diajeng.id - Is work more than just doing your job?
Sekilas, aktivitas bekerja tak lebih dari rutinitas monoton; berangkat ke kantor, mengerjakan tugas, evaluasi, pulang ke rumah, lalu terima gaji di akhir bulan.
Memang betul, tugas adalah elemen utama dalam dunia kerja.
Namun, selain mengerjakan dan menyelesaikan tugas, dunia kerja juga menghadapkan kita dengan ekspektasi dari orang-orang sekitar seperti atasan dan kolega, bahkan dari diri sendiri yang mungkin berharap pada promosi atau kenaikan jabatan. Seiring itu, kita berinteraksi dan berkolaborasi dengan banyak orang.
Di tengah usaha untuk menyeimbangkan tugas, ekspektasi, dan relasi, kita juga berjumpa dengan uncertainty—ketidakpastian. Setelah bekerja selama beberapa waktu, biasanya muncul pertanyaan-pertanyaan menggelitik. Apa kita betul-betul memberikan kontribusi yang berdampak di tempat kerja? Sejauh mana batas tanggung jawab dan ruang lingkup peran yang kita emban?
Di luar itu semua, kita tetaplah makhluk hidup yang digerakkan oleh perasaan. Di tempat kerja, kondisi emosional kita dipengaruhi oleh dua ranah sekaligus; pencapaian profesional dan realitas kehidupan pribadi. Kelancaran kerja dan dinamika relasi keluarga serta sosial sama-sama ikut andil membentuk spektrum perasaan kita; bahagia, lega, marah, lelah, hingga sedih.
Hal inilah yang menjadi topik bahasan psikolog Novita Ciptasari Ramadhani dalam program webinar DVĀRA 2026 tentang dinamika dunia kerja yang diselenggarakan oleh penyedia layanan psikologis Sangtuari, AFCO, dan Grow Up Club pada Minggu (4/10).
Novita menegaskan bahwa aspek-aspek dalam pekerjaan, meliputi task, expectation, relationship, uncertainty, dan emotion, saling berkesinambungan dan memengaruhi untuk menghasilkan apa yang kita sebut sebagai “workplace dynamics”.
“Mungkin ada yang merasa happy karena dynamics-nya itu baik, optimal, sehingga membuatnya jadi bisa bertumbuh. Tapi di sisi lain, ada juga orang yang mungkin kesinambungan aspek-aspek kerjanya menghasilkan dynamics di tempat kerjanya yang tidak oke atau tidak nyaman,” tutur Novita.
Perubahan Menuntut Kita Beradaptasi
Lanskap dunia kerja saat ini sedang mengalami transformasi. Salah satu pergeseran paling nyata dipicu oleh masifnya integrasi Artificial Intelligence alias Akal Imitari (AI) yang semakin terdigitalisasi ke dalam ruang profesional maupun kehidupan sehari-hari.
Berbeda dengan pemanfaatan teknologi era awal 2000-an, AI kini telah melebur ke dalam ekosistem kerja, mulai dari memantik ide kreatif bagi komunitas penulis, mendampingi proses pemrograman (coding), sampai membantu efisiensi pengambilan keputusan sehari-hari.
Perubahan ini berjalan seiring dengan transformasi work arrangement usai pandemi COVID-19. Pola kerja yang dahulu mewajibkan kehadiran fisik kita di kantor kini bergeser menjadi sistem remote dan hybrid yang memberikan ruang fleksibilitas baru.
Bersamaan dengan fleksibilitas tersebut, standar kualifikasi tenaga kerja turut meningkat pesat. Lowongan kerja sekarang jarang hanya menuntut pekerja dengan satu kemampuan tunggal. Multiskilling dan daya adaptasi tinggi diperlukan agar pekerja dapat memiliki rentang tanggung jawab lebih luas dari peran-peran kerja konvensional.
Di sisi lain, jenjang karier semakin tidak linier. Latar belakang pendidikan formal di satu disiplin ilmu tidak lagi menjadi sekat kaku yang membatasi ruang gerak kita di dunia profesional.
Di dalam proses yang dinamis itulah berlaku siklus berulang. Novita menuturkan, pada setiap perubahan (change) yang terjadi, kita dituntut untuk menyesuaikan diri (adapt), mempelajari kapasitas baru (learn), dan senantiasa menjaga relevansi diri (keep up).
Meski pola tersebut terkesan bisa kita kendalikan, realitas lapangan acap kali menyajikan tantangan tak terduga, mulai dari keharusan reskilling, transisi peran, mobilitas geografis, hingga ekspektasi yang bertambah.
Dinamika itulah yang akhirnya menimbulkan tekanan pada diri kita untuk terus mengimbangi perkembangan orang lain atau lingkungan sekitar (the pressure to keep up), sebuah dorongan sekaligus beban tersirat untuk terus menjaga ketahanan dan produktivitas.
Apa yang kemudian bisa kita lakukan agar tidak kehilangan diri sendiri di tengah dunia kerja yang dinamis, tidak selalu mulus, dan sarat dengan pembelajaran?
Berkarya Tanpa Kehilangan Identitas Diri
Hidup akan selalu dipenuh oleh ekspektasi yang tiada habisnya. Selulus pendidikan dasar, kita lanjut bekerja atau kuliah dan mengeksplorasi peluang baru, belum lagi ekspektasi sosial untuk berkeluarga dan lain-lainnya.
“Kesannya kita harus keep up terus, tidak ada habisnya; setelah lulus sekolah, lanjut kuliah, magang, kerja, nikah, punya anak, dan seterusnya. The list goes on very long. Tapi tidak apa-apa, karena goal kita bukanlah membangun kehidupan tanpa tekanan,” tegas Novita.
Alih-alih membangun kehidupan yang sepenuhnya bebas tekanan, Novita menegaskan, kita bisa memilih untuk berkarya secara optimal tanpa sampai kehilangan identitas diri.
Manusia pun sebenarnya tidak dirancang untuk menanggung seluruh tantangan hidup seorang diri.
“Manusia sebagai makhluk sosial kadang-kadang sulit untuk berproses sendiri. Jadi tidak ada salahnya kalau kita kemudian membutuhkan bantuan orang lain, tidak harus profesional juga tidak apa-apa. Mungkin boleh mulai dari memberikan cerita kita ke orang terdekat kita, dan kita bisa dapat social support yang ada, yang optimal,” lanjut Novita.
Seiring waktu, kita bisa belajar mendefinisikan ulang cara memandang nilai diri (self-image). Target pekerjaan, deretan pencapaian, maupun ekspektasi dari atasan, bukan satu-satunya penentu utuhnya harkat diri kita.
“Itu bukan satu-satunya yang membangun self-image kita semua. You are more than what you do or what you feel,” tutur Novita.
Nilai dan tujuan hidup bisa jadi memberikan makna lebih besar daripada sekadar apa yang kita kerjakan atau yang kita rasakan.
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih