Menuju konten utama

Left on Read: Sudah Dibaca, Tak Kunjung Dibalas

Situasi left on read tidak selalu berarti kabar buruk. Ada beberapa alasan utama di balik munculnya tanda dibaca tanpa balasan.

Left on Read: Sudah Dibaca, Tak Kunjung Dibalas
Header diajeng chat di-read. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Komunikasi merupakan elemen penting saat kita menjalin hubungan dengan seseorang, apalagi jika kita memang tidak sedang bertatap muka langsung.

Dalam konteks hubungan jarak jauh (LDR), komunikasi umumnya dilakukan dengan mengirimkan pesan teks atau chat via WhatsApp. Namun, bagaimana jadinya jika teks yang kita kirimkan sering berakhir hanya dibaca saja tanpa dibalas?

Fenomena yang dikenal luas sebagai "left on read" ini kerap memicu rasa cemas, bingung, hingga berpikiran bahwa pasangan atau gebetan sudah tidak tertarik lagi dengan kita.

"Sebel sih kalau pas ngirim chat ke pacarku, terus enggak dibalas atau lama banget balasnya berhari-hari, padahal aku tahu dia bacanya enggak lama setelah aku kirim pesan," kata Nia (30), perempuan asal Medan saat berbincang dengan Diajeng baru-baru ini.

Nia mengatakan, chat yang dibalas kadang-kadang jadi pemicu pertengkaran dengan kekasihnya. Salah satu alasan yang sering disampaikan kekasihnya adalah sibuk kerja.

"Paling sering itu (alasan) katanya karena dia pas sibuk sama kerjaannya. Mungkin dia enggak mikir akunya sudah effort dan mau meluangkan waktu juga buat ngirim chat aja. Makanya kalau tahu cuma di read aja, aku kadang suka bikin story yang nyenggol-nyenggol gitu, hehe," jelas Nia.

Chat yang dikirim, lanjut Nia yang baru bertemu sang kekasih 1-2 minggu sekali karena mereka menjalani LDR, biasanya juga hal-hal sepele, mulai dari sekadar bertanya apakah sudah makan, hingga pertanyaan seputar pekerjaannya.

"Sudah tahu kami enggak sering ketemu, komunikasi kan, penting, makanya buat menjawab chat harusnya prioritas juga supaya menjaga hubungan bisa tetap jalan. Kalau balas chat dari sekarang sudah malas-malasan gimana ke depannya?" ucap Nia.

Nia pun mencoba memahami kesibukan pasangannya itu. Meski demikian, dia mengaku belum tahu hubungannya ke depan akan menjadi seperti apa, "Ya, belum bisa mastiin juga, nanti kita lihat saja."

Mengapa Chat Hanya di-Read?

Para pakar hubungan menyebutkan, situasi left on read tidak selalu berarti kabar buruk. Ada beberapa alasan utama di balik munculnya tanda dibaca tanpa balasan.

Dilansir Cosmopolitan, salah satu alasan yang sering terjadi adalah karena kamu bukanlah prioritas saat chat itu dibaca. Pakar hubungan Chivonne Henry menjelaskan bahwa ditinggalkan di status read berarti kamu bukanlah prioritas pada menit atau jam tersebut.

Orang tersebut mungkin sedang sibuk bekerja, berada dalam rapat, atau terdistraksi hal lain.

Alasan berikutnya, karena adanya perbedaan gaya komunikasi. Menurut Rachel Mahoney, pakar hubungan di The League, setiap orang memiliki kecepatan dan kebiasaan bertukar pesan yang berbeda.

"Tidak semua orang memiliki ritme atau kecepatan komunikasi yang sama dengan dirimu. Ada orang yang secara alami lebih sering memegang ponsel dan lebih cepat dalam membalas pesan," ujar Mahoney.

Selanjutnya, adalah karena jenis pesan yang dikirim tidak begitu jelas. Pesan yang terlalu samar seperti "kapan-kapan kita jalan yuk" tidak memberikan dorongan yang jelas untuk dibalas.

Selain itu, beberapa pesan seperti ucapan atau pernyataan santai memang tidak membutuhkan balasan mendesak.

Alih-alih mengirim pesan yang tidak spesifik, pakar kencan Tennesha Wood menyarankan agar menyampaikan keinginanmu secara langsung dengan kalimat seperti, "Aku mau ketemu, bisa malam ini?"

Alasan keempat adalah efek lain setelah membaca pesan. Keberadaan fitur laporan "read/dibaca" atau centang biru terbukti meningkatkan rasa cemas dan dorongan untuk terus memeriksa smartphone. Saat mengetahui pesan telah dibuka tapi tak kunjung dibalas, pikiran kita secara otomatis membayangkan skenario terburuk.

Alasan berikutnya, memang kehilangan ketertarikan. Pakar perjodohan Susan Trombetti mengakui bahwa left on read kadang-kadang memang menandakan lawan bicara kurang tertarik dan memilih menghindari percakapan yang canggung.

"Dan, apa pun yang terjadi, jangan mengirim pesan bernada marah atau sinis jika kamu tidak mendapatkan balasan," saran Trombetti.

Harus Bagaimana? Sikap yang Sebaiknya Diambil

Agar tidak terjebak dalam pusaran overthinking, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan bersabar dan periksa kembali pesan yang terakhir kamu kirimkan.

Laman VICE mengingatkan untuk mengevaluasi apakah pesan tersebut memiliki tujuan yang jelas, ataukah sekadar ucapan santai yang secara spontan mengakhiri percakapan.

Kamu juga sebaiknya tidak mengirim pesan beruntun (double-text atau triple-text) untuk menunjukkan kekesalan. Cobalah tunggu hingga dua hari sebelum mengirimkan satu pesan susulan yang kasual dan santai, apabila langkah tersebut memang diperlukan.

Berikutnya, komunikasi secara transparan. Apabila hubungan terus berlanjut tetapi kebiasaan bertukar pesan membuat kamu merasa tidak nyaman, sampaikan hal tersebut dengan terbuka tanpa menyalahkan lawan bicara.

Jangan lupa untuk fokus pada diri sendiri. Jangan biarkan teks yang belum dibalas mengalihkan seluruh perhatianmu. Terus-menerus menunggu balasan orang hanya akan memosisikan dirimu sebagai prioritas sekunder. Tetap perhatikan kondisi diri dan fokus apa yang bisa membuat kamu jadi bahagia.

Selain itu, kenali juga polanya dan bersiaplah untuk move on.

Apabila orang tersebut konsisten menghilang tanpa kabar selama berhari-hari, hal itu mencerminkan pola hubungan serta ketersediaan emosional mereka. Ingatlah bahwa kurangnya ketertarikan orang lain sama sekali bukan cerminan dari nilai atau daya tarik dirimu.

Pengalaman left on read memang bisa menguji kesabaran, akan tetapi dengan memahami ritme komunikasi orang lain serta tetap menghargai diri sendiri, kita dapat menyikapi dinamika pesan digital ini dengan lebih tenang dan dewasa.

Artikel lainnya seputar relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih