Menuju konten utama

Masa Depan Keberagaman Pangan Lokal di Tangan Orang Muda

Modernisasi ikut mengubah cara pandang masyarakat terhadap pangan lokal, yang kini kerap dianggap makanan kuno dan tak sejalan dengan gaya hidup kaum muda.

Masa Depan Keberagaman Pangan Lokal di Tangan Orang Muda
Ilustrasi kolase retro dengan paella, sayuran, dan makanan laut. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Kebiasaan mengonsumsi makanan yang seragam dan anggapan bahwa pangan lokal identik dengan kemiskinan membuat potensi tersebut belum dimanfaatkan dengan baik.

Dalam webinar New Pangan Direction: Orang Muda Jaga Pangan, Jaga Masa Depan pada Selasa (2710), edukator diversifikasi pangan Manik Eka Hidayati dan pendiri sekaligus CEO Agradaya, Asri Sarawasti, membahas pentingnya kaum muda untuk mengenali dan menjaga keberagaman sumber pangan di sekitar.

Manik menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat seiring modernisasi. Konsumsi nasi semakin mendominasi, padahal setiap daerah memiliki sumber pangan lokal yang sesuai dengan kondisi geografis dan kebutuhan gizi masyarakatnya.

Indonesia memiliki beragam sumber karbohidrat, seperti sagu, singkong, jagung dan berbagai jenis umbi-umbian yang belum digunakan dengan baik.

Menurut Manik, pangan lokal bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan makan. Pangan lokal juga mengandung tradisi, pengetahuan tentang alam, dan hubungan sosial yang diwariskan antargenerasi.

Manik mengambil contoh tradisi gunungan di Yogyakarta sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan tradisi bakar batu di Papua yang memperlihatkan semangat gotong royong serta berbagi melalui makanan.

“Jadi makanan bukan cuma penyalur, tapi ternyata juga bisa menjadi bagian dari hubungan sosial,” ujar Manik.

Mengenali Kembali Pangan Lokal

Pangan lokal menyimpan pengetahuan masyarakat dalam menjaga hubungan mereka dengan alam, “Kalau masyarakat Jawa, mereka mengenal Pranoto Wongso untuk menentukan waktu bercocok tanam.”

Manik menjelaskan bagaimana masyarakat Jawa memiliki kalender pertanian untuk membantu menentukan waktu bercocok tanam berdasarkan pola musim.

Pengetahuan semacam itu menunjukkan bahwa masyarakat sejak dulu telah mengamati perubahan alam dan menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi lingkungan mereka.

Namun, menurut Manik, modernisasi ikut mengubah cara masyarakat memandang dan mengonsumsi pangan. Manik melihat adanya kecenderungan penyeragaman bahan pangan, seolah-olah masyarakat dari Sabang sampai Merauke hanya mengandalkan nasi untuk konsumsi sehari-hari

Pengalaman Manik ketika tinggal di Mentawai, Sumatera Barat, memperlihatkan bagaimana penyeragaman pangan dapat memengaruhi cara masyarakat memandang makanan lokalnya.

Manik mengingat pengalamannya mengunjungi sebuah desa yang harus ditempuh melalui perjalanan panjang menggunakan perahu dan berjalan kaki selama delapan jam.

Setibanya di sana, Manik disambut dengan ucapan yang masih diingatnya hingga kini, “Maaf ya, Mbak, kami nggak punya nasi.”

Ucapan tersebut membuat Manik merasa sedih sekaligus marah. Menurutnya, penuturan tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat yang secara tradisional tidak mengonsumsi beras sebagai makanan pokok mulai merasa rendah diri karena tidak dapat menyajikan nasi kepada tamu.

Padahal, setiap wilayah memiliki komoditas pangan yang tumbuh sesuai dengan karakteristik alam dan budaya setempat.

Selain itu, tuntutan hidup praktis juga menjadi tantangan dalam mengembangkan konsumsi pangan lokal. Kegiatan memasak kerap dianggap merepotkan sehingga tidak sedikit dari kita yang lebih memilih memesan makanan secara daring.

Bagi Manik, perubahan kebiasaan ini berpotensi menjadi peluang untuk mengembangkan inovasi pengolahan pangan lokal yang lebih praktis.

Manik mengambil contohnya dari usaha rumahan di Yogyakarta yang mengolah berbagai jenis umbi-umbian menjadi makanan beku. Kelompok perempuan tani di Yogyakarta dan Magelang juga mengolah hasil panen menjadi produk kering, seperti gatot dan tiwul, untuk memperpanjang masa simpan.

Tantangan lain terletak pada persepsi masyarakat yang menganggap pangan lokal sebagai makanan kuno. Manik sering menemukan cerita orang-orang yang meninggalkan makanan-makanan yang dulunya dikonsumsi orang tua mereka.

Pangan yang dianggap kuno sebenarnya berpotensi menjadi bagian dari masa depan. “Yang dianggap makanan zaman dulu itu sebenarnya bisa jadi makanan untuk masa depan, terutama melalui inovasi pengolahan sumber pangan,” ujar Manik.

“Perlawanan dapat dimulai dari piring masing-masing, pilihan bahan makanan yang dikonsumsi bisa menjadi langkah awal untuk menjaga keberagaman pangan,” tegas Manik.

Manik mengajak masyarakat untuk mulai melakukan perubahan dari kebiasaan makan sehari-hari. Artinya, kita tidak harus selalu menunggu perubahan kebijakan untuk kembali mengenal keberagaman pangan lokal.

“Karena keberanian orang lokal itu juga dimulai dari hal-hal sederhana, mereka biasanya mulai dengan menanam bahan pangan di rumah dulu, atau mencari bahan yang tersedia di pasar tradisional,” tukas Manik.

Membangun Ekosistem untuk Petani

Selain mendorong perubahan pola konsumsi, upaya menjaga pangan lokal membutuhkan sistem yang memungkinkan petani memperoleh manfaat ekonomi dari hasil panennya.

Asri Saraswati membahas persoalan ini melalui pengalaman mengembangkan Agradaya, usaha yang mengolah hasil alam dan rempah-rempah dengan melibatkan petani.

Petani desa, kata Asri, biasanya tidak hanya mengandalkan satu komoditas. Mereka dapat menanam jahe, kunyit, dan temulawak, serta mengolah hasil lain menjadi produk seperti gula kelapa.

Namun, beragamnya hasil panen tidak selalu diikuti ketersediaan saluran penjualan yang memadai. “Ya sangat wajar kalau petani-petani dibilangnya di desa itu jadinya miskin. Karena mereka nggak punya ekosistemnya,” ujar Asri.

Asri berpendapat, persoalan tersebut tidak selalu muncul karena petani kekurangan hasil bumi. Mereka biasanya malah kesulitan memperoleh penghasilan karena tidak memiliki akses pengolahan dan pasar yang mampu menyerap komoditasnya.

Sementara persyaratan distribusi dan pembayaran dari pasar ritel modern dapat menjadi kendala bagi petani yang memiliki keterbatasan modal. Petani harus memenuhi persyaratan perizinan dan menghadapi sistem pembayaran dengan tempo yang panjang agar dapat memasok produk-produknya ke jaringan seperti minimarket.

Asri pun menekankan pentingnya membangun rantai pasok yang mampu menghubungkan petani dengan pasar. Menurutnya, upaya ini tidak cukup hanya dengan membeli hasil panen, tetapi juga perlu mencakup pendampingan petani, proses pengolahan, hingga pemenuhan standar kualitas yang dibutuhkan pembeli.

“Petani dan pengrajin di desa butuh ekosistem yang bisa menerima hasil panennya,” ujar Asri.

Asri menyebut bahwa persoalan yang lebih mendasar tidak bisa dipisahkan dari kecenderungan industri di dalam negeri untuk mengandalkan penjualan bahan mentah, sementara proses pengolahan yang dapat meningkatkan nilai jualnya berlangsung di tempat lain.

“Jadi, yang terjadi adalah Indonesia atau desa-desa di Indonesia cuma jadi pemasok bahan baku aja. Dan marginnya itu jelas paling tipis-tipis di situ kalau kita main di bahan baku,” ujar Asri.

Melalui Agradaya, Asri berupaya mendorong pengolahan hasil bumi di tingkat desa agar komoditas yang dijual tidak hanya berupa bahan mentah. Harapannya, hasil panen dapat diproses menjadi produk setengah jadi atau produk akhir sehingga masyarakat desa memiliki peran lebih besar dalam rantai produksi.

Menjaga pangan lokal membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama generasi muda. Selain mengonsumsi pangan yang lebih beragam, anak muda jugalah yang lebih memiliki kapasitas untuk mendukung inovasi pengolahan dan membuka akses pasar bagi petani.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Arrazani Hafidza

diajeng.id - Binar
Kontributor: Arrazani Hafidza
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih