diajeng.id - Sebagian besar orang tua pasti pernah menghadapi anak yang tiba-tiba tantrum saat keinginannya tidak dituruti. Kondisi anak yang tantrum memang kadang bikin bingung dan kewalahan, apalagi jika terjadi di tempat umum.
Anak yang menangis histeris, berteriak, sampai berguling-guling di lantai merupakan beberapa gambaran mereka sedang tantrum. Sebenarnya, tantrum adalah hal yang wajar terjadi pada anak-anak, karena ini bagian dari proses tumbuh kembang anak.
Lantas, bagaimana cara mengatasi anak tantrum tanpa harus ikut terpancing emosi?
Apa Itu Tantrum pada Anak?
Seperti dijelaskan di atas, tantrum adalah kondisi anak dalam meluapkan emosinya ketika ia sedang frustasi, marah, atau kesulitan mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya.
Bentuknya bisa berupa tangisan kencang, teriakan, menendang-nendang, hingga melempar barang yang ada di sekitarnya.
Dikutip artikel di Nemours KidsHealth berjudul "Temper Tatrum", dijelaskan bahwa tantrum umumnya terjadi pada anak usia 1–3 tahun karena kemampuan bahasa dan pengendalian emosinya masih dalam tahap berkembang.
Penulis sendiri yang saat ini masih memiliki anak usia batita, perlu terus latihan sabar saat mengadapi anak yang sedang tantrum.
Pernah suatu waktu, ketika saya sedang dalam kondisi capek dan lelah setelah pulang dari kantor, sampai di rumah anak tiba-tiba menangis kencang. Hal ini tentu membuat kebingungan.
Ia menangis sampai 20 menit lamanya. Saya pun cuma bisa terdiam dan membiarkan ia melampiaskan kekesalannya.
Ajaibnya, cara ini ternyata cukup ampuh, anak saya pun berhenti menangis, ia tersenyum, lalu menunjuk susu yang menandakan bahwa sebenarnya ia pengen minum susu. Jadi, kalau saya pribadi, ketika anak tantrum, saya biarkan saja melampiaskan sepuasnya, lalu peluk dengan hangat, karena pelukan hangat juga dapat membuat anak jadi merasa lebih tenang.
Penyebab Anak Bisa Tantrum
Anak tantrum sebenarnya bisa terjadi karena beberapa hal umum, di antaranya anak merasa lapar, anak kelelahan, kurang tidur, atau keinginannya yang tidak terpenuhi. Selain itu, anak juga bisa stres dan marah saat ia sulit melakukan hal-hal yang diinginkan atau merasa tidak dipahami apa maunya.
Menurut laman Raising Children Network, stres, stimulasi berlebihan, dan emosi yang terlalu kuat juga dapat membuat anak kesulitan mengendalikan perilakunya.
Oleh karena itu, sebagai orang tua, penting untuk memahami apa saja pemicu tantrum pada anak, bukan sekadar berfokus menghentikan tangisannya.
Cara Menghadapi Anak Tantrum
Ketika anak tantrum, hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah berusaha tetap tenang. Meski panik, orang tua jangan sampai ikut berteriak dan memarahi si kecil, karena kondisi tersebut justru bisa memperburuk situasi.
Kemudian, pastikan saat ia tantrum berada di tempat yang aman, terutama jika sudah dalam kondisi menendang dan melempar benda-benda yang ada di sekitarnya. Jauhkan segala benda berbahaya yang bisa melukai dirinya
Ingat pula, untuk tidak menuruti apa-apa yang menjadi keinginannya hanya agar anak berhenti menangis.
Sebagai orang tua, perlu untuk tetap bersikap konsisten dengan batasan yang sudah ditetapkan, sambil menunjukkan bahwa perasaannya tetap dipahami.
Setelah anak tenang, ajak ia membicarakan apa yang terjadi dan bantu menemukan cara lain untuk mengungkapkan emosinya.
Cara Mencegah Anak Tantrum
Tantrum tidak selalu bisa dicegah, tetapi risikonya dapat dikurangi. Pastikan anak cukup tidur dan makan sebelum beraktivitas. Berikan pilihan sederhana, misalnya memilih baju atau camilan, agar ia merasa memiliki kendali.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Profesional?
Tantrum umumnya berkurang seiring bertambahnya usia dan berkembangnya kemampuan mengelola emosi. Namun, jika anak semakin sering tantrum sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai perilaku melukai diri sendiri maupun orang lain, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau psikolog anak.
Untuk menghadapi anak tantrum memang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Anak tidak hanya membutuhkan batasan, tetapi juga pendampingan untuk belajar memahami emosinya. Dengan dukungan yang tepat, ia dapat perlahan mengembangkan kemampuan mengendalikan diri.
Artikel lainnya terkait anak dan orang tua juga bisa dibaca di sini.
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih