diajeng.id - Saat menjalin hubungan asmara dengan seseorang, kamu kemungkinan besar sering bertukar cerita lewat pesan di ponsel, entah itu cerita tentang pekerjaan, kondisi di rumah, kejadian lucu yang dialami, bahkan tentang hal-hal kecil yang terjadi.
Menulis pesan panjang ke pasangan tentang hari-hari yang kamu alami, tentu butuh effort, namun bagaimana jika balasan yang didapat tak sesuai yang diinginkan, misalnya "Ooh", "Oke", "Ya", "Hhmm", atau hanya sekadar emoji? Pada awalnya, mungkin ini bukanlah masalah, tapi jika terjadi terus-menerus, rasanya seperti ngomong sendirian.
Dalam dunia kencan modern, fenomena komunikasi ini dikenal dengan istilah dry texting. Jika kamu pernah mengalaminya, situasi ini mungkin akan membuat kamu bertanya-tanya, apakah kekasihmu memang benar-benar sedang sibuk, tipe orang yang sukanya menulis pesan singkat, atau bahkan dia mulai tak tertarik denganmu lagi?
Apa Itu Dry Texting?
Secara sederhana, dry texting adalah kebiasaan membalas pesan dengan sangat singkat, datar, dan minim respons untuk melanjutkan percakapan. Misalnya, hanya menjawab "Iya", "Oke", "Haha", atau "Terserah" tanpa memberikan pertanyaan maupun tanggapan lebih lanjut.
Arti dry texting dalam hubungan juga bisa sebagai kebiasaan untuk membuat komunikasi terasa kurang hangat, terutama jika salah satu pasangan terbiasa berbagi cerita melalui pesan panjang.
British Vogue dalam artikelnya berjudul "Take It From A Dry Texter: Short Messages Don't Mean Someone Isn't Interested" menjelaskan bahwa orang yang terbiasa membalas pesan singkat belum tentu tidak memiliki ketertarikan. Sebagian orang memang lebih nyaman berkomunikasi secara langsung daripada terus-menerus bertukar pesan melalui ponsel.
Apa Penyebab Pasangan Melakukan Dry Texting?
Lalu, apa saja alasan yang mungkin membuat pasangan bisa menjadi seorang dry texter?
Hal pertama, adanya perbedaan gaya komunikasi. Setiap pasangan bukanlah orang yang sama. Artikel American Psychological Association (APA) tahun 2018 berjudul "It's Complicated: Our Relationship with Texting", mengulas penelitian terhadap 205 orang dewasa berusia 18–29 tahun.
Penyebab kedua, karena sedang sibuk atau merasa lelah. Pekerjaan, tekanan sehari-hari, atau kondisi emosional tertentu bisa membuat seseorang tidak memiliki cukup energi untuk membalas pesan dengan antusias.
Kemudian yang ketiga, adalah kurang nyaman dengan komunikasi melalui chat. Ada orang yang lebih ekspresif ketika bertemu langsung atau berbicara melalui telepon.
Meski demikian, jika awalnya pasangan selalu antusias membalas pesan, lalu belakangan berubah malah sering membalas dengan singkat atau menghindari obrolan, maka perubahan kebiasaan ini patut diperhatikan, dan mungkin ada persoalan dalam hubungan yang perlu dibicarakan.
Cara Menghadapi Pasangan yang Dry Texting
Untuk menyikapinya, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan tanpa harus terus-menerus merasa diabaikan.
Langkah pertama, menurut situs LoveGraft, jangan langsung berasumsi negatif. Karena balasan singkat tidak selalu berarti pasangan kehilangan perasaan. Coba perhatikan bagaimana sikapnya ketika bertemu langsung, apakah masih menunjukkan perhatian dan meluangkan waktu bersama.
Selanjutnya, cari cara komunikasi yang lebih nyaman. Jika pasangan kurang suka mengetik panjang, cobalah bertukar pesan suara, melakukan panggilan telepon, atau menjadwalkan waktu untuk berbincang.
Selain itu, perhatikan pula konsistensi sikapnya. Jangan hanya menilai hubungan dari panjang pendeknya pesan. Perhatikan pula perhatian, kepedulian, dan usahanya menjaga hubungan di luar percakapan digital.
Menghadapi dry texting bukan tentang memaksa pasangan menjadi seseorang yang gemar mengirim pesan panjang. Yang lebih penting adalah menemukan pola komunikasi yang membuat kedua pihak merasa didengar, dihargai, dan tetap terhubung.
Artikel lainnya seputar relasi juga bisa dibaca di tautan ini.
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih