Menuju konten utama

Peran Beauty Educators dalam Rantai Keilmuan Industri Kecantikan

Sejak 2017, L’Oréal Indonesia memberikan pelatihan untuk guru, disebut Beauty Educators, melalui program Hairducation bekerja sama dengan Kemendikdasmen RI.

Peran Beauty Educators dalam Rantai Keilmuan Industri Kecantikan
Made Sumiati, guru tata kecantikan mempraktikkan teknik highlight mewarnai rambut pada acara yang diselenggarakan oleh L'Oreal Indonesia bertepatan dengan momentum World Teachers’ Day pada Selasa Selasa (27/10). Foto/Dok.L'Oreal Indonesia

diajeng.id - Keahlian di bidang tata rambut dan kecantikan bisa menjadi titik awal untuk merintis profesi maupun usaha baru.

Di balik keterampilan tersebut, ada peran penting seorang guru yang mengajarkan teknik, etika profesional, dan kesiapan mental menghadapi dunia kerja. Peran ini semakin berarti di tengah pertumbuhan industri kecantikan Indonesia yang pesat dan membutuhkan tenaga kerja yang kompeten terhadap perkembangan tren serta teknologi.

“Pendidik bisa come out in so many different forms. Kalau orang-orang melihat selama ini pendidik itu mungkin lebih ke guru, tapi tidak. Kalau buat kita definisi pendidik, it's beyond that. Jadi ada guru, trainer, coach, mentor, so it involves in many forms gitu. Dan tugas pendidik memang penting untuk memberikan pelajaran. Guru atau pendidik memang satu profesi yang bisa membantu murid-muridnya untuk menemukan profesi di dunia yang berbeda-beda,” tutur Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oréal Indonesia dalam acara Media Gathering “Beauty That Moves: World Teacher’s Day 2026” pada Selasa (27/10).

Sejak 2017, L’Oréal Indonesia menjalankan program Hairducation bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI (Kemendikdasmen). Program ini memberikan pelatihan bagi guru-guru SMK tata kecantikan terkait teknik mutakhir, inovasi produk, pemahaman standar keselamatan, hingga pelayanan konsumen.

Hingga sekarang, Hairducation telah melatih 88 guru dari 46 SMKN di berbagai daerah di Indonesia. Program ini berkontribusi dalam mempersiapkan lebih dari 4.200 lulusan yang siap untuk diserap ke dalam industri tata rambut profesional.

Indra Tanudarma, Head of Education Performance Professional Products Division L’Oréal Indonesia mengatakan bahwa industri tata rambut bergerak sangat cepat dengan standar teknis yang kian tinggi.

Program Hairducation memberikan ruang bagi para guru kejuruan untuk memperbarui kompetensi mereka. Ketika seorang guru memperoleh pemahaman teknis dan standar industri terkini, manfaat tersebut akan diturunkan kepada ratusan murid yang mereka didik setiap tahunnya dan mendukup terciptanya talenta masa depan yang siap bersaing.

“Jadi, peran seorang edukator, dalam point of view salon sebagai pelaku industri, itu sangat penting karena mereka harus keep up dengan perkembangan zaman, dengan produk teknologi yang baru, dengan segala macam perkembangan, update, trends, dan segalanya. Kemudian point of view industri terhadap sekolah, kita juga harus memberikan perhatian kepada tunas-tunasnya. Bahwa di sekolah kita tahu memang sudah ada yang membuat kurikulum, tetapi kita tahu juga bahwa ketika industri berjalan sebegitu cepatnya, apakah sekolah bisa meng-update kurikulumnya sebegitu cepat juga? Dan kita tahu itu pasti normal, misalnya ada gap antara sekolah dan industri. Nah, kita harus masuk untuk melatih para guru, supaya para guru juga bisa melatih murid-muridnya, sehingga mereka semua juga bisa mengikuti perkembangan zaman,” papar Indra.

Selain jalur vokasi formal, L’Oréal Indonesia turut memperkuat peran edukator komunitas lewat Beauty for a Better Life (BFBL) yang telah hadir sejak 2014.

Melalui 12 pusat pelatihan dan melibatkan 12 trainer yang berkolaborasi dengan lembaga sosial nirlaba, BFBL membekali para instruktur dengan kurikulum tata rambut dan rias berstandar internasional serta modul bimbingan sosial berbasis empati yang telah dijangkau oleh lebih dari 7,200 peserta.

Para peserta program BFBL merupakan perempuan yang menghadapi beragam kerentanan sosial dan ekonomi. Sebagian di antara mereka ada yang terpaksa putus sekolah, pernah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga mengalami pernikahan usia dini dan perceraian yang meninggalkan tantangan hidup tersendiri.

Magdalena Rospita, Corporate Affairs and Impact Director L’Oréal Indonesia memaparkan tiga peranan penting dari seorang beauty educator, yakni melatih dan empati, menyesuaikan ritme pembelajaran, memberikan pendampingan, menciptakan program kelas yang nyaman, dan memberikan dukungan serta kepercayaan diri kepada murid-muridnya.

“Biasanya di BFBL kami menyebutnya keluarga, jadi mereka percaya bahwa mereka bisa bangkit kembali, bangun dan menghadapi tantangan mereka. Kalau misalnya kami visit Training Center, atau bertemu alumni/peserta, mereka suka cerita bahwa waktu awal join mereka tidak mengerti concealer itu buat apa, atau tidak bisa gambar alis. Tapi setelah dilatih dengan ritme pembelajaran yang disesuaikan oleh para trainer, mereka bisa, dan tidak menyangka, bahwa mereka sekarang bisa ikut fashion show, jadi make up artist, dan lain-lain. Jadi itu mungkin tiga peranan yang sangat penting dari beauty educator. Para trainer di BFBL bukan cuma mengajarkan skill, tapi juga memberikan dukungan dan kepercayaan diri kepada para pesertanya,” tutur Magdalena.

Made Sumiati, guru tata kecantikan SMKN 3 Bogor, mengabdikan dirinya mengajar tata rambut di SMKN 3 Bogor. Ketertarikannya pada dunia kecantikan membawanya memperoleh beasiswa pemerintah untuk menempuh pendidikan sebagai calon guru kecantikan pada 1986. Sejak itu, Made mengabdikan diri untuk mengajar tata rambut hingga kini mendekati masa pensiun.

Saat pandemi, Made juga mencari cara agar ilmunya menjangkau lebih banyak orang. Made membuat materi presentasi dan video agar murid dapat terus belajar dari jarak jauh. Made juga menulis buku Pemangkasan dan Pewarnaan Rambut untuk Kelas XI yang telah memiliki ISBN dan digunakan oleh sejumlah guru di Indonesia.

Sebagai guru di sekolah negeri, Made menceritakan bagaimana keterbatasan anggaran berdampak langsung pada kelas praktiknya.

“Kalau dulu, meskipun dari sekolah pemerintah sudah ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), itu tetap belum cukup. Biaya operasional saja hanya pas untuk listrik, air, dan internet. Sekarang, dengan anggaran kosmetik yang berkurang drastis, praktik siswa terpaksa dikurangi. Kalau dulu untuk materi pewarnaan (color) mereka bisa praktik secara penuh sendiri-sendiri, sekarang harus berkelompok. Kami menyiasatinya seperti itu, tapi saya tetap tekankan pada penguasaan teknik, bukan seberapa banyak produk yang dihabiskan. Bahan kecantikan itu sangat mahal dan langsung habis pakai, tidak seperti busana yang kainnya masih bisa jadi baju,” ujar Made.

Dengan pengalaman 40 tahun berkecimpung di industri kecantikan, kesempatan belajar bersama L'Oréal kian memperkaya sudut pandang Made sebagai pendidik.

Made mendalami ilmu di balik teknik tata rambut, mulai dari anatomi rambut hingga proses kimiawi pewarnaan. Pengetahuan mendalam ini mengubah cara mengajarnya kepada murid-murid untuk tidak sekadar diminta menghafal langkah kerja, melainkan diajak memahami alasan di balik suatu teknik dan cara menyesuaikannya dengan kondisi fisik rambut yang dihadapi.

Header Beauty Calss L Oreal

Beaty educator dari program Beauty for a Better Life (BFBL) Achadiningtyas mempraktikkan cara membuat cepol praktis untuk wisuda. Foto/Dok.L'Oreal Indonesia

Achadiningtyas atau akrab disapa Aca (65), trainer untuk program Beauty for a Better Life (BFBL) di Training Center Cianjur, telah berkarya di industri kecantikan selama kurang lebih 45 tahun.

Aca memulai karier di salon pada usia 20 tahun, kemudian menjadi pengajar di berbagai lembaga kursus dan pelatihan, asesor sertifikasi kompetensi nasional di bawah Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

Tak hanya itu, Aca aktif sebagai Ketua Tiara Kusuma Kabupaten Cianjur. Sejak bergabung sebagai trainer BFBL pada 2015, Aca telah membantu melatih dan meluluskan sekitar 4.800 peserta.

Berlangsung selama empat bulan, program tata rambut BFBL konsisten melatih 30 peserta di setiap angkatannya. Kehadiran para trainer di sini memegang peran kunci dalam mentransfer keterampilan teknis secara mendalam.

Dengan kurikulum yang lengkap, mulai dari cutting, coloring, hingga smoothing, seluruh materi tersebut dipelajari secara menyeluruh oleh peserta selama masa pelatihan Beauty for a Better Life.

Berawal dari hobi, kecintaan Aca pada dunia tata rambut membuatnya tidak pernah berhenti belajar. Aca selalu antusias mengikuti berbagai pelatihan lanjutan, untuk kemudian menyerap dan membagikan kembali ilmu tersebut kepada murid-muridnya. Baginya, setiap pengetahuan yang diperoleh harus disebarkan seluas-luasnya, bukan sekadar untuk konsumsi pribadi.

"Karena itu berawal dari hobi, jadi saya jauh lebih semangat dan tidak pernah terputus. Dari hobi itu, saya terus menggali ilmu baru, misalnya ikut pelatihan lagi, lalu ilmunya saya terapkan kembali ke murid-murid. Saya memang ingin apa yang saya dapatkan bisa dibagikan lagi ke orang lain, tidak disimpan untuk diri sendiri,” kata Aca saat diwawancara oleh Diajeng Tirto.

Pendampingannya tidak selalu berhenti saat pelatihan selesai. Pemilik salon, termasuk alumni BFBL yang telah membuka usaha, kerap menghubungi Aca untuk meminta rekomendasi lulusan yang siap bekerja. Dengan demikian, pengalaman dan jaringan yang Aca bangun ikut membantu menghubungkan peserta dengan peluang berikutnya.

Bagi L’Oréal Indonesia, kedua program tersebut merupakan cara untuk mendukung orang-orang yang berada di balik proses belajar.

World Teachers’ Day menjadi kesempatan untuk melihat kembali kontribusi mereka. Setiap keterampilan yang diajarkan seorang guru dapat menjadi bekal bagi murid untuk mengambil langkah berikutnya. Ilmu itu pun akan terus bergulir selama para pengajarnya juga diberi ruang untuk tumbuh.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Syifa Khairunnisa Zahrah

diajeng.id - Binar
Kontributor: Syifa Khairunnisa Zahrah
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih