Menuju konten utama

Memahami Influenza A: Cara Mencegah & Mengatasinya

Influenza A adalah jenis yang paling sering menyebabkan wabah musiman dan memiliki tingkat keparahan lebih tinggi dibandingkan Influenza B atau C.

Memahami Influenza A: Cara Mencegah & Mengatasinya
Header diajeng Influenza. tirto.id/Quita

diajeng.id - Akhir-akhir ini, masyarakat kembali diresahkan oleh pemberitaan terkait lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan. Banyak orang mengeluhkan gejala flu yang terasa lebih berat dan menular dengan sangat cepat dalam satu keluarga atau lingkungan kerja.

Berdasarkan data yang dihimpun The European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) dan WHO sejak 1 September hingga 30 Agustus 2026, lonjakan ini sebagian besar dipicu oleh peningkatan kasus Influenza A, termasuk subtipe H3N2 dan H1N1.

Apa sebenarnya Influenza A? Mengapa kasusnya bisa meningkat? Bagaimana langkah paling efektif untuk melindungi diri serta keluarga?

Ciri dan Tanda Virus Influenza A

Kita sering menganggap flu sebagai penyakit ringan biasa atau sekadar common cold (selesma). Padahal, keduanya berbeda.

Dalam Seminar Media “Mewaspadai Influenza pada Anak di Tengah Cuaca kemarau Panjang” yang diadakan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Jumat, 18 September 2026, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A(K) dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI menegaskan bahwa influenza cenderung lebih berat daripada penyakit flu biasa.

"Tidak sama influenza atau flu dengan selesma atau common flu. Influenza itu lebih berat dan begitu dia masuk, dia akan mengikuti bagaimana RNA DNA genetik kita, sehingga dia bisa memperbanyak dirinya di dalam sel kita sampai sel kita rusak, kemudian dia akan dikeluarkan. Begitu dikeluarkan, dia ke jaringan-jaringan untuk pernafasan yang menyebabkan adanya peradangan. Peradangan ini yang memperlihatkan tanda dan gejala sakit yang bisa pulih berminggu-minggu," jelas Prof. Anggraini.

Influenza, lanjut Prof. Anggraini, disebabkan oleh virus dari keluarga Orthomyxoviridae. Dari beberapa tipe virus influenza, Influenza A adalah jenis yang paling sering menyebabkan wabah musiman dan memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan Influenza B atau C.

Virus Influenza A memiliki kemampuan untuk terus bermutasi. Perubahan kecil pada struktur permukaan virusnya, yang dikenal sebagai antigenic drift, membuat sistem kekebalan tubuh kita kadan-kadang tidak mengenali varian baru tersebut secara maksimal.

Akibatnya, seseorang yang pernah terkena flu di masa lalu masih bisa terinfeksi kembali oleh varian Influenza A yang baru bersirkulasi.

"Namanya penularan, ya bisa langsung, bisa enggak langsung. Karena kita bersin, tangan kita pegang laptop, pegang HP, pegang knop dari pintu. Segala macam itu bisa menularkan, baik ini secara tidak langsung dan bisa dalam 2 meter virusnya menular," ujar Prof. Anggraini.

Virus juga dapat bertahan hidup pada permukaan benda keras hingga 24–48 jam. Ketika tangan kita menyentuh permukaan terkontaminasi lalu memegang hidung, mata, atau mulut, virus dengan mudah masuk ke dalam tubuh.

"Jadi jangan lupa nomor satu justru kita cegah yaitu dengan etiket untuk batuk ya. Kalau batuk tutup pakai masker," imbuhnya.

Gejala dan Kelompok Paling Berisiko

Gejala Influenza A umumnya muncul secara mendadak.

Berbeda dengan batuk pilek biasa yang timbul bertahap, flu akibat Influenza A sering diawali dengan demam tinggi secara tiba-tiba, sakit kepala, nyeri otot dan sendi yang berat, rasa lelah luar biasa, batuk kering, serta tenggorokan sakit.

Meskipun sebagian besar orang dewasa sehat dapat pulih dalam waktu 7 hingga 14 hari, influenza tidak boleh diremehkan.

Virus ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia (infeksi paru-paru), peradangan otot jantung, hingga memperburuk kondisi medis kronis yang sudah ada.

"Secara data memang Indonesia dibandingkan dengan tahun lalu tidak menunjukkan suatu peningkatan. Namun terasanya banyak, termasuk juga di rumah sakit saya meningkat flu-nya, apalagi kemarin ada superflu," ucap Prof. Anggraini.

Prof. Anggraini menyebutkan beberapa kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi berat. Pertama, anak-anak, terutama di bawah usia 5 tahun. Anak-anak memiliki sistem imun yang belum matang dan cenderung mengeluarkan jumlah virus lebih banyak serta dalam jangka waktu yang lebih lama.

Selain itu, lansia (usia 65 tahun ke atas), ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta (komorbid), seperti asma, penyakit jantung, ginjal, atau diabetes.

Langkah Efektif Mengatasi dan Mencegah Influenza A

Penanganan dan pencegahan harus dilakukan secara beriringan untuk menekan laju penyebaran Influenza A.

1. Pencegahan Non-Vaksin (Protokol Kesehatan)

Langkah awal yang sangat krusial adalah menerapkan kebiasaan hidup bersih; mencuci tangan secara teratur menggunakan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer.

Menerapkan etika batuk dan bersin, yaitu menutup mulut dan hidung menggunakan siku bagian dalam atau tisu disposable.

Menggunakan masker saat berada di tempat keramaian atau ketika sedang mengalami gejala batuk dan pilek. Melakukan isolasi mandiri saat sakit.

"Anak sekolah atau pekerja yang terinfeksi disarankan untuk beristirahat di rumah setidaknya hingga bebas demam selama 24 jam tanpa obat penurun panas," ujar Prof. Anggraini.

2. Vaksinasi Influenza Tahunan

Vaksinasi, menurut Prof. Anggraini, merupakan perlindungan terbaik dan paling efektif untuk mencegah infeksi berat serta komplikasi akibat influenza.

IDAI dan WHO merekomendasikan pemberian vaksin influenza tahunan mulai dari anak usia 6 bulan ke atas hingga dewasa. Karena virus influenza terus bermutasi, vaksin perlu diperbarui dan diberikan setiap satu tahun sekali.

3. Pengobatan yang Tepat

Jika terinfeksi, fokus utama pengobatan adalah istirahat yang cukup, menjaga hidrasi tubuh, dan meredakan gejala.

Pada kelompok berisiko tinggi atau kondisi berat, dokter dapat memberikan terapi antivirus seperti neuraminidase inhibitor (misalnya Oseltamivir).

Penting untuk diingat bahwa antibiotik tidak efektif untuk mengobati influenza karena penyakit ini disebabkan oleh virus, bukan bakteri.

Prof. Anggraini menyampaikan, meningkatnya kasus Influenza A adalah pengingat bagi kita semua untuk tidak mengabaikan kesehatan saluran pernapasan.

Dengan memahami cara penularannya, menjaga kebersihan diri, melakukan vaksinasi tahunan, serta bijak beristirahat saat sakit, kita tidak hanya melindungi diri sendiri tetapi juga menjaga anak-anak dan lansia di sekitar kita.

Artikel lainnya seputar kesehatan juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait SC KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih