diajeng.id - Double texting merujuk pada kebiasaan mengirim pesan kedua atau beberapa pesan sekaligus sebelum lawan bicara membalas pesan pertama.
Wujudnya bisa sesimpel menambahkan koreksi singkat, hingga cukup padat berisi banyak pesan dalam hitungan jam atau hari tanpa respons.
Meski terkesan sepele, kebiasaan ini sering dipicu oleh berbagai situasi yang tanpa disadari membuat kita merasa perlu “mengejar” balasan. Di sisi lain, double-texting bisa terjadi karena berbagai alasan dan tidak selalu negatif.
Dalam beberapa situasi, keputusan melakukan double-texting muncul secara spontan. Misalnya, kamu tiba-tiba teringat hal yang ingin dibagikan atau perlu menambahkan informasi yang terlewat dari pesan sebelumnya.
Bahkan, insecurity alias rasa tidak aman dan takut kehilangan ketertarikan dari lawan bicara juga bisa membuat kita lebih sering melakukan double-texting.
Kapan Sebaiknya Double-texting Dilakukan?
Double-texting sebaiknya dilakukan pada momen yang tepat, seperti saat perlu menambahkan informasi penting atau memastikan pesan benar-benar tersampaikan tanpa terkesan memaksa. Berikut ini adalah waktu yang bisa dipertimbangkan untuk melakukan double-texting.
1. Mengklarifikasi Informasi
Contoh mengirim pesan klarifikasi meliputi memperbaiki typo, memperbarui rencana, atau menambahkan detail yang sempat terlupa. Salah satunya menambahkan chat berikut, “Eh, meeting-nya jadinya jam 3 ya, bukan jam 2,” atau, "Jangan lupa nanti dokumen di map cokelat dibawa, ya!"
Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
2. Follow-up Setelah Beberapa Hari, Bukan Jam
Jika chat pertanyaan darimu sudah 2-3 hari belum dibalas oleh penerima pesan, kamu bisa-bisa saja mengirimkan pesan lanjutan yang sopan, misalnya, “Hai! Cuma mau follow-up tentang yang kemarin...”
Teks tersebut masih tergolong wajar karena bukan bentuk kecemasan, melainkan upaya menjaga komunikasi tetap berjalan.
3. Berbagi Hal Baru yang Relevan
Saat kamu menemukan meme, artikel, atau sesuatu yang mengingatkan pada obrolan sebelumnya. Mengirimkannya tanpa menunggu balasan pesan terakhir termasuk komunikasi yang spontan, bukan artinya kamu butuh perhatian berlebihan.
4. Kebiasaan Gaya Komunikasi
Dalam hubungan tertentu, saling mengirim beberapa pesan berturut-turut memang sudah jadi kebiasaan. Jika sejak awal gaya komunikasinya seperti itu, maka double-texting bukanlah masalah.
Pada konteks tersebut, double-texting merupakan bagian dari cara berkomunikasi yang sudah nyaman bagi kedua pihak.
Kapan Double-texting Tidak Boleh Dilakukan?
Double-texting sebaiknya dihindari ketika kamu mulai ingin memaksa atau merasa cemas, terutama jika lawan bicara belum memberi respons dalam waktu singkat atau menunjukkan tanda tidak tertarik.
Berikut adalah tanda bahwa kamu sebaiknya mempertimbangkan ulang sebelum melakukan double-texting.
1. Mengirim Pesan Bertubi-tubi Tanpa Balasan
Kalau kamu sudah mengirim banyak pesan sekaligus tapi belum juga dibalas, kesannya malah jadi terlalu memaksa. Selain mengganggu alur percakapan, lawan bicaramu bisa jadi merasa tidak nyaman.
2. Nada Chat Mulai Menekan
Apabila pesan-pesan lanjutan berubah jadi menuntut atau menyudutkan, seperti mempertanyakan alasan belum dibalas, hal tersebut bisa menunjukkan emosi yang kurang terkontrol dan keinginan untuk segera mendapat respons.
3. Tidak Tahan Menunggu Balasan
Kalau baru beberapa jam belum dibalas saja kamu sudah gelisah dan ingin terus mengirim pesan, bisa jadi ini tandanya kamu sulit menghadapi ketidakpastian dalam komunikasi.
4. Menyisipkan Rasa Bersalah
Mengirim pesan yang bernada menyalahkan atau meragukan lawan bicara termasuk cara komunikasi yang kurang sehat karena cenderung memanipulasi perasaan orang lain.
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih