Menuju konten utama

Doorbell Friend dan Kebersamaan yang Tak Perlu Direncanakan

Hubungan dengan doorbell friend tidak memerlukan perencanaan. Mereka bisa datang ke rumah kita sewaktu-waktu, langsung duduk untuk mengobrol santai.

Doorbell Friend dan Kebersamaan yang Tak Perlu Direncanakan
Header Diajeng Doorbell Friend. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Menjaga hubungan pertemanan agar tetap langgeng kadang-kadang rasanya seperti menambah satu catatan lagi dalam checklist kita di tengah padatnya aktivitas sehari-hari.

Mungkin kamu pernah merasa kewalahan untuk mengatur jadwal berbulan-bulan sebelumnya hanya untuk sekadar minum kopi bersama teman atau sahabat.

Di tengah fenomena "catch-up fatigue" atau kelelahan akibat ritual kejar-kejaran kabar ini, mungkin kita bisa melongok pada pertemanan dengan "doorbell friend". Pertemanan ini merujuk pada konsep hubungan yang sederhana, kasual, dan tanpa beban.

Mengenal Apa Itu "Doorbell Friend"

Dalam artikel PopSugar "Why "Doorbell Friends" May Be the Most Important Relationship You Have" yang dipublikasikan pada April 2026 disebutkan bahwa istilah doorbell friend dipopulerkan oleh pakar pertemanan Matt Ritter.

Simpelnya, doorbell friend adalah teman yang bisa datang ke rumah kita sewaktu-waktu untuk duduk santai bersama kita. Kehadirannya spontan, seperti sesuatu yang lumrahnya terjadi, alih-alih gangguan atau hal yang mengagetkan.

"Ini adalah bentuk pertemanan yang selaras dengan ritme hidupmu, kamu pun tidak perlu membuat waktu khusus untuk bisa bertemu dengan temanmu," ujar Ritter.

Menurut Ritter, pertemanan dengan doorbell friend tidak membutuhkan perencanaan matang atau janji pertemuan di kafe/restoran.

"Menurut pengalamanku, jauh lebih mudah untuk mengajak orang bergabung dalam aktivitas yang memang sudah ada dalam keseharian kita, daripada harus menciptakan momen khusus hanya untuk bertemu, karena caranya lebih mudah, pertemuan pun bisa terjadi lebih sering," jelas Ritter lagi.

Solusi Kelelahan Sosial

Melansir Mamamia, dalam hubungan pertemanan antara orang dewasa, kita acap kali terjebak dalam "keharusan untuk saling mengabari". Namun, ketika akhirnya perjumpaan langsung terjadi, umumnya waktu sering dihabiskan untuk mencentang daftar update hidup, entah itu mulai dari membahas masalah pekerjaan hingga cerita keluarga, yang cenderung banyak menyedot energi.

Sebaliknya, Ritter menekankan bahwa ikatan emosional yang kuat tidak dibangun dari intensitas acara besar di akhir pekan, melainkan dari konsistensi interaksi kecil di hari biasa, seperti telepon singkat 15 menit atau makan piza bersama pada Selasa malam di dapur rumah.

"Alih-alih berfokus pada pertemuan yang 'sempurna' yang biasanya malah sering tertunda, lebih baik kamu berfokus pada kemudahan untuk saling bertemu," ucap Ritter.

Ritter menambahkan, bahwa pertemanan doorbell friend cenderung rendah hambatan, tidak menuntut, dan menyatu langsung ke dalam alur kehidupan sehari-hari.

Tertarik mencoba menjalaninya? Rittel menyarankan untuk mulai mengajak orang lain masuk ke dalam aktivitas keseharianmu. Contohnya, menelepon untuk sekadar menanyakan kabar, mampir ke rumahnya sambil membawakan termos berisi teh buah kesukaannya.

"Kita semua ingin dilihat, tapi lebih dari itu, kita ingin benar-benar dikenal. Tidak ada yang membuat kita merasa lebih dihargai daripada saat ada orang lain yang tahu persis apa minuman favorit kita," terang Ritter.

Lalu, ketika melakukan hal-hal tersebut untuk teman-temanmu, pastikan pula mereka tahu bahwa mereka juga bisa berbuat hal yang sama untuk kamu.

"Ini menghapus batasan tak terlihat yang selama ini hanya ada di dalam pikiran kita. Orang akan merasa lebih dekat denganmu hanya dengan mengetahui bahwa mereka memiliki akses tersebut, meskipun mereka tidak selalu memanfaatkannya," kata Ritter.

Manfaat Psikologis dan Regulasi Sistem Saraf

Dari sudut pandang psikologi, keberadaan doorbell friend memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesejahteraan mental.

Dinukil Real Simple, psikolog Dr. Nicole Andreoli dan terapis Tovah Means, LMFT, menjelaskan bahwa doorbell friend menciptakan ruang aman emosional.

Bersama mereka, kita tidak perlu berpura-pura menjadi tuan rumah yang sempurna, tidak perlu merapikan rumah secara mendadak, dan bisa menjadi manusia yang tidak sempurna apa adanya.

Dr. Andreoli menyebutkan bahwa manusia tidak dirancang untuk isolasi sosial yang berkepanjangan.

“Ada penelitian yang menunjukkan bahwa keterputusan sosial dan isolasi yang berlangsung lama dapat memberikan dampak fisik yang setara dengan merokok 15 batang rokok sehari,” jelas Andreoli.

Selain itu, Tovah Means menambahkan bahwa hubungan yang aman secara emosional membantu meregulasi sistem saraf.

Kita tidak perlu berada dalam mode bertahan diri atau berusaha menyenangkan orang lain (people-pleasing), sehingga tubuh dan pikiran dapat benar-benar bersantai.

“Kita semua pasti pernah menghadapi masa-masa sulit, dan seorang teman yang selalu hadir untuk kamu akan membuat krisis apa pun terasa lebih mudah untuk dihadapi,” kata Means, “Mengetahui bahwa ada orang yang selalu ada untukmu adalah hal yang dapat mengubah hidup."

Dinamika ini dahulu sering kita lihat di serial televisi klasik seperti Friends atau Seinfeld, sebelum akhirnya bergeser menjadi teman video call via WhatsApp atau aplikasi perpesanan lainnya di era digital masa kini.

Perlukah Kita Punya Doorbell Friend?

Sebenarnya, kita tidak harus punya doorbell friend. Kita pun tak harus menjadi doorbell friend.

Hubungan tingkat ini membutuhkan pondasi kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun, bukan secara instan.

Memiliki satu atau dua doorbell friend memang bisa membantu menjaga kesehatan mental, akan tetapi penerapannya tetap memerlukan batasan (boundaries) dan kenyamanan bersama.

Kita tidak bisa mengganggu kehidupan orang lain setiap saat. Kunci dari dinamika pertemanan doorbell adalah saling menerima kondisi masing-masing, baik saat sedang memiliki energi penuh maupun saat sedang lelah.

Bagi kamu yang ingin membangun hubungan ini, mulailah dengan menurunkan ekspektasi pertemuan, berikan izin terbuka kepada sahabat tepercaya untuk datang kapan saja, atau sesekali menyapa tetangga sekitar dengan tetap menghormati privasi satu sama lain.

Artikel lainnya seputar pertemanan juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait PERTEMANAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih