Menuju konten utama

Topik yang Sebaiknya Dibahas Tatap Muka, Bukan Lewat Chat

Tidak jarang, tulisan atau teks yang disampaikan melalui layanan perpesanan singkat dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Topik yang Sebaiknya Dibahas Tatap Muka, Bukan Lewat Chat
Header diajeng Topik Bicara Langsung, FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Di tengah kemajuan teknologi yang serbacepat, cara kita berkomunikasi pun ikut berubah menjadi lebih ringkas dan praktis. Selain panggilan telepon atau video daring, pesan teks semakin jadi andalan untuk berkomunikasi.

Namun begitu, tidak jarang, tulisan atau teks yang disampaikan melalui layanan perpesanan singkat dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Pada beberapa kejadian, pesan yang sudah telanjur dikirim menimbulkan penyesalan, atau sebaliknya, pesan yang diterima malah memicu salah paham hingga amarah.

Artinya, komunikasi lewat teks tidak selalu aman untuk membangun hubungan atau menjaga kualitasnya.

Tidak semua percakapan bisa berjalan mulus lewat layar.

Pada beberapa situasi, kehadiran dan interaksi secara tatap muka langsung tetap dibutuhkan agar makna dapat tersampaikan dengan utuh.

Lalu, tpik apa saja yang sebaiknya dihindari saat kita berkomunikasi lewat pesan teks?

Topik yang Sebaiknya Dibicarakan Langsung

Tidak semua hal cocok disampaikan lewat pesan singkat. Ada topik-topik tertentu yang jauh lebih efektif dibicarakan secara langsung agar tidak menimbulkan salah paham.

Komunikasi tatap muka memungkinkan ekspresi, intonasi, dan emosi tersampaikan dengan lebih jelas, sehingga pesan dapat ditangkap dengan tepat oleh si penerima informasi.

Berikut adalah beberapa rekomendasi topik yang sebaiknya dibicarakan langsung daripada disampaikan melalui teks.

1. Keluhan

Menyampaikan keluhan melalui pesan teks berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Tanpa intonasi dan ekspresi, penerima pesan tidak selalu dapat menangkap tingkat keseriusan yang dimaksud, apakah termasuk persoalan besar atau sekadar ungkapan kekesalan ringan.

2. Sindiran

Ungkapan bernada sindiran atau hinaan akan terasa lebih tajam ketika disampaikan melalui teks. Selain berisiko menyinggung perasaan, pesan seperti ini juga mudah disalahartikan dan menimbulkan penyesalan bagi kedua belah pihak di kemudian hari.

3. Penjelasan dan permintaan maaf

Penjelasan yang panjang atau permintaan maaf memerlukan kejelasan emosi dan konteks. Maka, tidak seharusnya maaf disampaikan melalui teks. Komunikasi langsung akan membantu pesan tersampaikan secara lebih utuh dan tulus.

4. Membicarakan perilaku orang lain

Pertanyaan mengenai sikap atau respons seseorang sebaiknya tidak disampaikan melalui pesan teks.

Diskusi secara langsung memberikan ruang bagi kedua belah pihak untuk saling menjelaskan tanpa memicu kesalahpahaman.

5. Kabar yang mengejutkan

Informasi penting atau mengejutkan, baik yang bersifat positif maupun negatif, lebih tepat disampaikan secara langsung.

Cara ini menunjukkan penghargaan sekaligus memastikan pesan diterima dengan baik.

6. Topik yang sensitif atau berat

Pembahasan mengenai isu serius seperti masalah keluarga, kesehatan, atau keuangan memerlukan komunikasi yang lebih mendalam. Idealnya, topik-topik ini tidak dibahas melalui pesan teks.

7. Informasi pribadi

Menyampaikan data atau informasi pribadi melalui pesan teks memiliki risiko keamanan. Informasi sensitif sebaiknya dijaga dan tidak dibagikan melalui media yang rentan.

Jika pun terpaksa mengirimkan foto identitas diri, pertimbangkan mekanisme keamanan seperti sandi rahasia untuk membuka atau memberikan penanda (watermark) pada gambar.

8. Rahasia

Hal-hal yang bersifat rahasia atau menyangkut privasi orang lain tidak sebaiknya dibagikan melalui pesan teks. Selalu ada kemungkinan pesan tersebut diakses oleh pihak yang tidak berwenang atau bermaksud kurang baik.

9. Mengungkapkan cinta secara berlebihan

Sebaiknya jangan menyampaikan perasaan cinta secara berlebihan, terutama jika hubungan yang dijalani belum cukup kuat atau masih belum memiliki kejelasan arah.

10. Menyebarkan gosip

Berbagi gosip melalui pesan teks berisiko tinggi, karena informasi tersebut bisa saja sampai ke pihak yang dibicarakan.

11. Menyampaikan kabar duka

Kabar seperti ini, terutama dalam lingkup anggota keluarga terdekat, sebaiknya disampaikan secara langsung atau lewat telepon.

Meskipun dalam kondisi hubungan tidak terlalu dekat pesan teks masih bisa digunakan, menghubungi secara langsung sebaiknya diupayakan untuk mempertimbangkan perasaan penerima kabar.

10. Mengakhiri hubungan

Memutuskan hubungan lewat teks terkesan kurang berempati dan tidak menghargai. Sebaiknya perpisahan dilakukan secara langsung atau setidaknya lewat telepon, kecuali jika hubungan tersebut masih sangat singkat.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih