diajeng.id - Istilah burnout sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dalam konteks pekerjaan, burnout merujuk pada stres dan kelelahan yang dialami karyawan akibat tekanan pekerjaan.
Menariknya, rasa lelah juga bisa muncul ketika pekerjaan yang kita lakukan tidak ada stimulasinya; kotak email masuk kosong, pekerjaan sudah tuntas, tidak ada penugasan yang menumpuk, kantor sudah sepi. Apa ini juga pertanda kamu sedang burnout?
Apabila kamu mengalami hal di atas, bisa jadi yang kamu rasakan adalah rust-out. Meski burnout dan rust-out sama-sama dapat menguras energi secara emosional dan menurunkan kesejahteraan psikologis, penyebab keduanya sangatlah berbeda.
Mengenal Lebih Dekat Apa Itu Rust-Out
Dilansir Mindtools, istilah rust-out pertama kali dicetuskan oleh psikoterapis Paula Coles untuk menggambarkan kebosanan kronis akibat tidak terpakainya keterampilan dan bakat unik seseorang dalam pekerjaannya, kurangnya kesempatan untuk bertumbuh, hingga membuat seseorang jadi merasa enggan dan takut saat mendapatkan tugas repetitif yang menguras krativitas serta pikiran.
Rust-out bisa diibaratkan sebagai proses pengaratan atau membusuk, sehingga potensi terbaik seorang talenta tak bisa digunakan lagi.
Dalam dunia kerja, fenomena ini merujuk pada penurunan vitalitas profesional ketika keterampilan, bakat unik, dan potensi seseorang tidak dimanfaatkan secara optimal.
Rust-Out vs. Burnout: Apa Bedanya?
Meski terdengar mirip, terdapat perbedaan signifikan antara burnout dan rust-out, yaitu tingkat stimulasi dan tuntutan kerja.
Burnout dipicu oleh overstimuasi atau kondisi terlalu banyak beban kerja dan tuntutan lainnya. Misalnya, pekerja dihadapkan pada jam kerja yang panjang, beban tugas berlebihan, serta tekanan tinggi tanpa waktu pemulihan yang cukup.
Sementara rust-out disebabkan oleh understimulation atau kondisi kerja minim bahkan tak ada. Rust-out muncul karena tantangan yang hampir tak ada, kurangnya ruang untuk tumbuh, dan pengulangan tugas yang membosankan.
Pekerja yang mengalami rust-out biasanya tetap terlihat kompeten, produktif, dan berhasil memenuhi target perusahaan. Namun di balik kinerja yang stabil tersebut, mereka bekerja secara otomatis tanpa dorongan semangat dan merasa semakin berjarak dari pekerjaannya.
Rust-out tidak selalu mudah terdeteksi dari luar karena sering terselubung di balik reputasi karyawan yang tanggap.
Gejala dan pola kemunculannya, seperti dijelaskan situs Fast Company, meliputi gejala emosional, yang ditandai dengan rasa cemas, lekas marah, lesu, serta kecenderungan menunda-nunda pekerjaan (procrastination) akibat hilangnya motivasi.
Selain itu, orang-orang ini juga bisa dikatakan masuk pada kelompok rentan, seperti lulusan baru yang merasa perannya terlalu terbatas, manajer tingkat menengah yang terjebak rutinitas, hingga pekerja senior yang telah berada di posisi yang sama selama 7-9 tahun (seven-year itch).
Apa yang Bisa Dilakukan Jika Mengalami Rust-Out?
Kalau kamu merasa sedang mengalami rust-out, ada beberapa langkah praktis yang dapat diambil untuk memulihkan kembali dorongan dan semangat untuk bekerja.
Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan, menurut Greater Good, adalah dengan mengevaluasi diri dan tanyakan beberapa pertanyaan, mulai dari:
- Apakah kamu merasa puas dengan peran yang dijalani saat ini di tempat kerja?
- Apakah kamu memiliki kesempatan untuk memanfaatkan bakat yang ada?
- Apakah kamu merasakan adanya makna dalam peran tersebut?
- Adakah cara untuk menyegarkan kembali semangat kerja di dirimu? Jika ada, seperti apa bentuknya, dan bisakah kamu mendiskusikan hal ini dengan atasanmu?
Selanjutnya, lakukan juga audit energi. Petakan aktivitas kerja kamu ke dalam tiga kategori: energy suckers (menguras energi), energy stallers (netral), dan energy surgers (membangkitkan kreativitas dan semangat).
Kemudian, terapkan prinsip dump, delegate, or outsource. Tinggalkan tugas-tugas yang tidak lagi memberi nilai tambah (dump), delegasikan ke anggota tim (delegate), atau alihkan pekerjaan rutin tertentu (outsource).
Kamu juga perlu mengadvokasi bakat dan job crafting. Lakukan komunikasi terbuka dengan atasan mengenai potensi unik yang kamu miliki. Diskusikan peluang untuk merancang ulang peran kerja (job crafting) agar lebih sesuai dengan nilai-nilai pribadi dan kekuatan dirimu.
Yang terakhir, pertimbangkan arah karier. Jika nilai-nilai pribadi tidak lagi sejalan dengan perusahaan tempatmu bekerja dan tidak ada perbaikan setelah melakukan advokasi, pertimbangkan untuk mencari peluang atau transisi karier yang baru.
Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih