Menuju konten utama

Anak Tantrum? Begini Trik Menghadapinya dengan Tenang

Artikel ini akan menjelaskan tentang apa itu tantrum anak, penyebab anak bisa tantrum, serta cara menghadapi anak yang sedang tantrum.

Anak Tantrum? Begini Trik Menghadapinya dengan Tenang
Ilustrasi anak tantrum. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Sebagian besar orang tua pasti pernah menghadapi anak yang tiba-tiba tantrum saat keinginannya tidak dituruti. Kondisi anak yang tantrum memang kadang bikin bingung dan kewalahan, apalagi jika terjadi di tempat umum.

Anak yang menangis histeris, berteriak, sampai berguling-guling di lantai merupakan beberapa gambaran mereka sedang tantrum. Sebenarnya, tantrum adalah hal yang wajar terjadi pada anak-anak, karena ini bagian dari proses tumbuh kembang anak.

Lantas, bagaimana cara mengatasi anak tantrum tanpa harus ikut terpancing emosi?

Apa Itu Tantrum pada Anak?

Seperti dijelaskan di atas, tantrum adalah kondisi anak dalam meluapkan emosinya ketika ia sedang frustasi, marah, atau kesulitan mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya.

Bentuknya bisa berupa tangisan kencang, teriakan, menendang-nendang, hingga melempar barang yang ada di sekitarnya.

Dikutip artikel di Nemours KidsHealth berjudul "Temper Tatrum", dijelaskan bahwa tantrum umumnya terjadi pada anak usia 1–3 tahun karena kemampuan bahasa dan pengendalian emosinya masih dalam tahap berkembang.

Jadi, anak tantrum itu belum tentu memang sengaja membuat orang tuanya kesal. Tapi, terjadi karena si kecil belum tahu cara menyampaikan perasaannya dengan tepat.

Penulis sendiri yang saat ini masih memiliki anak usia batita, perlu terus latihan sabar saat mengadapi anak yang sedang tantrum.

Pernah suatu waktu, ketika saya sedang dalam kondisi capek dan lelah setelah pulang dari kantor, sampai di rumah anak tiba-tiba menangis kencang. Hal ini tentu membuat kebingungan.

Ia menangis sampai 20 menit lamanya. Saya pun cuma bisa terdiam dan membiarkan ia melampiaskan kekesalannya.

Setelah tangisnya mereda, saya langsung memeluk bayi usia 18 bulan itu dengan lembut dan mengelus-elus pundaknya, sambil membisikkan kalimat "Maaf ya Nak, kamu seharian ada di daycare dan harus ibu tinggal kerja. Ibu sayang kamu, jangan nangis lagi ya," ucap saya waktu itu.

Ajaibnya, cara ini ternyata cukup ampuh, anak saya pun berhenti menangis, ia tersenyum, lalu menunjuk susu yang menandakan bahwa sebenarnya ia pengen minum susu. Jadi, kalau saya pribadi, ketika anak tantrum, saya biarkan saja melampiaskan sepuasnya, lalu peluk dengan hangat, karena pelukan hangat juga dapat membuat anak jadi merasa lebih tenang.

Penyebab Anak Bisa Tantrum

Anak tantrum sebenarnya bisa terjadi karena beberapa hal umum, di antaranya anak merasa lapar, anak kelelahan, kurang tidur, atau keinginannya yang tidak terpenuhi. Selain itu, anak juga bisa stres dan marah saat ia sulit melakukan hal-hal yang diinginkan atau merasa tidak dipahami apa maunya.

Menurut laman Raising Children Network, stres, stimulasi berlebihan, dan emosi yang terlalu kuat juga dapat membuat anak kesulitan mengendalikan perilakunya.

Oleh karena itu, sebagai orang tua, penting untuk memahami apa saja pemicu tantrum pada anak, bukan sekadar berfokus menghentikan tangisannya.

Cara Menghadapi Anak Tantrum

Ketika anak tantrum, hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah berusaha tetap tenang. Meski panik, orang tua jangan sampai ikut berteriak dan memarahi si kecil, karena kondisi tersebut justru bisa memperburuk situasi.

Kemudian, pastikan saat ia tantrum berada di tempat yang aman, terutama jika sudah dalam kondisi menendang dan melempar benda-benda yang ada di sekitarnya. Jauhkan segala benda berbahaya yang bisa melukai dirinya

UNICEF India menyarankan orang tua untuk mengalihkan perhatian anak, menawarkan alternatif, dan memberikan kenyamanan setelah emosinya mereda. Orang tua juga bisa bertindak untuk memvalidasi perasaan si kecil. Beberapa kalimat yang bisa diucapkan, seperti, "Kamu kesal ya karena dilarang bermain lagi?" atau "Ibu mengerti, kamu marah karena enggak boleh jajan camilan itu, kan?”

Ingat pula, untuk tidak menuruti apa-apa yang menjadi keinginannya hanya agar anak berhenti menangis.

Sebagai orang tua, perlu untuk tetap bersikap konsisten dengan batasan yang sudah ditetapkan, sambil menunjukkan bahwa perasaannya tetap dipahami.

Setelah anak tenang, ajak ia membicarakan apa yang terjadi dan bantu menemukan cara lain untuk mengungkapkan emosinya.

Cara Mencegah Anak Tantrum

Tantrum tidak selalu bisa dicegah, tetapi risikonya dapat dikurangi. Pastikan anak cukup tidur dan makan sebelum beraktivitas. Berikan pilihan sederhana, misalnya memilih baju atau camilan, agar ia merasa memiliki kendali.

Orang tua juga dapat mengajarkan nama-nama emosi, seperti marah, sedih, dan kecewa. Dengan begitu, anak perlahan belajar menyampaikan perasaannya melalui kata-kata, bukan hanya tangisan.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Profesional?

Tantrum umumnya berkurang seiring bertambahnya usia dan berkembangnya kemampuan mengelola emosi. Namun, jika anak semakin sering tantrum sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai perilaku melukai diri sendiri maupun orang lain, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau psikolog anak.

Untuk menghadapi anak tantrum memang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Anak tidak hanya membutuhkan batasan, tetapi juga pendampingan untuk belajar memahami emosinya. Dengan dukungan yang tepat, ia dapat perlahan mengembangkan kemampuan mengendalikan diri.

Artikel lainnya terkait anak dan orang tua juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait ANAK DAN ORANG TUA atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih