Menuju konten utama

Tren Butter Mom: Gaya Pengasuhan Hangat ala Dekade 90-an

Di TikTok dan Instagram, tren ini berkembang menjadi gambaran parenting dan gaya hidup lebih santai, hangat, serta tidak terobsesi pada kesempurnaan.

Tren Butter Mom: Gaya Pengasuhan Hangat ala Dekade 90-an
Header diajeng Tren Butter Mom. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Dunia parenting era modern diwarnai dengan tren pengasuhan yang datang silih-berganti, masing-masing hampir selalu menuntut sosok ibu untuk menjadi ideal.

Misalnya, almond mom yang serba rapi dalam menyiapkan makanan sesuai kalori yang direkomendasikan dokter. Ada pula beige mom yang perfeksionis menata warna-warna kalem untuk fesyen dan ruangan anak.

Baru-baru ini, kita mendengar istilah butter mom. Sebutan ini menggambarkan sosok ibu yang memilih kehangatan dan kehadiran dibandingkan mengejar kesempurnaan.

Bagi butter mom, rumah tidak harus selalu rapi, rutinitas tidak harus sempurna, dan masa kecil anak tidak perlu dibanjiri dengan tekanan untuk terlihat ideal. Yang lebih penting adalah menciptakan rumah yang terasa aman, hangat, dan penuh kenangan.

Ketika Rumah Tak Harus Selalu Sempurna

Bagi Andina (40), menjadi butter mom bukan berarti membebaskan anak tanpa aturan. Andina menyebut gaya pengasuhannya sebagai “no ribet-ribet club”. Ada aturan yang tetap berlaku, tetapi menurutnya tidak perlu diterapkan secara terlalu ketat.

"Aku memperbolehkan anak-anakku melakukan sesuatu, makan sesuatu yang 'biasa' aja. Itu ya, kalau sebelumnya mereka sudah melakukan tugas dan kewajiban mereka. Yang pasti aku enggak termasuk emak-emak perfeksionis dengan standar-standar tertentu. Kayak yang capek aja gitu," ujar Andina saat berbincang dengan Diajeng baru-baru ini.

Menurut Andina, selama aktivitas anak masih berada dalam koridor yang wajar, dia memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkannya.

"Misal boleh main HP, nonton TV, makan manis-manis, selama kadarnya dirasa wajar. Tapi kalau sudah enggak wajar, ya aku setop dengan ala-ala VOC," ucapnya.

Pola tersebut bahkan sudah Andina terapkan sejak awal mengasuh anak, yang menurutnya sedikit banyak juga terpengaruh dari pola asuh orang tuanya.

Baginya, kelonggaran tersebut tidak membuat anak kehilangan batas. Andina dan anak-anaknya tetap memiliki kesepakatan mengenai perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Hasilnya, Adina merasa anak-anak masih berada dalam jalur yang diharapkan. Bahkan, anaknya yang sudah duduk di bangku SMA masih sering mencari dirinya ketika membutuhkan sesuatu, meski hubungan mereka juga diwarnai perdebatan.

"Masih antar-jemput juga, karena aku sama ayahnya belum kasih izin naik motor sendiri ke sekolah. Intinya sih, anak-anak lebih mudah dikendalikan kelakuannya baik di dalam ataupun di luar rumah sesuai dengan kesepakatan kami bersama di rumah, ada standar minimumnya. Begitu kira-kira," tukas Andina.

Pengalaman serupa dirasakan Manda (33).

Manda merasa gaya pengasuhannya sudah mengarah pada prinsip butter mom sejak memiliki anak pertama pada 2019. Saat itu, Manda tinggal bersama mertua dan sempat menghadapi perbedaan pandangan mengenai cara merawat bayi. Namun, Manda memilih mengikuti cara yang menurutnya lebih nyaman dan aman bagi anak.

"Ya pasti tahu, biasanya orang tua lebih punya kecenderungan mengasuh menggunakan pola 'zaman dulu', terlebih aku juga seorang ibu yang melahirkan secara caesar. Aku merasa kalo aku butter mom itu karena aku menerapkan pengasuhan yang paling minim banget seperti jarang membedong bayi baru lahir dan memakaikan topi saat dia tidur. Karena saat itu aku pernah sekali menurut [memakaikan topi saat bayi tidur] terus enggak sadar aku ketiduran, eh pas bangun topi itu turun hampir menutupi hidung anakku, refleks aku langsung lepas dan sejak itu aku bertekad enggak pernah pakai topi lagi selama bayiku tidur," terang Manda.

Dalam keseharian, prinsip tersebut juga terlihat dari caranya menyikapi makanan dan kondisi rumah. Anak tetap boleh menikmati es krim, camilan, atau mi instan, tetapi dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan dan porsinya. Rumah pun tak harus selalu rapi.

"Aku enggak pernah ribet harus selalu rapi atau selalu diberesin. Dulu pernah suami pulang kerja, terus capek lihat rumah berantakan, tapi posisinya aku juga WFH saat itu zaman COVID-19, malah aku suruh dia beresin kalau memang pengen rapi," ucap Manda sembari tergelak.

Selebihnya, lanjut Manda, suaminya juga tidak pernah komplain kalau rumah berantakan. Meski demikian, bukan berarti Manda tidak mengajarkan tanggung jawab perihal membereskan mainan ke anak-anaknya.

"Biasanya aku meminta anak-anak membereskan kalau memang sudah mau tidur siang/ malam. Tapi kalau mereka lagi enggak mood, dan aku juga malas karena capek, ya sudah aku biarin aja. Biasanya kadang sampai besok pagi, terus dipakai main lagi.. Hahahaha," imbuh Manda.

Bagi Manda, rumah yang sedikit berantakan bukan masalah besar selama anak sehat dan suasana keluarga tetap nyaman. Manda juga percaya bahwa kelonggaran bukan berarti tidak ada batas. Anak tetap diajarkan memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Menurutnya, hasil yang paling terasa adalah anak menjadi lebih mudah diarahkan karena memahami alasan di balik aturan. Mereka juga tidak merasa perlu diam-diam melakukan sesuatu yang dilarang.

“Sama ibunya, kamu enggak perlu takut buat mengekspresikan atau mengatakan apa keinginan yang kamu inginkan,” menjadi prinsip yang ia pegang dalam membangun hubungan dengan anak.

"Selayaknya manusia, anak juga sama halnya seperti kita orang dewasa punya selera makan, punya mood makan, punya rasa ingin mencoba makanan lain, punya makanan favorit dan tidak. Plusnya, anak pertamaku dulu GTM sekarang tidak, begitu pun anak keduaku tidak GTM, anak ketigaku 8 bulan juga enggak GTM, walau biasa beli makan beli bubur sehat yang instan," tukas Manda.

Kapan Tren Butter Mom Mulai Berkembang?

Realitasnya, butter mom bukanlah sekadar istilah untuk menggambarkan ibu yang membiarkan rumah berantakan atau lebih longgar soal makanan.

Di media sosial seperti TikTok dan Instagram, tren ini berkembang sebagai gambaran tentang pola pengasuhan dan gaya hidup yang lebih santai, hangat, serta tidak terlalu terobsesi pada kesempurnaan.

Dalam artikel The Everymom berjudul “Why I’m Craving a ‘Butter Mom’ Summer”, butter mom digambarkan sebagai sosok yang mengurangi dorongan untuk mengoptimalkan setiap rutinitas.

Alih-alih terus mengejar jadwal yang sempurna, butter mom lebih mengandalkan intuisi, memperlambat ritme keluarga, dan menikmati hal-hal sederhana yang sudah ada di sekitarnya.

Istilah “butter" tidak merujuk pada makanan atau aturan terkait makanan, melainkan simbol kehangatan, kelembutan, kenyamanan, dan kehidupan yang terasa penuh.

Label butter mom identik dengan tambahan “90s” di depannya. Pada esensinya, narasi ini mengandung unsur nostalgia terhadap kehidupan keluarga era dekade 1990-an.

Gambaran yang muncul antara lain makanan rumahan, suasana rumah yang nyaman, gaya berpakaian kasual seperti denim, kaos, dan kardigan, serta aktivitas santai bersama anak.

Tren ini juga diposisikan sebagai kebalikan dari narasi almond mom yang identik dengan pembatasan makanan dan budaya diet.

Butter mom di media sosial banyak bermain pada visual keseharian yang terasa hangat, spontan, dan tidak terlalu dikurasi.

Aktivitas yang biasa ditampilkan seperti memasak atau membuat kue bersama anak, bermain di halaman, piknik, pergi ke perpustakaan, makan di luar rumah, hingga membiarkan anak bermain tanpa jadwal yang terlalu padat.

Daya tarik narasi butter mom salah satunya terletak pada tawaran untuk melepaskan diri dari tekanan untuk menjadi orang tua yang selalu melakukan semuanya dengan benar.

Di tengah kehidupan yang semakin cepat, penuh jadwal, notifikasi smartphone, dan tuntutan untuk mengoptimalkan setiap aspek pengasuhan, butter mom menawarkan gagasan bahwa waktu berkualitas dan momen kecil bersama anak juga memiliki nilai berarti.

Alih-alih menuntut estetika tertentu, menjadi butter mom bisa dilihat sebagai upaya orang tua dalam memberi dirinya sendiri ruang untuk menjalani hari dengan lebih santai dan memercayai intuisinya.

Plus-Minus Butter Mom

Meski begitu, popularitas butter mom tetap perlu dilihat secara bijaksana. Laman Parents mencatat bahwa gambaran “ibu 1990-an” yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya menggambarkan kenyataan pada masa tersebut.

Budaya diet juga sangat kuat pada era itu, sehingga romantisasi kehidupan 1990-an sebagai masa yang santai dan bebas tekanan dapat menjadi penyederhanaan sejarah.

Butter mom lebih tepat dipahami bukan sebagai standar baru yang harus diikuti setiap ibu, melainkan narasi kerinduan terhadap pengasuhan yang lebih hangat, pragmatis, dan tidak terlalu dibebani tuntutan untuk selalu sempurna.

Tantangannya adalah jangan sampai tren yang awalnya ingin membebaskan ibu dari tekanan berubah menjadi standar baru tentang seperti apa “ibu yang santai dan ideal” seharusnya.

Seperti disampaikan Andina dan Manda, butter mom tidak bisa dimaknai sesempit menghilangkan aturan dalam pengasuhan. Dalam konteks yang sehat, kelonggaran yang diberikan butter mom berjalan beriringan dengan batas, kesepakatan, dan komunikasi.

Kesempurnaan boleh dikesampingkan, tetapi rasa aman dan kepercayaan antara anak dan orang tua tetap menjadi pegangan.

Artikel lainnya seputar pola asuh anak bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait POLA ASUH ORANG TUA atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih