diajeng.id - Belum lama ini, ramai di media sosial X unggahan foto screenshot percakapan WhatsApp antara seorang istri yang menjelaskan panjang lebar keresahannya karena suami menonton final sepak bola Piala Dunia 2026 dan terlarut dalam euforia dunia bola.
Tentu tidak ada yang keliru dari hak suami untuk bersantai menikmati hiburan pertandingan sepak bola. Namun, yang disorot dalam narasi ini adalah porsi tidak seimbang yang dihabiskan pihak laki-laki untuk menikmati hiburan dengan beban kepengurusan rumah tangga yang ditanggung lebih banyak oleh si pihak perempuan.
Meskipun terkesan sepele, kejadian seperti ini memicu kekecewaan pada salah satu pihak, yang akhirnya akan melontarkan itu semua dalam penjelasan panjang lebar atau overexplain.
Sebelum itu, kita juga sering menemukan konten berisi tangkapan layar hasil percakapan pihak perempuan yang panjang lebar dengan respons laki-laki singkat: "ya" atau "OK".
Tidak sedikit orang yang menganggap kecenderungan pihak perempuan untuk menyampaikan teks panjang lebar itu sebagai overreaction atau bereaksi berlebihan.
Di sisi lain, semua ini mungkin tidak akan terjadi jika kedua belah pihak sepakat untuk berkomunikasi secara lebih terbuka terkait maksud dan rencana aktivitasnya.
Pentingnya Jadi Partner yang Komunikatif
Kunci dari setiap hubungan yang langgeng adalah adanya komunikasi yang kuat.
Psikolog klinis, Shelley Sommerfeldt kepada Healthline mengatakan, komunikasi merupakan "alat" yang penting karena dapat menumbuhkan kepercayaan dan bisa mendukung setiap pihak yang terlibat agar semakin terkoneksi.
“Untuk memiliki hubungan yang terbuka, jujur, dan peka dengan pasangan, kita harus mampu berkomunikasi secara bebas dan sehat,” ujar Sommerfeldt.
Alih-alih menjadikan percakapan sebagai ajang debat yang harus dimenangkan, pasangan yang komunikatif akan berupaya saling memahami sudut pandang satu sama lain.
Misalnya, ketika ingin menegur pasangan yang terlalu fokus pada pekerjaan sampai melupakan kehidupan keluarga, gunakan kalimat seperti, "Aku dan anak-anak sedih lihat kamu fokus kerjaan terus, jadi lupa istirahat dan main sama keluarga."
Kalimat tersebut berusaha mengungkapkan perasaan tanpa terkesan menyalahkan pasangan, jauh lebih jelas daripada mengatakan, "Kamu fokusnya kok kerjaan terus, sih?"
Selain itu, rutin memeriksa suhu emosi atau suasana hati secara harian juga dapat mencegah terjadinya ledakan konflik di kemudian hari karena masalah yang dipendam.
Dengan komunikasi yang lancar, setiap perselisihan diarahkan untuk mencapai kompromi dan resolusi, sehingga hubungan terasa lebih kokoh dan kuat.
Hal penting lainnya adalah menetapkan batasan yang tegas untuk menghindari adanya kesalahpahaman dengan pasangan.
Misalnya, jika keuangan adalah topik sensitif, coba beri batasan untuk pembelian yang akan dilakukan. Setiap belanja sesuatu di atas harga Rp500 ribu, maka diskusikan terlebih dahulu. Apabila kedua belah pihak setuju, maka pembelian bisa dilakukan.
Memaknai Kehadiran untuk Kepuasan & Apresiasi
Selain komunikasi, bentuk perhatian dan kehadiran secara penuh kepada pasangan merupakan salah satu hadiah terbaik yang bisa diberikan dalam sebuah hubungan.
Dalam laman Psychology Today dijelaskan, kehadiran yang berkualitas membuat hidup terasa lebih bermakna dan meningkatkan kesejahteraan hubungan secara keseluruhan.
Kehadiran ini tidak sekadar dimaknai dengan keberadaan atau kedekatan kita secara fisik dengan pasangan, tetapi juga perhatian total yang kita berikan kepada pasangan tanpa teralihkan oleh gangguan luar atau pikiran sendiri.
Kehadiran yang memberikan kepuasan ini dapat diwujudkan melalui validasi mendalam (deep validation).
Bentuk apresiasi yang tulus akan terwujud ketika kita memilih untuk "hadir" di momen-momen penting dalam hidup pasangan, seperti saat pasangan sedang berbagi cerita atau membutuhkan dukungan emosional.
Dengan memahami nilai-nilai hubungan yang kita pegang, kita akan lebih termotivasi dan mau terus belajar untuk hadir secara utuh, sehingga pasangan merasa sangat dihargai dan dicintai dalam hubungan.
Artikel menarik lainnya seputar relasi dengan pasangan juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih