penuh waktu sekaligus kebutuhan keluarga, sehingga rata-rata hanya bisa tidur sekitar enam jam per malam.

Tidak heran bila kelelahan, insomnia, dan rasa cemas menjadi keluhan umum yang mereka alami.

“Ini bukan berarti para ibu tidak boleh bekerja. Faktanya, mereka acap kali merupakan karyawan yang paling produktif, terorganisir, dan efisien. Namun, hal ini menunjukkan perlunya perusahaan dan masyarakat secara keseluruhan untuk mendukung mereka dengan lebih baik,” jelas Lee.

Dukungan yang dimaksud dapat mencakup jam kerja yang lebih fleksibel, penitipan anak di tempat kerja, layanan antar-jemput untuk mengurangi risiko mengemudi, kafetaria yang menawarkan makanan untuk dibawa pulang bagi keluarga, dan kesempatan bagi perempuan untuk berolahraga selama hari kerja.

Dukungan yang Dibutuhkan Ibu

Dukungan ini juga dapat mencakup dukungan yang lebih besar dari pasangan dalam membagikan tanggung jawab rumah tangga, termasuk menyiapkan makanan.

Seperti diwartakan laman Forbes, bagi banyak ibu pekerja, menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga sering berarti mengorbankan kehidupan pribadi.

Waktu untuk bersosialisasi dengan teman semakin berkurang, bahkan sekadar meluangkan waktu untuk diri sendiri terasa sulit.

Sebagian ibu menggambarkan bahwa mereka seolah harus memilih antara tampil maksimal di pekerjaan atau memiliki kehidupan yang utuh di luar kantor. Tanpa dukungan atau bantuan tambahan, rasanya mustahil melakukan keduanya sekaligus.

Jam kerja yang panjang dan tanggung jawab rumah tangga membuat waktu luang menjadi sangat terbatas. Istirahat pun berkurang, hingga akhirnya keseimbangan hidup yang ideal terasa semakin jauh dari jangkauan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih