diajeng.id - Buku latihan soal UTBK-SNBT tergeletak di meja, tepat di samping topi OSIS warna abu-abu.
Di dinding depan bagian atas, terpasang potret presiden dan wakilnya. Agak sedikit ke bawah, coretan spidol hitam “Welcome Back to School” memenuhi permukaan papan tulis.
Gambaran suasana ruang kelas SMA di atas bukan mozaik kenangan lawas alumni, melainkan latar tempat yang ada di game bernama Project: Jurit.
Project: Juri merupakan proyek lama dari masa kuliah Adinda Sutra, co-founder Afternoon Studio, game studio independen berbasis di Bandung.
Jatuh cinta pada dunia gaming sejak kecil, perempuan yang biasa disapa Dinda ini melompat lebih jauh dengan menjadi game developer.
Perjalanan Dinda tidaklah mudah. Di sepanjang proses tersebut, ia berjumpa dengan orang-orang yang mendorongnya untuk melampaui zona nyaman dan berjuang lebih keras.
Ditentang dan Berkarya
Ketika mengobrol dengan Diajeng pada Jumat (16/08), Dinda mengaku sang paman adalah sosok yang berjasa mengenalkannya pada jagat gaming.
Dinda lantas jatuh cinta dengan game zombie populer Resident Evil, yang alur ceritanya memberikan pengaruh cukup besar terhadap preferensinya dalam berkarya di kemudian hari.
"Waktu kecil aku kepikiran mau bikin game, terus dimarahin orang tua. Pokoknya kalau besar disarankan jadi dokter atau profesi lain yang terlihat lebih nyata kontribusinya. Karena buat mereka, game tidak ada gunanya. Jadi aku kubur mimpiku dari kecil," tawa Dinda saat mengenang masa kanak-kanak.
Selulus SMA, Dinda melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Sayang, perempuan asal Bandung ini belum juga diterima di program-program yang telah didaftar.
Ketika diselimuti kebingungan untuk melanjutkan pendidikan di mana, ibunda yang sebelumnya menentang hobi Dinda justru melakukan hal tak disangka.
Lulus pada tahun 2019, Dinda menyusun Project: Jurit untuk proyek tugas akhir di kampus. Jadi, butuh waktu enam tahun bagi game ini sampai akhirnya disempurnakan dalam kerja sama tim dan diperkenalkan kepada publik.
Game Zombie dan Bullying
Satu jenjang pendidikan belum membuat Dinda berpuas diri.
Ia lantas melanjutkan kuliah S-1 di Institut Teknologi Bandung (ITB), mengambil jurusan Seni Kriya. Sosok penuh senyum ini berterus terang, jurusan di ITB sedikit menyimpang dari minat awalnya di dunia game.
Setelah lulus untuk kedua kali, Dinda bekerja di sebuah digital agency. Pekerjaannya tidak jauh dari pembuatan desain aset untuk motion graphic.
“Tapi rasanya hampa aja gitu. Setiap hari pulang jam lima, kalo ada revisi dikerjakan saat itu juga. Waktu itu aku gak main game sama sekali,” aku Dinda.
Gayung bersambut, digital agency yang membawahinya setuju untuk membangun Afternoon Studio.
Project: Jurit adalah proyek game pertama yang Dinda tekuni sejak 2024. Ia didapuk sebagai developer sekaligus desainer.
Video trailer-nya sudah dirilis oleh Afternoon Studio pada April lalu. Sebentar lagi, game-nya akan segera dirilis di layanan distribusi dan toko game digital, Steam.
Tak disangka, pengalaman menempuh pendidikan di dua konsentrasi mata kuliah yang berbeda secara tidak sadar membantu karier Dinda tumbuh bersama Afternoon Studio.
Melalui imu seni kriya, Dinda belajar membuat desain baju dengan teknologi 3D yang ia ibaratkan bak “menjahit secara digital”.
Project: Jurit dan Bullying
Menggunakan latar SMA di Bandung, Project: Jurit sedari awal diproyeksikan sebagai game naratif.
Ceritanya merupakan simulasi saat zombie menyerang Bumi dan masuk ke sekolah-sekolah melalui sebuah virus misterius dari cacing.
Dengan alat-alat yang tersedia, para murid yang terkunci di sekolah harus berusaha meraih kemenangan seiring zombie mulai menjangkiti satu persatu orang di dalamnya.
Yang membuat proyek game ini semakin menarik, Dinda dan kawan-kawan menyediakan multiple-ending.
Tak hanya itu. Agar semakin menantang, jajaran mayat hidup akan bertransformasi dalam dua fase dengan penambahan kekuatan.
Penggunaan sekolah sebagai tulang punggung cerita Project: Jurit bukan hanya agar pemain ikut bernostalgia.
“Korban bully cenderung malas berangkat ke sekolah, karena pasti akan di-bully, diledekin, diolok-olok,” tutur Dinda.
“Jadi aku pikir, bagaimana kalau ada wabah virus, terus orang yang nge-bully ikut jadi zombie…” lanjut Dinda, yang mengaku bahwa karakter zombie di Project: Jurit ini muncul dari rasa ketidaksukaannya pada orang-orang yang melakukan perundungan.
Ketika Perempuan di Dunia Game Bersolidaritas
Menggeluti dunia game sejak lama, bukan berarti Dinda kebal dengan pelecehan dan kekerasan verbal dari gamer cowok yang rata-rata adalah stranger.
Kejadian memprihatinkan yang tidak hanya satu-dua kali membuat Dinda dan gamer perempuan lain bersolidaritas, langkah yang setidaknya dimulai secara daring.
Momen bertemu dengan gamer dan developer perempuan adalah anugerah bagi Dinda yang kerap berada di ekosistem game yang maskulin.
Mereka memutuskan untuk membentuk ruang aman dengan saling bercerita, berkeluh-kesah, serta berbagi tip dan trik saat menghadapi gamer lain yang kasar.
Puncaknya adalah ketika ia menghadiri acara yang diinisiasi oleh komunitas Women in Game, safe space untuk para perempuan di dunia game. Di forum tersebut, Dinda berkenalan dengan Riris Marpaung, sosok di balik WIG.
“Bu Riris adalah ketua Women In Game. Tokoh awal yang benar-benar aku kagumi. Beliau awalnya pustakawan di kampus, kemudian memutuskan untuk menekuni pembuatan game,” tuturnya.
Ikut andil dalam mendirikan Afternoon Studio, merilis Project: Jurit, menjadi face model untuk karakter Lila di AGNI: The Village of Calamity atas undangan sang developer, Leo Alvero. Itulah sedikit dari segudang pencapaian Dinda di tahun 2025.
Project: Jurit menjadi pembuktian Adinda Sutra bahwa kegigihannya berhasil memberikan warna baru di lanskap pengembangan game asli Indonesia.
Dinda tahu betul bagaimana rasanya menjadi perempuan yang dipandang sebelah mata di dunia game.
Maka dari itulah, untuk menjawab keheranan, tatapan tak percaya, atau komentar sinis lain, Dinda berkomitmen untuk semakin serius menekuni proyek-proyek pengembangan game.
Sukses selalu, Dinda!
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih